Daerah

Ini Kronologis Pembunuhan Sadis 3 Warga Di Bursel

PEMBUNUHAN  sadis terhadap tiga warga Waelikut, Kecamatan Waesama, Kabupaten Buru Selatan (Bursel), menyisahkan cerita pilu.

Pembunuhan  seorang wanita dan dua anak di bawah umur itu ternyata berlatar belakang  asmara, yakni  cintanya ditolak disertai dendam pribadi.

Kasubbag Humas Polres Buru, Ipda Dede Syamsi Rifai, kepada pers di Namlea,  Senin 4 Februari 2019, mengatakan bahwa sebelum peristiwa yang menggegerkan masyarakat Bursel  terjadi, tersangka NN sempat mengutarakan perasaan cintanya buat Irma Seleky (korban), tapi ditolak, dan lebih memilih  dengan kakak  NN, yakni AN. 

Tidak saja masalah percintaan, persoalan rumah tanggganya yang hancur juga menjadi alasan  lain. Istri NN, telah pergi meninggalkannya.

Hal ini membuat tersangka kembali ke kampung halamannya di Leksula. Karena berbagai persoalan-persoalan inilah, tersangka cepat emosi dan marah. 

“Pembunuhan ini telah direncanakan NN, sejak Kamis, 31 Januari pukul 15.00 WIT, tersangka telah mengambil parang dan mengasahnya. Ia mengasahnya juga di rumah kakaknya AN. Karena selama NN selama ini inap ditempat tinggal kakaknya itu,” jelas  Kasubbag Humas Buru, Ipda Dede Syamsi Rifai.

Sesaat sebelum kejadian, Sabtu sore, 2 Februari 2019, NN  mengaku telah menyiapkan parang yang telah di asahnya itu dan menuju ruang tamu.

“Di ruang tamu, NN mendekati korban  Irma Seleky, yang sedang menggendong FN dari belakang. NN mengeluarkan  parang dari sarung dan menebas Irma. Caranya   mengayunkan parang dari kiri ke kanan dan kena pada bagian leher. Ayunan parang inipun  mengena tubuh balita  berinisial  FN, yang sedang digendong Irma,” jelas perwira pertama Polri ini.

Usai membacok dan menggorok leher Irma, NN kabur melewati pintu belakang rumah menuju tempat tinggal Abdul Ali Mambo. NN, sambung Kasubag Humas Buru Ipda Dede Syamsi Rifai, melihat FP (7), anak dari Ali Mambo, sedang duduk di kursi di teras rumah.Tersangka mendekatinya dan memotong korban di bagian wajah. 

“Tersangka membunuh FP karena dia  pernah mempunyai masalah dengan orang tua FP. Orang tuanya disebut tersangka pernah mengatakan istri tersangka yang tidak benar,” ungkap Rifai.

Setelah itu NN melarikan diri ke hutan, Minggu pagi, 3 Februari 2019, NN pergi ke kebun AN di  Dusun Waeula. Di kebun kakaknya, dia beristirahat. 

“Minggu sore, NN pergi ke sungai untuk membersihkan darah yang masih menempel di parangnya. Pukul 17.00 WIT, NN ditangkap dan dibawa ke Polres Pulau Buru untuk dimintai keterangan,” jelas Ipda Dede.. 

Atas perbuatannya ini, tersangka disangkakan dengan Pasal 340 KUHP subsider Pasal 338 KUHP dan atau Pasal 80 ayat (3) Jo Pasal 76 c UU RI No. 17 Tahun 2017 Tentang Penetapan Perpu No. 1 Tahun 2016 Tentang Perubahan ke dua atas UU RI No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan anak menjadi Undang-undang, sebagaimana telah dirubah dalam UU RI No. 35 Tahun 2014, tentang perubahan atas UU RI No. 23 Tahun 2003 tentang perlindungan Anak Jo Pasal 64 ayat (1) KUHP.

“Ancaman Hukuman 20 tahun penjara atau sumur hidup,” tandas  juru bicara Polres Buru itu. (AAN)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Populer

To Top