Opini

Ekspektasi Publik Menjelang Debat Capres Kedua

Abubakar solissa

Oleh : Abubakar Solissa
Direktur Executive Partner Politik Indonesia)

Debat Capres-Cawapres perdana meninggalkan banyak sekali catatan publik. Polemik seputar penampilan dari kedua paslon saat debat perdana tanggal 17 Januari yang lalu di Hotel Bidakara terus berlanjut hingga saat ini.

Kekecewaan publik bisa terlihat lewat berbagai komentar di media masa dan mainstream. Dari elit politik, akademisi, pakar politik hingga para netizen mengajukan rasa kecewa mereka terhadap perdebatan yang dianggap terlalu kaku dan kurang berkualitas.

Itulah sebabnya kenapa ekspektasi publik pada saat debat kedua nantinya membumbung tinggi kepada kandidat capres 01 dan 02 agar bisa menampilkan perdebatan yang memukau, baik dari sisi konsep, visi maupun kemampuan retoris yang menghibur para khalayak yang menonton.

Debat kedua ini sendiri hanya akan mempertemukan para calon presiden (capres) tanpa harus didampingi oleh cawapres sebagaimana debat perdana.
Debat yang mengusung tema “Energy, Pangan, Infrastruktur, Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup” ini akan dipandu langsung oleh Tommy Tjokro dan Anisha Dasuki yang direncanakan bertempat di Hotel Sultan Jakarta Pusat pada tanggal 17 Februari 2019.

Tema debat kali ini cukup menarik karena beberapa poin dari tema diatas telah menjadi diskursus publik selama beberapa tahun terakhir. Seperti misalnya kebijakan pemerintah soal pangan. Disatu sisi pemerintah menjanjikan swasembada pangan sebagaimana yang termaktub dalam nawacita pemerintahan Jokowi, tapi pada sisi yang lain pemerintah malah mengimpor beras dan garam disaat para petani kita lagi sementara panen. Kebijakan ini dinilai banyak pihak terutama oposisi sangat merugikan petani kecil dan dianggap tidak terlalu populis.

Sebaliknya, pemerintah menjadikan pembangunan insfrastruktur sebagai leading sector pemerintahan Jokowi-JK.
Keberhasilan pemerintah dalam menghadirkan pembangunan jalan dan jembatan memang dirasa cukup berhasil karena sejauh ini geliat pembangunan infrastruktur menggema dimana-mana. Pembangunan juga tidak hanya berpusat di pulau Jawa (Jawa Sentris) saja melainkan juga diseluruh Indonesia termasuk Indonesia bagian timur (Indonesia Sentris).

Pengelola energi dan sumber daya alam serta lingkungan masih menyisahkan perdebatan yang sampai hari ini belum selesai.
Kubu oposisi menilai berbagai kebijakan yang dilakukan belum secara optimal menjawab kebutuhan publik. Gap antara orang kaya dan miskin masih terlalu melebar, sehingga membuat orang miskin sangat sulit menjangkau akses kesejahteraan.

Nah, polemik yang sudah berlangsung cukup lama diruang publik ini harus diakhiri oleh kedua kandidat capres saat debat nanti.
Keduanya harus mampu menghadirkan perdebatan berbasis data serta bisa menawarkan solusi penyelesaian. Gagasan besarnya apa untuk Indonesia lima tahun yang akan datang baik dari kubu petahana maupun penanantang yang bisa dijual di forum debat.

Para Capres Harus Menampilkan Debat Memukau

Di panggung inilah seharusnya Jokowi dan Prabowo bisa menunjukan kemampuan leadershipnya sebagai calon presiden sekaligus mengakhiri berbagai perdebatan tak bermutu dengan narasi-narasi yang tak mendidik selama ini. Belajar dari debat-debat presiden di Amerika Serikat. Betapa dasyatnya perang data dan kata-kata antara para kandidat.
Seperti debat antara Jhon F. Kennedy dan Richard Nixon (1960) yang mampu menyihir sekitar 66 juta penonton yang menyaksikan debat secara langsung lewat televisi.

Debat antara Jimmy Carter (Demokrat) dan Gerald Ford (Republik) di Pilpres 1976 juga menampilkan pertarungan gagasan yang sengit. Carter pun keluar sebagai pemenang mengalahkan Ford yang berstatus sebagai petahana.

Jimmy Carter (Demokrat) dan Ronal Reagan (Republik) juga takalah jauh menghebohkan (1980). Keduanya tampil attractive dan cukup menghibur dengan gugusan pengetahuan serta pengalaman yang dimiliki oleh keduanya.
Pertarungan yang hampir sama juga terjadi saat Geoge HW. Bush (Republik) bertemu dengan Bill Clinton (Demokrat) di pilpres Amerika tahun 1992. Meskipun Bush berstatus sebagai petahana tapi harus mengakui kemampuan debat yang dimiliki oleh Clinton, yang bukan hanya jago soal debat tapi juga punya kemampuan meyakinkan pemilih (the power of persuade).

Di paruh pertama abad 21, tepatnya tahun 2008 mata dunia kembali tertuju pada debat capres di negara adidaya Amerika Serikat ketika penampilan Barack Obama (Demokrat) dengan Jhon McCain (Republik) yang dimenangkan oleh Obama. Kemudian kemenangan Obama pun berlanjut di pilpres 2012 dengan mengalahkan Mitt Romney yang juga adalah politisi Republik.

Dan penutup dari serangkaian debat maha penting di Amerika Serikat adalah kemenangan paling kontroversial yang diraih oleh Donald Trump atas Hilary Clinton pada tahun 2016. Keduanya tampil sangat memukau namun juga kontroversial. Hilary yang sebelumnya akan diprediksi menang harus menerima kekalahan dari Trump.

Debat kedua harus punya skala seperti yang terjadi di Amerika. Jokowi dan Prabowo harus bisa menampilkan satu pertunjukan debat yang mampu meyakinkan para pemilih bahwa keduanya layak memimpin negeri ini. Untuk itu, selain narasi-narasinya mencerdaskan, retorika yang ditampilkan juga harus bisa menghipnotis setiap anak bangsa yang menonton dan sekaligus membuat mereka merasa bangga dengan tokoh-tokoh mereka sendiri.

Apalagi didebat kedua ini mekanisme debat tidak lagi kaku sebagaimana debat pertama. Dari sisi durasi, settingan panggung dan keberadaan moderator yang hanya bertugas mengatur lalu lintas debat tanpa harus banyak mengintrupsi para kandidat dirasa cukup mendukung penampilan keduanya.

Dengan kondisi yang serba fleksibel ini diharapkan kedua capres ini mampu mengeksplorasi kemampuannya sehingga pikiran-pikiran brilian soal cara membangun dan menata Indonesia lima tahun ke depan bisa terjawab. Sehingga lewat panggung inipula masyarakat bisa menilai siapa yang punya visi-programatik untuk memimpin bangsa yang kaya ini. (***)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Populer

To Top