NEWS UPDATE

Pelajaran Dari Shafiq Pontoh

Oleh M. Ikhsan Tualeka
Direktur Beta Kreatif


KOMENTAR
Shafiq Pontoh setelah ramai dan viral di media sosial (med­sos) di Kompas TV beberapa wak­tu lalu akhirnya kembali menggelar diskusi lanjutan di stasiun tv yang sama di Program Ngopi, (28/8/18), dengan tajuk ‘Geliat Digital di Ambon’. Selain saya, hadir pula Walikota Ambon Richard Louhenapessy, Pendeta Jacky Manuputty, Fasilitator Ambon Bergerak Burhan Borut, dan adik pemanjat bendera dari Aru Reza Mangar.

Masing-masing narasumber menyampaikan pendapatnya dengan harapan publik tanah air dapat lebih memahami realitas objektif pengguna digital atau medsos di Maluku, khususnya Kota Ambon. Diskusi ini antara lain juga sebagai medium klarifikasi dan permintaan maaf dari Shafiq atas komentarnya yang memantik kemarahan warganet Maluku dalam Ngopi edisi minggu lalu.

Kala itu Shafiq mengatakan; “jelas-jelas anak muda (Ambon) semua saya tanyakan ada yang pakai FaceBook (FB) ngak? Cekikan semua, mama bapak saya yang pakai, ada yang pakai twitter ngak? Celingukan seperti tanya benda apa? Instagram? Sedikit yang angkat tangan, Line? Tidak ada juga, Oh ternyata banyak yang pakai Blackberry Messenger”.

Statemen itu membuat warganet marah dan kesal dengan Shafiq karena sebagai seorang pakar. Ia tidak menggunakan data yang akurat dalam argumentasinya. Lebih parah lagi, tanpa data yang akurat Shafiq membuat kesimpulan tidak hanya kualitatif tapi juga kuantitatif, antara lain terlihat dalam kesimpulannya penguna medsos di kalangan anak muda Kota Ambon yang sedikit dalam jumlah, dan yang menggunakan pun tidak update atau kudet dengan platfom medsos yang baru. Padahal sampelnya hanya satu kelas entah kapan dan di mana.

Pernyataan Shafiq dalam konteks yang lebih jauh makin mempertegas stigma dan stereotype ketertinggalan dan keterbelakangan orang Indonesia Timur khususnya Maluku. Di tengah anak-anak mudanya sedang melawan dan menghilangkannya. Ini yang sejatinya menjadi alasan kuat kemarahan kolektif warganet, apalagi ditambah dengan gesture rekan-rekan di Studio Ngopi kala itu juga terkesan ‘melecehkan’ saat merespon komentar Shafiq.

Padahal pada faktanya pengguna medsos di Maluku khususnya Kota Ambon cukup masif, ambil contoh pengguna FB aktif perbulan dari data yang diambil real time dari FB mencapai lebih dari 400 ribu pengguna, jauh lebih banyak dari jumlah penduduk Kota Ambon yang hanya 375 ribu. Ini mungkin juga dikarenakan Ambon sebagai ibu kota provinsi, dan juga kota transit, sehingga banyak pengguna medsos yang hilir-mudik di Ambon, membuat traffic-nya makin tinggi.

Bukan hanya secara kuantitas atau jumlah, secara kualitas juga sangat terlihat, khususnya dalam aktivitas sosial, misalnya ada Paparisa Ambon Bergerak, ekosistem pembangunan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) di Ambon, yang pengaruhnya luar biasa dalam peningkatan kapasitas anak muda Kota Ambon dan itu juga digalang lewat sosial media. Termasuk komunitas lainnya yang juga mulai tumbuh dan berkembang.

Ada juga sejumlah kasus sakitnya warga yang jadi viral oleh warganet, seperti adik Nahla, sekira bulan Maret 2017, tak tertangani secara medis, tapi dengan penggalangan solidaritas lewat medsos oleh warganet di Maluku, khususnya yang tinggal di Kota Ambon akhirnya ada biaya hingga Nahla bisa dibawa berobat ke Jakarta. Belakangan meski Nahla tak tertolong, tapi kekuatan medsos sudah mampu menunjukan efektivitasnya dalam menggalang solidaritas dan kepedulian.

Begitu pula dengan gerakan Save Ema, untuk mendesak agar segera ada pembangunan jalan menuju ke Desa Ema di Kota Ambon, yang memang lama tak pernah ada, dan akhirnya dapat terwujud. Terakhir adik kita Reza Mangar pemanjat tiang bendera untuk selamatkan merah putih dari Aru, bisa jadi viral, sehingga diundang bertemu Panglima TNI di Jakarta dan dapat beasiswa, juga adalah buah dari kinerja warganet Maluku khususnya yang ada di Kota Ambon.

Tahun kemarin, saat Beta Kreatif (BetKraf) me­nga­dakan Bungee Jumping dan membuat rekor membentangkan dan menjahit Bendera Merah Putih terpanjang, yang diikuti ribuan orang di atas Jembatan Merah Putih pun partisipasinya baik itu panitia dan peserta terbentuk lewat media sosial seperti FB, Instagram dan Whatsapp. Bukti aktivitas digital di Ambon sangat bergeliat

Tidak hanya urusan kreativitas, sejumlah upaya provokasi lewat medsos yang dapat mengusik damai pun kerap cepat diklarifikasi dan diredam lewat media sosial. Menunjukkan makin cerdasnya pengguna media sosial di Kota Ambon, walau tak bisa dipungkiri masih saja ada yang belum menggunakannya secara benar dan tepat, hingga diperlukan literasi digital dari waktu ke waktu.

Bagi Maluku, kesalahan membuat konten dalam media komunkasi bukan baru kali ini, sebelumnya Trans7 juga menuai protes sehingga perlu melakukan tayangan klarifikasi akibat menyebut Suku Bati di Seram Timur sebagai suku terbang, dan Film Banda The Dark Forgotten Trail yang dikecam dan dilarang penayangannya di Maluku karena dinilai ‘sengaja’ menghilangkan eksistensi orang Wandan.

Tentu pengalaman yang ada, termasuk ko­men­tar Shafiq yang menuai protes luas, juga pembelajaran buat semua, bahwa di era digital ini kita mesti lebih cerdas lagi dalam menyampaikan konten komunikasi di depan khalayak, karena pesan yang sampaikan bisa direproduksi dalam berbagai flatfom digital, menjadi viral, dan bisa saja berdampak kontraproduktif atau bahkan destruktif. Seorang pakar seperti Shafiq pun bisa salah, apalagi banyak di antara kita yang masih awam.

Kedepan kita mesti lebih berhati-hati, mengukur dampak pesan yang hendak diluncurkan, apalagi di tahun politik semacam ini, karena tidak saja dapat memperkeruh suasana, tapi juga bisa berujung pada proses hukum. Medsos memang punya dua sisi, positif dan negatif, karena itu sudah menjadi tanggungjawab bersama untuk memaksimalkan fungsi yang positif dan mereduksi pengaruh buruknya.

Terakhir, Shafiq dengan tulus telah meminta maaf secara terbuka, kita semua wajib memaafkan, karena tak ada seorang pun yang luput dari salah, yang pasti adalah gara-gara Shafiq, membuat Kompas TV kembali menyediakan ruang bagi Maluku, khususnya Ambon diperbincangkan dalam konteks nasional, setelah dipertengahan Agustus lalu juga mengadakan Talkshow; Belajar Damai dari Maluku, di tengah layar kaca kita lebih banyak dijejali dengan semua hal yang lebih terkait dengan Indonesia bagian barat yang pada faktanya lebih maju dan diperhatikan. Salam kreatif dan damai dari Ambon. (*)

------ ======================

Berita Populer

To Top