Berita Utama

Dibalik Dua Periode AV Jadi Bupati SBT (2), Mulai Dari Nginap Hotel Hingga Happy-Happy Dibayar Pengusaha

Abdulah Vanath

Sukses menjadi Bupati Kabupaten Seram Bagian Timur dua periode berturut-turut membuat nama Abdullah Vanath kian bersinar, harta Kekayaannya pun terus bertambah.

 

Catatan: Abdulkarim Angkotasan
Reporter Harian Rakyat Maluku


RakyatMaluku.com – MANTAN
Ketua DPD Partai Demokat Maluku itu pernah memiliki kekayaan Rp 15.143.649.511. Angka itu dia catatkan ketika mencalonkan diri sebagai Calon Gubernur Maluku tahun 2013. Tapi tidak ada yang pernah tau perjalanan hidup Abdullah Vanath sebelum dilantik sebagai Bupati SBT di periode pertama, dimana pada tahun 2005 sampai 2007 Abdullah Vanath pernah kehabisan uang dan harus mendesak pengusaha untuk dapat membantunya.

Dari dokumen yang diterima redaksi Rakyat Maluku, yang paling banyak memberikan dana segar kepada Abdullah Vanath adalah Syarifuddin Djogja.

Pernah pada tanggal 17 Agustus 2005 pukul 21.28, melalui pesan pendek dengan nomor 081343105*** Vanath meminta Syarifuddin Djogja untuk segera mengirimkan uang kepadanya guna memuluskan segala urusannya di Jakarta.

“Bapa udin kondisi yang ada kalau ada 50 juta dikirim dolo, karena urusan di jakarta terhambat karena faktor itu. beta harap carikan 50 juta hari ini untuk dikirim segera. Sampe saat ini beta tetap harap dari abang sesuai komitmen kita,” kata Vanath waktu itu. Walaupun kehabisan uang cash dikantong pribadi, Syarifuddin Djogja tetap berusaha memenuhi keinginan Abdullah Vanath, dan bukan hanya memberikan uang cash kepada Abdullah Vanath dengan iming-iming akan diberikan paket proyek usai dilantik sebagai pengganti pengeluarkan Syarifuddin Djogja, tapi tiket, kamar hotel hingga makan minum Abdullah Vanath pun dibayar Syarifuddin Djogja.

Bahkan untuk urusan happy-happy Abdullah Vanath dan timnya dilayani bagaikan raja, mereka sering menggunakan kamar deluxe di Blue Oasis Entertinment tempat hiburan di hotel Oasis Amir untuk melepas penat.

Selama di Jakarta untuk pengurusan pasca Pilkada, Abdullah Vanath diketahui sering makan di restourat ternama, berlabel asing seperti Huang Ting, Matsu, dan itu semua dibayar Syarifuddin Djogja. Nginpanya pun di hotel berkelas, seperti Mellenium, tapi di Ambon, pada tahun itu Abdullah Vanath dan timnya hanya nginap di Hotel Wijaya Dua dan Hotel Abdullalih, maklum belum ada hotel berkelas Swissbel atau Aston Natsepa.

Sementara untuk urusan transfer keuwangan diawal pemerintahan SBT, ketika membutuhkan uang dari pengusaha, Abdullah Vanath sempat menggunakan nomor rekening pribadinya di Bank Maluku dengan nomor 1103005***. Namun selanjutnya Abdullah Vanath lebih banyak menggu­nakan nomor rekening milik beberapa orang dekatnya, seperti rekening atas nama Ismail Tomagola Zainuddin Voth dan beberapa lainnya.

Tercatat dari seluruh transaksi keuwangan, Syarifuddin Djogja telah mengeluarkan Rp.1,3 miliar. Bukti pengeluaran itu diarsipkan dan ratusan juta lainnya tak sempat dibukukan, jika dikomulatifkan maka mencapai Rp. 2 miliar. Parahnhya ketika di­mintai pertanggungjawaban, Abdullah Vanath yang masih menjabat Bupati selalu menghindar de­ngan beragam alasan kedinasan.

Memang diawal pemerintahan SBT, Abdullah Vanath pernah menjanjikan sejumlah paket proyek yang nilainya pantastis, seperti memberikan reko­mendasi tertanggal 7 Januari 2006 yang menge­sahkan PT. Era Baru Djaya Lestari perusahaan milik Syarifuddin sebagai satu-satunya perusahaan yang berhak mengerjakan pembangunan Rumah Sakit Islam di Dusun Nama Desa Kianlaut Kecamatan Seram Timur.

Ketika surat bernomor 011/30 diserahkan, Syarifuddin sudah bernafas lega, hanya saja sampai akhir kepemimpinan Abdullah Vanath ditahun 2009, progres pendanaan dan kontrak tak terlihat.

Mirisnya lagi, sumber pendanaan proyek bukan berasal dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah atau Anggaran Pendapatan Belanja Negara, melainkan urunan beberapa pihak swasta yang tidak jelas.

Pada tahun yang sama di bulan Maret 2006, Abdullah Vanath melalui Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten SBT M.Nurdin Mony, juga menandatangani kontrak pekerjaan pembukaan jalan baru Dawang – Masiwang sepanjang 40 kilo meter senilai Rp14 miliar.

Paket dengan nomor kontrak 07/PU-HUB/FSK-JLN/D-M/III/2006 ternyata tidak ada dalam APBD Kabupaten SBT.

Tanggal 15 Maret 2006, atas perintah Abdullah Vanath M. Nurdin Mony selaku Kepala Dinas PU juga menerbitkan Surat Perjanjian Pemborongan (Kontrak) kepada PT. Era Baru Djaya Lestari dengan nilai kontrak Rp.7 miliar tapi wujud paket proyek tak pernah muncul dalam DIPA APBD SBT.

Gagal dalam sejumlah MoU proyek yang ada, Syarifuddin terus berusaha mendatangi Abdullah Vanath tapi selalu kandas.

Syarifuddin mengklaim, pernah diberikan paket proyek tapi nilainya tidak seberapa, itupun masih ada tunggakan yang harus dilunasi pemerintahan SBT, karena lokasi dimana paket proyek itu dikerjakan memiliki tantangan yang menyebabkan tambahan anggaran sebesar Rp.500 jutaari kantong pribadi Syarifuddin. (BERSAMBUNG)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Populer

To Top