Berita Utama

Mercy ‘Dikepung’ Dua Istri Kepala Daerah

Mercy Chriesty Barends

RakyatMaluku.com – PUBLIK Maluku masih menaruh ha­rapan, agar masalah-masalah pem­bangunan dan peningkatan kesejah­teraan bisa dikawal para legislator di Senayan, Jakarta. Pe­ran dan fungsi Wakil rakyat di DPR-RI sangat strategis.

Selain membuat regulasi, para wakil rakyat ini juga memiliki pe­ran penting mengawal politik ang­garan negara demi keber­lang­sungan pembangunan nasional.

Implikasi dari peran strategis DPR-RI masih dinanti masyarakat. Pastinya, mereka yang diwakilkan rakyat di Senayan, tidak mengidap ‘syndrom’ D3P (Datang, Duduk, Dengan dan Pulang). Pasalanya, Maluku sebagai salah satu wilayah penyumbang angka kemiskinan nasional sangat membutuhkan figure wakil rakyat yang kuat secara gagasan, berani dan lantang berteriak atas nama kepentingan daerah di Jakarta.

Jelang Pemilihan Legislatif 2019, sejumlah nama-nama calon wakil rakyat petahana masih menghiasi daftar calon sementara (DCS), sebut saja, Mercy Barends asal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dan Edison Betaubun asal Partai Golkar. Mercy, adalah salah satu politisi perempuan yang bagi publik Maluku dianggap layak dan mampu berjuang mempengaruhi keputusan mayoritas di Jakarta. Namun, dalam konfigrasi 2019, Mercy menghadapi tantangan yang cukup berat. Pasalnya, lawan internal Mercy adalah dua isteri kepala daerah di Maluku.

“Jika melihat lagi DCS partai politik peserta Pemilu, ada sederet nama tokoh politisi lawas maupun para petahana yang kembali bertarung merebut kursi senayan. Bagi petahana, wajib hukumnya mempertahankan kursi yang sudah direbut lima tahun silam. Nah, soal mempertahankan dalam prakteknya sangat berat. Akan ada sejumlah indikator yang menjadi tolak ukur bagi publik untuk kembali menitipkan harapan mereka,” kata Direktur Eksekutif Indonesia Research dan Strategy (IRS) Djali Gafur kepada Rakyat Maluku, tadi malam.

Mercy, kata Djali, bisa menjadi ‘tumbal’ politik kekuasaan lokal. Pasalnya, basis potensial Mercy pada beberapa titik semisal Tenggara Raya akan bergerak signifikan, jika terjadi polarisasi dan intervensi kekuasaan. Relasi kekuasaan, lanjut Djali menjadi instrimen penting pada pemilihan legis­lative.

“Memang benar, Mercy memiliki basis politik kultural. Tetapi itu saja tidak cukup mengantarkan Mercy untuk kembali ke Senayan. Apalagi jika relasi kekuasaan bermain dan menjadi instrument penting,” paparnya.
Djali menegaskan, hadirnya Safitri Malik Soulissa (isteri Bupati Kabupaten Buru Selatan) dan Maryam N Solisa (Isteri Wakil Bupati Buru) sangat mempengaruhi potensi suara Mercy untuk kembali ke Senayan. Kedua isteri kepala daerah tesebut, berpotensi menyalib posisi Mercy jika konsolidasi dan kerja-kerja politik tidak dilakukan secara baik.

“Hadirnya isteri dua kepala daerah, mempertegas bahwa, politik kekuasaan akan menjadi instrument penting di Pileg. Mercy sudah pasti merasa terancam. Tetapi sebagai politisi, pastilah ada strategi lain yang digunakan untuk mempertahakan kursi yang dimiliki saat ini,”tegasnya.

PDI-P bagi Djali, sudah mengamankan satu kursi di Senayan, dengan konfigurasi caleg yang ada, tapi siapa yang akan mendapat mandate rakyat untuk berjuang di pusaran kekuasan nasional, pastinya masih dalam prediksi berbagai pihak. (ASI)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Populer

To Top