Berita Utama

Jaksa Minta Rektor IAIN Serahkan Hasil Uji Ahli Geologi

Salah satu bangunan milik IAIN yang mengalami kerusakan

PENYELIDIKAN terhadap robohnya tiga gedung pada Kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon yakni, perpustakaan, auditorium, dan laboratorium Fakultas MIPA, terus gencar dilakukan oleh Penyelidik Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku.

Penyelidikan yang sementara dilakukan itu yakni pengumpulan data (puldata) proyek untuk memastikan adanya perbuatan tindak pidana yang patut diduga dapat menimbulkan kerugian keuangan negara miliaran rupiah.

Informasi terbaru yang berhasil dihimpun koran ini di Kantor Kejati Maluku, bahwa Korps Adhyaksa sudah menyurati Rektor IAIN Ambon untuk segera menyerahkan laporan hasil uji oleh ahli geologi di Bandung, yang menyatakan bahwa robohnya tiga gedung tersebut akibat pergeseran tanah saat derasnya curah hujan beberapa hari lalu.

“Kita sudah sudah surati rektor maupun pejabat pembuat komitmen (PPK) untuk segera menyerahkan laporan hasil uji oleh ahli geologi di Bandung, namun sampai saat ini belum diserahkan ke kami (Kejaksaan),” tutur sumber RakyatMaluku.com yang enggan namanya disebutkan di Kantor Kejati Maluku, Senin, 24 Juni 2019.

Setelah mengantongi dan mempelajari laporan hasil uji oleh ahli geologi, lanjut sumber itu, Korps Adhyaksa akan melakukan penyelidikan lebih dalam terhadap kontruksi bangunannya, guna memastikan pekerjaan proyeknya telah sesuai dengan kontak kerja.

“Nanti kita cek dari aspek rencana tata ruang wilayah (RTRW) untuk memastikan dikawasan tersebut (IAIN) apakah layak dibangun gedung bertingkat atau tidak. Kemudian kita akan periksa struktur pondasi bangunannya juga, diantaranya tiang pancang dan stok filenya,” jelas sumber itu.

Dari informasi yang berhasil dihimpun koran ini di lapangan, ternyata pembangun gedung auditorium IAIN Ambon itu sudah diusulkan sejak tahun 2014 lalu, namun baru dikerjakan di tahun 2017. Dan pekerjaanya rampung di tahun 2018.

Sayangnya, proyek yang telah menghabiskan anggaran negara sebesar Rp 14.984.000.000 itu belum diserahkan ke pihak rektorat, namun sudah ambruk di musim hujan beberapa hari lalu.

Kabar yang beredar, pembangunan gedung auditorium tersebut dipaksakan oleh pihak kampus lantaran takut anggaran yang sudah disiapkan pemerintah bersumber dari APBN melalui kementrian PUPR akan dikembalikan ke kas negara.

Bagian Perencanaan pun turut ambil bagian dalam penetapan lokasi pembangunan gedung auditorium tersebut tanpa mempertimbangkan kondisi tanah yang diatasnya akan dibangun gedung beringkat miliaran rupiah.

Terpisah, sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Aksi Peduli IAIN Ambon akan kembali melakukan aksi demontrasi besar-besaran di dua titik berbeda pada Selasa besok (hari ini). Yakni, di Kantor Gubernur Maluku dan di Kantor Kejaksaan Tinggi Maluku.

Koordinator 1 Aliansi Aksi Peduli IAIN Ambon Abd Halik Rahantan mengatakan, runtuhnya tiga gedung tersebut tidak hanya berdasarkan pada fakta bencana alam, melainkan juga merupakan faktor humman error (kesalahan manusia dan kelalaian).

Akibatnya, kerusakan tiga gedung tersebut, tidak hanya berdampak pada kerugian objek materi, tetapi juga berdampak pada aktifitas perkuliahaan mahasiswa.

Aliansi Aksi Peduli IAIN Ambon menilai bahwa proses pembagunan gedung perpustakaan, audiotorium dan Leb Mipa Tarbiyah, tidak melewati pengkajian yang komprehensif, baik dari segi tata ruang lingkungan, amdal, maupun struktur tanah, sehingga menimbulkan masalah dikemudian hari.

Mereka juga menilai pergeseran tanah atau Fluktuasi juga disebabkan oleh tidak adanya polah penghijauan yang baik, dan juga penggalian tanah yang tidak cermat tanpa memandang dan memperhitungkan situasi, sehingga menyebabkan amblasnya gedung perpustakaan dan gedung audiotorium.

“Dengan demikian, aksi demonstrasi yang kami jalankan pada Selasa besok (hari ini) merupakan salah satu oto kritik kita (Mahasiswa IAIN Ambon) terhadap parah elit atau pimpinan lembaga di IAIN Ambon selaku pihak yang paling bertanggung jawab,” tegas Halik.

Adapun tuntutan demo yang akan disampaikan yakni, menuntut agar segera membentuk tim Investigasi yang terdiri dari pihak lembaga kampus, kepolisian, tenaga ahli, dan mahasiswa, dalam rangka menyelidiki ambruknya gedung perpustakaan, audiotorium, dan Leb Mipa Fakultas Tarbiyah secara transparan.

“Apabilah dalam investigasi nanti menghasilkan hal-hal yang tidak wajar, maka kami menuntut agar segera mengeluarkan rekomendasi untuk diproses secara hukum, demi mempertanggung jawabkan kerugian keuangan negara,” pinta Halik. (RIO)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Populer

To Top