Berita Utama

Belajar Sejarah, Kita Belajar Masa Lalu

Penjabat Gubernur Maluku Zeth Sahuburua, membawa obor perjuangan Pahlawan Nasional Thomas Matulessy atau Kapitan Pattimura saat peringatan Hari Pahlawan Nasional Kapitan Pattimura ke-201 di pelataran Benteng Duurstede, Pulau Saparua, Selasa 15 Mei 2018.

– Dari Peringatan Hari Pattimura Ke 201 Di Saparua

RakyatMaluku.comPERINGATAN 201 Tahun pahlawan na­sio­­nal asal Maluku, Kapitan Pattimura, tepat tanggal 15 Mei 2018, di Kota Saparua, Kecamatan Saparua, Kabupaten Maluku Tengah, tepatnya di lapangan Merdeka Saparua, persis di depan Benteng Duurstede.

Upacara peringatan perjuangan Kapitan Pattimura ke-201 ini, diawali peletakan karangan bunga di monumen Kapitan Pattimura oleh Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Maluku, Zeth Sahuburua selaku Kapitan Manawa Kabaresi, dilanjutkan pembacaan sejarah perjuangan pahlawan Pattimura.

Walikota Ambon Richard Lohenapessy, membakar obor saat renungan suci peringatan Hari Pahlawan tersebut di Tugu Kapitan Pattimura yang berada di Pattimura Park.

Selain dipenuhi masyarakat, upacara yang berlang­sung khidmat ini, dihadiri juga sejumlah pejabat di daerah ini diantaranya, Walikota Ambon, Richard Louhenapessy, Bupati Maluku Tengah, Abua Tuasikal, serta sejumlah pimpinan umat beragama, pimpinan TNI-Polri dan para Latupati.

“Sejarah adalah bagian dari masa lalu. Dengan belajar sejarah, kita belajar masa lalu yang akan me­numbuhkan harapan untuk masa depan. Dan setiap masa depan harus diawali dengan perjuangan,’’ ujar Plt Gubernur Maluku, Zeth Sahuburua dalam ama­natnya.

Sedikitnya ada tujuh pesan utama yang disam­paikannya dalam hari bersejarah ini. Diantaranya, per­tama, dengan merayakan 201 tahun perjuangan Kapitan Pattimura, kita akan mengenang semangat yang begitu gigih dalam menegakan nilai-nilai kebenaran demi Indonesia Merdeka.

‘’Oleh karena itu, masyarakat di Maluku harus ba­hu membahu, sebab semuanya telah dilebur dalam semangat pela-gandong, Kalwedo dan lainnya,’’ tuturnya.

Kedua, kata Sahuburua, Pattimura adalah tanda sejarah, sebab itu, inspirasinya harus menjadi kekuatan dan simbol perlawanan orang Maluku dalam segala bentuk ketidakladilan dan penindasan.

“201 tahun lalu, sosok kebanggaan kita itu, telah berhasil menembusi kokohnya tembok-tembok ke­kua­saan serta monopoli ekonomi Kolonial yang menyengsarakan dan memiskinkan rakyat. Arah perjuangan Kapitan Pattimura sangat jelas yaitu perjuangan luhur membela harga diri kemanusiaan rakyat Maluku yang terinjak-injak; Sang Pahlawan tidak tega melihat hak ulayat rakyatnya dirampas semena-mena; kekayaan negeri dieksploitasi untuk kepentingan penjajah sehingga kemiskinan merajalela di mana-mana,’’ paparnya.

Untuk itu, sebut Sahuburua, jiwa dan semangat Pattimura adalah jiwa dan semangat Maluku yang tidak gentar oleh tantangan apa pun; dan tidak mundur untuk membela harga dirinya.

“Jiwa dan semangat itu membuktikan bahwa harus ada keberanian untuk membangun keadilan, kejujuran, cinta kasih, perdamaian, dan ‘hidop orang basudara’ yang tidak boleh terkoyak lagi,’’ tandasnya.

Dia katakan, apa yang disampaikan Presiden Soekarno tempo dulu, bahwa Indonesia tanpa Maluku bukanlah Indonesia, adalah bentuk pengajuan akan pentingnya negeri ini. Mungkin saja, jika tidak ada perjuangan Pattimura, mungkin tidak ada Indonesia Merdeka.

“Karena itu, jangan lagi kita mereduksi pikiran-pikiran yang menghambat kemajuan negeri ini,’’ ingatnya.
Dia melanjutkan, pesan ketiga, jadilah prajurit-prajurit perdamaian dengan cinta pada kemanusiaan dan persaudaraan, sebab kemajemukan yang diper­tahankan Pattimura adalah kemajemukan yang meng­hidupkan bangsa. “Bersatu manggurebe maju, demi masa depan yang baru,’’ imbuhnya.

Keempat, tambahnya, meskipun Kapitan Patti­mura sudah tidak ada, tetapi semangatnya harus tetap hidup dalam sanubari kita. Nasionalisme yang diperlihatkan bukanlah ansih masyarakat Maluku tetapi soal Indonesia Merdeka.
“Dengan demikian kita harus menjadi contoh di bangsa ini, terutama tentang kehidupan yang maje­muk,’’ sebutnya.

Kelima, peran Pattimura adalah refleksi tentang kapitan atau raja yang membela rakyat dan negerinya dari rampasan pihak asing. ‘’Berkaitan dengan refleksi ini, maka pemimpin yang besar di tanah Maluku adalah dia yang menjadikan rakyatnya kaya dari hasil tanah, laut, bumi, hutan dan segala yang ada di perut bumi,’’ ucapnya.

Ketujuh, kepada pattimura-pattimura muda di negeri ini untuk turut menjaga stabilitas menyong­song pesta demokrasi di Maluku, Kabupaten Maluku Tenggara dan Kota Tual, dengan membangun persau­daraan yang rukun dan harmonis agar pemimpin baru yang lahir nanti adalah pemimpin besar yang membuat negeri ini terhormat.
“Mudah-mudahan kebijakan pemerintah da­lam membangun masyarakat yang sejahtera dan berkualitas dapat menemui jawaban dan rentan waktu yang telah ditetapkan,’’ tandasnya. (YAS)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Populer

To Top