Berita Utama

Pesta Sabu, Ajudan Mantan Wagub Maluku Divonis 5 Tahun Penjara

PENGADILAN Negeri (PN) Ambon menjatuhkan hukuman pidana penjara kepada terdakwa Markus Pattimaipau alias ​​Maku selama lima tahun, dan membayar denda sebesar Rp 1 miliar subsider tiga bulan kurungan. Sebab, perbuatan terdakwa Maku yang adalah ajudan mantan Wakil Gubernur (Wagub) Maluku Zeth Sahuburua, itu terbukti bersalah melakukan tindak pidana mengedar, menguasai, dan pengguna Narkotika jenis sabu-sabu.

“Menyatakan, perbuatan terdakwa Markus Pattimaipau alias ​​Maku terbukti melanggar Pasal 114 ayat (1) Jo Pasal 112 ayat (1) Jo Pasal 127 ayat (1) UU RI No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika,” ucap Ketua Majelis Hakim Hamzah Khailul didampingi dua hakim anggota Lucky Kalalo dan Samsudin La Hasan, saat membacakan amar putusannya, Kamis, 25 Juli 2019.

Terhadap hukuman tersebut, baik Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku J. Pattipeilohy, maupun Penasehat Hukum (PH) terdakwa, sama-sama menyatakan pikir-pikir. Ketua Majelis Hakim Hamzah Khailul kemudian memberikan batas waktu kepada kedua pihak selama tujuh hari untuk segera menyatakan sikap, apakah menerima putusan atau mengajukan banding.

Hukuman yang dijatuhi pengadilan itu lebih ringan dari tuntutan JPU, yang sebelumnya meminta majelis hakim yang mengadili perkara ini agar menjatuhkan hukuman pidana penjara kepada terdakwa selama delapan tahun, dan membayar denda sebesar Rp 1 miliar subsider enam bulan kurungan.

JPU dalam dakwaannya menjelaskan, terdakwa Markus Pattimaipau alias ​​Maku berhasil ditangkap petugas Direktorat Narkoba Polda Maluku saat pesta sabu bersama dua aparatur sipil negera (ASN) pada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku yakni terdakwa Randy Stephen Hogendorp alias Rendy dan terdakwa Taufan Hakim Marasabessy alias Tomi (berkas terpisah), di rumah dinas wakil Gubernur (Wagub) Maluku, Jalan Karang Panjang (Karpan), Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, tepatnya di dalam kamar terdakwa Maku pada Senin, 18 Februari 2019, sekitar pukul 14.00 Wit.

Awalnya, terdakwa Tomi menghubungi terdakwa ​​Maku yang juga seorang anggota Polri berpangkat Bripka pada Senin, 18 Februari 2019, sekitar pukul 10.00 Wit, menanyakan ada barang (sabu) atau tidak. Lalu dijawab oleh terdakwa Maku “ada tapi tunggu sebentar, nanti saya hubungi kamu lagi”.

Kemudian sekitar pukul 12.00 Wit, giliran terdakwa Rendy yang menghubungi terdakwa ​​Maku menanyakan sabu, dan dijawab oleh terdakwa Maku “barang (sabu) ada, kalau mau naik sekarang langsung ke kediaman Wagub Maluku.

Mendengar barang (sabu) ada, terdakwa Rendy langsung menghubungi terdakwa Tomi untuk pergi sama-sama ke rumah dinas Wagub Maluku di Karpan. Dan sekitar pukul 12.30 Wit, terdakwa Rendy dan terdakwa Tomy yang adalah aparat sipil negara (ASN) menuju rumah dinas Wagub Maluku.

Sesampainya di kediaman Wagub Maluku, terdakwa Maku langsung membawa terdakwa Rendy dan terdakwa Tomy ke dalam kamar terdakwa Maku. Kemudian terdakwa Maku mengeluarkan sabu dan diberikan kepada terdakwa Rendy dan terdakwa Tomy untuk dikonsumsi bersama.

Sekitar pukul 13.45 Wit, ketiga terdakwa itu sudah selesai mengkonsumsi sabu, namun masih sementara duduk bercerita didalam kamar. Dan tepatnya pukul 14.00 Wit, datanglah petugas kepolisian dan masuk ke dalam kamar dimana para terdakwa berada.

Dari hasil penggeledahan, petugas kepolisian menemukan plastik ukuran kecil kosong dan alat hisap (bong). Selanjutnya ketiga terdakwa dibawa ke kantor Direktorat Narkoba Polda Maluku di kawasan Mangga Dua, untuk diambil keterangan lebih lanjut.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, dari penangkapan tersebut juga, polisi berhasil menyita barang bukti berupa 26 paket sabu ukuran kecil, dua paket sabu ukuran besar dengan jumlah sebanyak 100 gram, alat hisap atau bong, lima pak klem, dan timbangan.

Untuk satu paket sabu ukuran kecil itu dijual Rp 2,5 juta. Setelah melakukan tes urine, ketiga terdakwa positif mengkonsumsi sabu. Dalam kasus tersebut, Bripka Mako berperan sebagai bandar.

Penangkapan ketiga tersangka itu dilakukan setelah polisi melakukan pengembangan atas seorang tersangka kasus narkoba yang ditangkap sebelumnya di sebuah penginapan di Kota Ambon.

Dalam persidangan kasus ini, dua ASN pada Pemprov Maluku, yakni terdakwa Randy Stephen Hogendorp alias Rendy dan terdakwa Taufan Hakim Marasabessy alias Tomi, telah divonis Pengadilan Negeri (PN) Ambon selama delapan bulan penjara, karena terbukti melanggar Pasal 127 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009 Tentang Narkotika.

Terhadap hukuman tersebut, baik Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku J.W. Pattiasina maupun Penasehat Hukum (PH) terdakwa, Alfred V. Tutupary SH, sama-sama menerima putusan pengadilan. Ketua Majelis Hakim Hamzah Khailul kemudian menetapkan perkaranya telah berkekuatan hukum tetap (inkrach).

Hukuman yang dijatuhi pengadilan itu lebih ringan dari tuntutan JPU, yang sebelumnya meminta majelis hakim yang mengadili perkara ini agar menjatuhkan hukuman pidana penjara kepada kedua terdakwa itu selama satu tahun dua bulan (1,2), dikurangi selama terdakwa ditahan. (RIO)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Populer

To Top