Berita Utama

Bursel ‘Ladang Pembantaian’ Salah Siapa ?

Buru Selatan

-12 Orang Tewas Dibantai Secara Sadis 2015-2019

TERIAKAN  minta tolong datang silih berganti dari warga terutama para ibu yang menyaksikan tindakan keji NN (27) membantai IS (37), istri kakaknya dan keponakannya, FN (1), serta FP (7) anak dari kakak kandungnya pada pukul 18.30 WIT, Sabtu 2 Februari 2019.

Aksi NN mengubah suasana tenang di Desa Waesama Kecamatan Waemesing Kabupaten Buru Selatan-Maluku menjadi riuh.

Warga semakin histeris ketika melihat wajah dua anak tak berdosa terbujur kaku dilantai dengan luka menganga. 

Ini bukan peristiwa pembantaian pertama di tanah Fuka Bupolo, sejak 2015, warga yang tewas akibat  perilaku barbar sudah lebih dari sepuluh orang. 

Dari catatan Rakyat Maluku, peristiwa pembantaian pertama yang menghebokan jagad Maluku, terjadi di tahun 2015. Pelaku utama adalah  Reny Solisa alias Kabid 29 tahun. 

Dia nekat menghabisi nyawa istrinya sendiri NN 30 tahun, serta H yang masih 15 tahun, YN 9 tahun, JS 12 tahun dan WS.

Mereka tewas hanya karena pelaku tersinggung dan curiga ketika niatnya untuk berhubungan badan ditolak istrinya.

Pelaku juga membabibuta dan melukai empat warga lainnya, yang membuat mereka mengalami luka berat dan cacat permanen. 

Rony kini mendekam dipenjara, setelah Majelis Hakim Pengadilan Negeri Ambon menjatuhkan vonis seumur hidup dalam persidangan Selasa 13 Oktober 2015.

Kasus pembunuhan juga terjadi di Desa Wamsisi Kecamatan Waesama 24 Mei 2017. Pelaku adalah Tamrin Ode alias Tamrin 34 tahun. Sementara  korban  Anwar Alimudin alias Anwar 38 tahun merupakan tetangganya.

Motif pembunuhan hanya karena masalah sepele. Pelaku protes tanah yang ditimbun saudara korban sering mengotori lantai rumahnya. 

Sebelum pembacokan, pelaku sudah mengingatkan saudara korban, namun tak digubris. Puncaknya pada pukul 16.30 WIT, korban mendatangi rumah terdakwa dan terjadi cek cok mulut. Terdakwa yang tersulut emosi langsung membacok tubuh korban empat kali. Seketika korban tersungkur penuh darah.

Dalam persidangan yang berlangsung Rabu 15 November 2017.  Pelaku divonis bersalah dan mendapatkan hukuman penjara selama 13 tahun.

Selain itu ada juga kasus pembunuhan terhadap salah satu perempuan parubayah di Namrole Ibu Kota Pemerintahan Kabupaten Buru Selatan Desember 2017.

Sesuai kesaksian Wa Rima dalam persidangan yang digelar 24 Juli 2018, saat sedang memasak di dapur, Korban WT menjerit minta tolong. Wa Rima langsung menuju arah teriakan dan mendapati sebilah pisau tertancap ditubuh WT yang sudah berlumuran darah. 

Sebelum menghembuskan nafas terakhir WT menyebut nama Rizkylah sebagai pelakunya. 

Tak hanya itu, publik Maluku kembali dihebokan dengan penemuan mayat tanpa kepala pada 28 Oktober 2018 di Desa Waelikut Kecamatan Waesama.  

Setelah pihak kepolisian melalukan penyelidikan, didapati MN adalah adalah pelaku utama. MN merupakan orang suruhan selingkuhan salah satu istri korban.

Dari hasil pemeriksaan polisi. Pelaku Siliwi Nurlatu 30 tahun mengaku dibayar Rp.1 juta oleh MN untuk menghabisi nyawa korban. 

Motifnya MN tak ingin perselingkuhannya dengan istri korban diketahui, sehingga menyuruh Siliwi menghabisi nyawa korban.

Dengan modal sebilah pisau, pada pukul 03.00 WIT pelaku masuk ke kamar korban dan membunuh korban. Kepala korban dibawa kabur dan dibuang ke sungai.    

Tak habis disitu cerita pembantaian di kabupaten yang sudah dua periode dinakodai Tagop Soulissa itu. 

Awal tahun 2019, peristiwa penghilangan nyawa orang juga terjadi. Tiga orang tewas bersimbah darah.  

Itu belum termasuk kasus penganiyaan sehingga korban meninggal dunia. Sebut saja kasus almarhum Husen Seknun, dipukul sejumlah pemuda hingga nyawa tak terolong ketika dirujuk ke RSUD. Haulussy Ambon.

Para pelaku memang sudah diamankan, mereka berjumlah tiga orang dan sudah ditetapkan sebagai tersangka. 

Uniknya seluruh peristiwa tersebut dilakukan para pelaku yang memiliki tingkat pendidikan rendah dan kondisi ekonomi yang pas-pasan. Sebagian besar kasus juga dilatarbelakangi kecemburuan para pelaku. 

Atas kondisi kengerian yang terjadi di Kabupaten Buru Selatan, Komnas HAM RI Perwakilan Maluku kemudian meminta perhatian bersama seluruh elemen terkati di Maluku.

Lynda Holle dari Komnas HAM Maluku mengaku, sejauh ini tidak ada laporan dugaan pelanggaran HAM yang diterima kantor Komnas HAM dari para korban di Buru Selatan, dan rata-rata kasusnya ditangani secara baik oleh kepolisian. 

Komnas kemudian akan bekerja jika penegakan hukum tak berjalan maksimal, atau para pelaku tak diproses, atau kasusnya tidak diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

Akan tetapi demi meminimalisir kasus yang sama dikemudian hari, memang perlu ada upaya edukasi berupa pendidikan sadar hukum bagi warga Buru Selatan. 

Kepolisian dan juga pemerintah daerah harus memaksimalkan peran masing-masing dalam meminimalisir tingkat kriminalitas di Buru Selatan. 

“Harus ada penyuluhan hukum,  itu sangat diperlukan, semua orang harus mendorong itu,” sarannya.

Selain itu, para pelaku pembunuhan mestinya dihukum maksimal agar menjadi efek jera bagi yang lain.

Menurutnya, kondisi pendidikan, dan juga rentang kendali memang menjadi kendala dalam transpormasi pendidikan sadar hukum. Namun bukan berarti dibiarkan terus-menerus. Pendidikan sadar hukum harus digalakan.

“Masyarakat harus diberi pemahaman terkait produk hukum tentang kekerasan anak, produk hukum pidana, sehingga mereka tidak takut untuk melaporkan sesuatu atau meminta perlindungan hukum. Kadang juga masyarakat takut menjadi saksi,” kata Lynda.

Ditempat terpisah, Junita Sipahelut, S.Psi, M.Psi. seorang psikolog, mengatakan kasus-kasus pembunuhan yang cenderung meningkat dan rata-rata dilakukan secara sadar adalah tindakan abnormalitas.

Cenderung dengan melakukan pembunuhan para pelaku menganggap itu hal biasa, demi sebuah harga diri. 

“Yang saya lihat ya,  dari kasus trend sejak beberapa tahun lalu sampai kemarin,  sepertinya dianggap biasa saja,” tandasnya kepada Rakyat Maluku,  Jumat 8 Februari 2019. 

Ironisnya lagi, praktek pembunuhan ini semacam hal lumrah ditengah sebuah kominitas, dan para pelaku menganggap tindakan mereka sebagai sebuah jati diri. 

Olehnya itu, Sipahelut menyarankan agar pemerintah kabupaten harus serius melihat berbagai peristiwa pembunuhan di Buru Selatan. 

Jangan sampai ini menjadi ‘wabah’ karena dianggap bagian dari budaya. Berbagai peristiwa pembunuhan yang terjadi harusnya dijadikan peringatan bagi pemerintah setempat. 

Pemerintah harus memberikan penyuluhan bahwa setiap manusia punya hak untuk hidup. Sehingga anggapan bahwa membunuh adalah kebanggaan itu ternyata salah dan tindakan kekerasan terhadap seseorang apalagi penghilangan nyawa orang merupakan perbuatan melawan hukum.

“Kita kembali di Bursel, seandainya kalau pamerintah setempat tidak melihat ini secara bijak,  maka keberlangsungan kebiasaan membunuh secara sadar akan dianggap hal yang biasa,” tekan Sipahelut. (ARI/YAS)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Populer

To Top