Politik

Jelang Pemilu 2019, Lawan Hasutan Kebencian

Ilustrasi

MENJELANG tahun pemilu 2019, banyak kalangan mengkhawatirkan maraknya hasutan kebencian sebagai alat politik untuk menjatuhkan lawan, seperti yang terjadi pada Pilpres 2014 dan Pilkada Jakarta 2017. 

Terkait itu, Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD), Yayasan Paramadina dan Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO) menyelenggarakan lokakarya “Melawan Hasutan Kebencian”  berlangsung dua hari Selasa-Rabu (19-20/2/2019) di Hotel The City, Ambon, dengan mengikutsertakan 20 peserta perwakilan dari kalangan pemerintah dan kelompok masyarakat yang terdiri dari Bawaslu, KPU, Polda Maluku, Forum Kerukunan Umat Beragama, Penyuluh Agama Kemenag, lembaga swadaya masyarakat, jurnalis, mahasiswa, dan organisasi pemuda.

Kegiatan serupa juga dilaksanakan  di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Sulawesi Tengah.

Penyalahgunaan politik identitas melalui hasutan dan pelintiran kebencian dikhawatirkan akan mempertajam polarisasi masyarakat, memperparah intoleransi, dan merusak kerukunan. 

Hasutan kebencian tidak hanya berbentuk ujaran kebencian (hate speech) atau provokasi satu arah kepada suatu pihak untuk menyasar pihak lain, tapi hasutan itu juga berbentuk pelintiran terhadap ujaran pihak lain sehingga mereka dianggap provokatif, menyinggung, dan akhirnya menjadi sasaran penyerangan.

PUSAD Paramadina melihat hasutan kebencian ini berbahaya karena kerap digunakan sebagai strategi politik dengan mengeksploitasi identitas kelompok (agama, suku, atau identitas lainnya) untuk memobilisasi massa pendukung dan menekan lawan politik. 

Ditambah lagi dengan berkembangnya platform media sosial saat ini, di mana informasi palsu, hoaks, dan bahkan fitnah mudah didapat dan disebarkan tanpa diimbangi sikap kritis. (RM)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Populer

To Top