Berita Utama

Perpisahan Dan Harapan

Oleh : Sudarmo, SP, MSi, Anggota Fraksi PKS DPRD Maluku

TAK terasa, “tamu agung” akan pergi. Pergi untuk sebelas bulan yang akan dating kembali. Begitu singkat ia membersamai para mukmin. Kerinduan pun masih menggelora. Masih menyisakan energi semangat beribadah. Namun, ia pun pergi berlalu juga.

Perpisahan pun telah tiba. Tak bisa ditawar-tawar. Tak bisa dielakan. Tak bisa ditunda. Kaum muslimin yang telah merasakan manisnya iman dan nikmatnya ibadah serta melimpahnya berkah di bulan Ramadhan tentu akan bersedih berpisah dengan bulan Ramadhan.

Ada kesedihan, meski ada pula kegembiraan. Kesedihan bergelayut karena belum memaksimalkan beribadah sejak kedatangnya. Sementara sebelas bulan kemudian belum tentu dapat berjumpa. Sedih bukan karena tak bisa membeli busana atau tak jumpa sanak saudara, namun sedih disebabkan para mukminin kehilangan rasa bahagia yang tidak tergantikan ketika melakukan berbagai ibadah dan amal kebaikan selama bulan Ramadhan.

Kesedihan inilah yang pernah terjadi pada diri para salafus sholeh ketika berpisah dengan bulan mulya, Ramadhan.  Tidak sedikit dari para ulama dan orang shalih yang mengungkapkan kesedihan dan tangisan karena perpisahan dengan Ramadhan.

Dibalik kesedihan pertanda ada keimanan. Keimanan akan janji Allah dan pahala di sisinya. Keimanan bahwa bulan Ramadhan akan hadir kembali namun tidak ada jaminan seseorang dapat bertemu kembali. Ibnu Rajab Al-Hambali berkata, “Bagaimana bisa seorang mukmin tidak menetes air mata ketika berpisah dengan Ramadhan, Sedangkan ia tidak tahu apakah masih ada sisa umurnya untuk berjumpa lagi.

Hati orang-orang yang bertakwa mencintai bulan ini menjadi sedih karena pedihnya berpisah denganmu wahai Syahrul Qur’an. Berderai air mata para pecintamu, terpecah hati mereka karena perihnya berpisah denganmu. Perpisahan ini semoga akan menjadi energi yang mampu menjadikan masa bertaubat dan berhenti berbuat dosa.

Perpisahan ini pula mampu menjadi energi untuk senantiasa memperbaiki diri, keluarga dan masyarakat. Semoga yang terputus dari rombongan orang yang diterima amalannya dapat menyusul.  Semoga tawanan dosa-dosa bisa terlepaskan, Semoga orang yang seharusnya masuk neraka bisa terbebaskan. Dan semoga rahmat Allah bagi pelaku maksiat akan menjadi hidayah taufik.

Meski sedih, namun kita tidak boleh larut dalam kedsedihan terus menerus. Perpisahan ini bukan segalanya. Karena setelah beripsah ada harapan yang besar dariNya. Harapan diterimanya amal ibadah. Harapan memperoleh pahala dari sisiNya. Dan, harapan mendapatkan ampunan dari Allah Yang Maha Pengampun dosa.  

Selain harapan-harapan yang utama, yang terpenting lagi adalah bagaimana setiap muslim  bisa tetap istiqamah setelah Ramadhan. Tetap beramal sebagaimana amalan di bulan mulya. Ini adalah tanda diterimanya amal kita

Para ulama’ mengatakan, “Sesungguhnya di antara alamat diterimanya kebaikan adalah kebaikan selanjutnya”. Buktikan perpisahan dengan perbaikan yang lebih baik. Buktikan bahwa ungkapan kesedihan dan tangisan berpisah dengan bulan Ramadhan bukanlah kepura-puraan. Bukan pula hanya sekedar ikut-ikutan. Namun setiap mukmin mampu membuktikan bahwa perpisahan dengan Ramadhan membuat rindu dengan suasana Ramadhan dengan tetap melakukan ibadah-ibadah sebagaimana di bulan Ramadhan.

Buktikan bahwa setiap mukmin yang telah mengikuti “penggodokan” selama bulan Ramadhan dapat menjadi bekal dalam bulan-bulan selanjutnya. Sehingga kita tidak termasuk orang-orang yang hanya mengenal Allah di bulan Ramadhan saja. Adalah sangat prihatain jika setelah berlalu bulam Ramadhan kita sudah tidak mengenal Allah karena meninggalkan amalan-amalan wajib.

Setelah berpisah dengan Ramadhan, kita berada di pertengahan dengan Ramadhan berikutnya. Semoga bisa menjadi penghapus dosa antara Ramadhan ini dan Ramadhan selanjutnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Antara shalat yang lima waktu, antara jum’at yang satu dan jum’at berikutnya, antara Ramadhan yang satu dan Ramadhan berikutnya, di antara amalan-amalan tersebut akan diampuni dosa-dosa selama seseorang menjauhi dosa-dosa besar.”

Ini sebuah perpisahan yang akan membuahkan harapan besar. Yakni harapan akan ampunan dari Allah. Harapan akan kasih saying dari Yang Maha Sayang. Semoga Allah SWT mengaruniakan pertemuan dengan bulan mulya di masa mendatang. Amiiin. (***)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Populer

To Top