NEWS UPDATE

Ini Kronologi Pembunuhan Karyawati Swalayan ACC Passo

Ilustrasi

PENGADILAN  Negeri (PN) Ambon menggelar sidang perdana perkara pembunuhan atas terdakwa Zulfikar Abdullah alias Fikar (29), dengan pembacaan dakwaan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Ambon, Kamis, 18 Juli 2019.

Dalam pembacaan dakwaan, terdakwa Fikar yang didampingi Penasehat Hukumnya (PH) Franky Tutupary, SH, didakwa telah melakukan tindak pidana kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga yang mengakibatkan matinya korban Nur Nabila Nawally (istri terdakwa), di dalam kamar Kost milik pak Ali Jodi, yang dikontrak terdakwa dan istrinya (korban), di kawasan STAIN, Wara Kolam Sembilan, RT 007 RW 019, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, Kamis, 7 Maret 2019, sekitar pukul 23.00 Wit.

“Perbuatan terdakwa Zulfikar Abdullah alias Fikar sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 44 ayat (3) UU RI No. 23 Tahun 2004 tentang penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (Dakwaan Kesatu), Pasal 338 KUHPidana (Dakwaan Kedua), dan Pasal 351 ayat (3) KUHPidana (Dakwaan Ketiga),” ucap JPU Siti Darniaty, saat membacakan dakwaannya.

JPU dalam dakwaannya menjelaskan, terdakwa dan korban adalah pasangan suami istri yang resmi menikah sejak tahun 2015 lalu secara agama dan catatan sipil. Dimana setelah menikah terdakwa hidup bersama korban selama kurang lebih empat tahun, dan menempati kost milik pak Ali Jodi.

Selama terdakwa dan korban tinggal serumah, terdakwa selaku suami sering melakukan kekerasan terhadap istrinya selaku korban. Hal itu diketahui karena sebelum meninggal korban pernah menceritakan tentang masalah rumah tangganya kepada paman korban yang berada di Saumlaki pada September 2018. Korban juga sempat mengirimkan beberapa foto Iuka-luka yang dialami korban. 

Selain memberitahukan kepada paman korban di Saumlaki, korban juga pernah memberitahukan kekerasan yang dilakukan terdakwa terhadap diri korban kepada kakak korban yang berada di Jepang, beserta foto-foto luka yang dialami korban. Sehingga kakak korban yang berada di Jepang meminta bantuan ayah dari saksi Leonara Priska Latuheru untuk melihat keadaan korban.

Sayangnya, ayah dari saksi Leonara Priska Latuheru tidak berada di Ambon, sehingga tidak bisa melihat keadaan korban. Kemudian pada Januari 2019 saksi Leonara Priska Latuheru sempat bertemu dengan korban di Mall Ambon City Center (ACC) Passo, tempat korban bekerja, kemudian saksi Leonara Prsika Latuheru langsung menanyakan kepada korban tentang peristiwa kekerasan tersebut, dan dijawab korban bahwa terdakwa (suaminya) memang sering melakukan penganiayaan terhadap diri korban.

Kemudian pada Kamis, 7 Maret 2019 sekitar pukul 13.00 Wit, terdakwa pergi mengantar korban menuju kantor jasa pengiriman barang (JNT) yang berlokasi di kompleks Gadihu Indah Kebun Cengkeh, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, untuk mengambil kiriman barang online. Setelah mengambil barang, korban langsung menaiki angkot menuju tempat kerjanya di Swalayan ACC Passo.

Selanjutnya sekitar pukul 21.50 Wit, terdakwa dengan menggunakan sepeda motornya pergi menjemput korban di depan ACC tempat kerja korban, kemudian kembali pulang ke kamar kostnya di STAIN. Setelah sampai di kamar kost, sekitar pukul 22.30 Wit korban sempat mengatakan kepada terdakwa bahwa “katong pung beras habis”, tetapi saat itu terdakwa tidak merespon.

Terdakwa malah berpamitan kepada korban untuk pergi bermain game di pondoknya Mama Dila. Sesampainya di pondok Mama Dila, teman-teman terdakwa tidak ada, sehingga terdakwa pergi menuju ke rumahnya pak Fadli untuk bermain game PUBG bersama teman-temannya. Tidak lama kemudian, terdakwa ditelepon oleh korban untuk menanyakan keberadaan terdakwa.

Sehingga dijawab terdakwa bahwa terdakwa berada dipondoknya Mama Dila, namun korban kembali bertanya “betul se dipondoknya Mama Dila, lalu terdakwa mengatakan “ia”, korban kembali mengatakan “ose parlente”, kemudian korban mengucapkan kata makian kepada terdakwa. Mendengar ucapan korban tersebut, terdakwa berhenti bermain game lalu emosi dan pulang ke kamar kost untuk bertemu korban.

Ketika terdakwa sampai di kamar kost, terdakwa tidak menemukan korban, sehingga terdakwa mencari korban di rumah keluarga terdakwa yang bernama saksi pak Ridwan Odar, dan terdakwa melihat korban sedang duduk disamping rumah saksi pak Ridwan Odar. Terdakwa lalu menghampiri korban dan tiba-tiba korban Iangsung memarahi terdakwa dengan mengatakan “se parlente, ose bilang di Mama Dila padahal ose di tampat laeng.

Korban juga memaki-maki terdakwa dan sempat meludahi muka terdakwa, kemudian terdakwa menjawab kepada korban bahwa kalau terdakwa pergi ke rumah Abang Fadli. Karena korban masih memarahi terdakwa maka terdakwa pergi berjalan menuju ke arah jalan raya utama, namun korban mengikuti terdakwa dari belakang, sehingga terdakwa langsung benjalan balik dan berpapasan dengan korban.

Saat itu kembali terjadi pertengkaran mulut antara terdakwa dengan korban, sehingga terdakwa mengajak korban untuk kembali ke kamar kost. Sesampainya di kamar kost, berlanjutlah pertengkaran mulut yang masih sama dengan pertengkaran sebelumnya, dimana terdakwa tetap diam saja namun karena korban mengulang kata-kata makian tersebut membuat terdakwa emosi.

Dan ketika korban berbaring di tempat tidur dalam posisi menyamping menghadap ke tembok kamar, dalam keadaan emosi terdakwa lalu menghampiri korban dan menendang korban menggunakan kaki kanan lebih dari satu kali mengenai pantat sampai pinggul korban, sambil terdakwa katakan kepada korban tentang apa permasalahan sampai bertengkar seperti ini.

Kemudian terdakwa berkata lagi “ose minta beta berubah, beta su berusaha berubah bae par se tapi kanapa se masih curiga-curiga beta lai”, beta pi luar tu seng ada bikin apa-apa, cuma main PUBG saja”. Dan saat itu korban hanya menangis sambil berdiri di dekat dinding kamar sambil korban katakan kepada terdakwa “se belum berubah, se tangan masih kenal beta”.

Lalu terdakwa mengatakan lagi “Nabila beta su berubah da ose juga su tau itu, kanapa cuma salah paham saja se bikin jadi panjang”. Kemudian korban kembali berbicara dan mengatakan “se masih parlente” sambil korban meludahi kearah tembok kamar. Selanjutnya korban kembali berbaring dalam keadaan menangis dalam posisi menyamping tubuh menghadap tembok kamar.

Namun terdakwa yang sudah emosi dengan sekuat tenaga kembali menginjak-nginjak bagian belakang kepala korban dengan menggunakan kaki kanannya sebanyak lebih dari satu kali, kemudian korban berdiri dan ditampar oleh terdakwa sebanyak satu kali menggunakan tangan kanan mengenai pipi kiri korban, sehingga kepala bagian kanan korban mengenai atau membentur dinding kamar.

Saat itu terdakwa langsung mencekik leher korban menggunakan lima jari tangan kanan, dan tubuh korban langsung tersandar ditembok kamar. Kemudian cekikan tersebut terdakwa lepas, tetapi korban masih tetap berdiri. Terdakwa lalu menendang korban menggunakan kaki kanan sebanyak satu kali mengenai bagian rusuk kiri korban.

Terdakwa juga mendorong tubuh korban dari bagian dada menggunakan kedua tangan sampai korban terjatuh diatas kasur, selanjutnya terdakwa berhenti memukul korban dan korban keluar dari kamar lalu terdakwa berbaring di kasur. Selang sekitar tiga menit, terdakwa membuka pintu kamar lalu melihat korban terbaring di lantai dalam posisi tengkurap dengan keadaan tidak sadarkan diri (kaku).

Terdakwa lalu menghampiri korban untuk melihat keadaan korban, dan melihat korban sudah muntah dan mengeluarkan busa/skoin pada hidungnya. Kemudian terdakwa mengangkat korban namun tidak kuat lalu terdakwa menarik pergelangan tangan korban untuk meletakan tubuh korban di atas kasur kamar. 

Selanjutnya terdakwa pergi memangil saksi Ridwan Odar kemudian datang saksi Ridwan Odar bersama-sama saksi Musdadi Banyal dan saksi Siti Fatima Odar dan melihat tubuh korban sudah tidak sadarkan diri (kaku). Melihat keadaan korban yang sudah kaku dan tidak sadarkan diri, maka saksi Musdadi Banyal pergi mencari mobil untuk membawa korban ke rumah sakit, dan diantar oleh saksi lbrahim Ali alias Baim dengan mobilnya menuju Rumah Sakit Bhayangkara Tantui.

Setelah tiba di rumah sakit tantui dan dilakukan pemeriksaan, salah satu seorang petugas rumah sakit lalu menyampaikan kalau korban sudah meninggal. Mendengar perkataan petugas rumah sakit tersebut, terdakwa tidak percaya, kemudian meminta korban dipindahkan ke Rumah Sakit Tentara (RST).

Terdakwa bersama saksi Musdadi Banyal, saksi Siti Fatima Odar serta saksi lbrahim Ali alias Baim dengan mobilnya lalu menuju rumah sakit RST. Sesampainya di RST dan hasil pemeriksaan menyatakan korban telah meninggal dunia. Kemudian pada Jumat sekitar pukul 03.30 Wit, terdakwa membawah pulang mayat korban dari RST ke rumah saksi Ridwan Odar untuk dimakamkan.

Usai mendengar pembacaan dakwaan oleh JPU, Ketua Majelis Hakim Samsudin La Hasan, didampingi dua hakim anggota Felix Ronny Wuisan dan Jenny Tulak, kemudian menunda persidangan hingga Kamis pekan depan, dengan agenda sidang mendengar keterangan saksi-saksi. (RIO)

------ ======================

Berita Populer

To Top