Berita Utama

AT Bukan Lagi Pelatih Politik

SETELAH kalah memimpin barisan relawan pemenangan calon gubernur dan calon wakil gubernur Maluku, Said Assagaff-Anderias Rentanubun, sosok Abdullah Tuasikal (AT) tidak lagi melejit seperti dulu. 

Sudah banyak tokoh dan karakter politik yang menggantikan AT di panggung politik lokal. 

Bahkan, di Kabupaten Maluku Tengah (Malteng), kantong politik yang biasanya menyulap segala bentuk kekuasaan yang berkaitan dengan dinasti Abdullah Tuasikal, barisan AT Community yang cuap-cuap serta sesumbar akan memenangkan Pilkada Maluku, justeru tersungkur. 

Ekspektasi paslon Said -Andre kepada AT dan barisan relawannya justeru berbuah petaka. Tidak ada kantong politik AT yang dimenangkan pasangan dengan akronim SANTUN di Pilkada Maluku.

Apakah ini pertanda, ‘mantra-mantra’ dan gaya main AT sudah terkunci karena diketahui publik? Lalu apakah AT tak pantas lagi disebut pelatih politik sebagaimana sering diumbarnya.

Bagaimana membayangkan gerakan politik AT dan Mirati Dewaningsih di 2019 jika tanpa campur tangan ‘kekuasaan’ di Kabupaten Maluku Tengah? Apakah, kedua tokoh (suami-isteri) itu akan lolos ke parlemen dengan dukungan rakyat di Bumi Pamahanunusa itu? ataukah justeru rangkaian kebijakan daerah semenjak AT memimpin Malteng dua periode bakal membuatnya ambruk dan hilang kepercayaan dari masyarakat sebagaimana yang terjadi di Pilkada Maluku 2018 kemarin?

Menanggapinya Direktur Eksekutif Partner Politik Indonesia (PPI), Abubakar Solissa, menerangkan, pesona AT di Maluku semakin memudar seiring dengan munculnya sejumlah tokoh baru dalam gelanggang politik di Maluku. 

“Saya kira, pesona AT sudah semakin memudar sering dengan munculnya sejumlah tokoh baru di gelanggang politik Maluku. Ini mengkonfirmasi bahwa, kekuatan AT tidak seperti yang dulu lagi,” kata Solissa, Minggu 10 Februari  2019.

Menurutnya, kekalahan demi kekalahan AT dalam beberapa agenda politik, termasuk paling spektakuler dan ‘memalukan’ di Pilkada Maluku mengkonfirmasi political power (kekuatan politik) AT tidak seperti 10-15 lalu, saat masih memegang tampuk kekuasaan di Malteng.

“Kekalahan demi kelalahan yang dialami AT dalam beberapa kontestasi termasuk Pilgub di Maluku, mengkonfirmasi buat kita bahwa kekuatan politik (political power) AT  tidak sekuat 10-15 tahun yang lalu saat beliau masih memimpin Maluku Tengah,” ungkapnya.

PPI menilai, tidak bisa memungkiri infrastruktur politik AT di Malteng masih begitu kuat untuk mendongkrak elktoral politiknya ke Aenayan. Dengan jabatan dan kekuasaan yang masih dikendalikan kaka kandung AT, Tuasikal Abua, dinilai masih memiliki otoritas yang kuat untuk memobilisir segala instrumen di Malteng.

“Tapi kita juga tidak bisa memungkiri bahwa AT masih punya infrastruktur politik di Malteng yang dapat menopang kekuatan elektoral dia sebagai caleg DPR RI. Hal ini dikarenakan kaka kandung AT, Tuasikal Abua, masih punya otoritas yang kuat dalam memobilisir segala isntrumen politik di Malteng karena yang bersangkutan saat ini adalah bupati aktif,” katanya.

Bagi dia, kemenangan Amril Tuasikal, putra mahkota AT di Malteng pada Pileg 2014 silam membuktikan bahwa kabupaten tertua tersebut, masih menjadi basis elektoral klan Tuasikal. 

Tapi, truth terhadap kinerja pemerintahan cukup mempengaruhi tingkat keterpilihan pada klan Tuasikal, dan ini, lanjut dia, sangat berpotensi untuk direbut tokoh-tokoh politik lain diluar keluarga Tuasikal tersebut.

“Politik itu unpredictable (sulit ditebak), 2014 Amril Tuasikal putra sulung AT sukses ke Senayan, ini membuktikan bahwa Malteng menjadi lumbung elektoral keluarga Tuasikal. Tapi, bisa juga suara itu direbut, karena soal kepercayaan publik, dan tokoh-tokoh politik di luar keluarga Tuasikal dan masih dianggap berpengaruh di masyarakat Malteng bisa merebut basis dukungan tersebut,” ucapnya.

Direktur PPI ini menambahkan, AT yang lebih populer mengistilah diri sebagai ‘pelatih’ justeru mulai terdegradasi. Pasalanya, Pelatih secara terminologi (istilah) merupakan sebutan kepada seseorang yang memiliki pengalaman atas suatu pekerjaan yang profesional atau pensiun dari satu pekerjaan tertentu, semisal politik. 

Jika dia (AT) menganggap sebagai seorang pelatih, harusnya memilih menjadi king maker, bukan kembali menjadi kontestan di Pileg 2019.

“Jadi berdasarkan terminologi tersebut, sangat tidak tepat jika AT mengkalim diri pelatih, sementara dia adalah pemain atau kontestan yang justeru akan diarahkan menuju jalur kemenangan,” tutupnya. (ASI)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Populer

To Top