Uncategorized

Mina Dan Insiden Terowongan Itu

Di tempat saya berdiri ini dulu pernah saya lewati dan menjadi satu-satunya jalur masuk dan keluar bagi jamaah haji saat melontar pada musim haji 2006. Kini, seiring bertambahnya jumlah jamaah haji pemerintah Arab Saudi telah menambah tiga buah terowongan baru lagi.

HARI kedua setelah melontar di Mina saya mencoba melewati Terowongan Mina. Inilah terowongan yang sempat menghbohkan dunia menyusul tragedi jamaah haji di terowongan itu.

Menyebut nama Mina tentu mengingatkan kita tentang insiden paling mematikan itu. Terowongan dengan nama Al-Muassim, ini pernah terkenal 29 tahun lalu tepatnya 2 Juli 1990. Terowongan sepanjang 550 meter dengan lebar delapan meter yang menghubungkan Kota Mekkah dengan Mina itu pernah membuat heboh setelah terjadi desakan yang dipenuhi lebih 50.000 jamaah haji dalam terowongan saat melontar menyusul tidak berfungsinya blower dan padamnya aliran listrik.

Insiden itu mengakibatkan 1.000 orang meninggal dunia. 600 orang diantaranya adalah jamaah haji Indonesia. Kabar duka dari tanah Arab itu membuat pemerintah Indonesia di era Pak Harto mengeluarkan instruksi kepada rakyat Indonesia untuk mengibarkan bendera Merah Putih setengah tiang selama sepekan sebagai tanda hari berkabung nasional.

Tragedi yang terjadi lebih 29 tahun tersebut coba saya kunjungi Senin pagi, (12/8/19), ini usai melontar. Ini untuk kedua kalinya saya gunakan jalur ini setelah sebelumnya pada musim haji 2006 saya lewati saat melontar.

Terowongan yang diarsiteki oleh arsitek Prancis tersebut kini tak lagi menjadi jalur vital. Sebab, sudah begitu banyak jalur-jalur alternatif yang memungkinkan tak lagi terjadi penumpukan jamaah haji saat melontar.

Paling tidak sudah ada tiga jalur baru yang menghubungkan tempat melontar. Dengan bertambahnya tiga terowongan baru berarti kini sudah ada empat terowongan untuk menghubungkan jamaah haji dari arah gunung di dataran Arafat ke lokasi jamrat.

Terowongan yang membelah gunung berbatu ini menjadi jalur masuk dan keluar melontar bagi jamaah haji asal Indonesia, Turki, Pakistan, dan Afrika. Inilah jalur yang tergolong padat untuk menampung lebih 4,5 juta jamaah haji.

Untuk terowongan yang dulunya pernah menghebohkan dunia (lihat gambar di tempat saya berdiri) itu kini hanya dibuka sebagai jalur alternatif khususnya bagi jamaah haji yang pulang melontar. Umumnya jamaah haji asal Indonesia melewati jalur ini karena tak jauh dari bibir di jalur masuk terowongan tersebut banyak dihuni jamaah haji Indonesia di kamp-kamp haji. Tapi, jalur ini juga oleh aparat keamanan bisa digunakan untuk jamaah haji yang pergi atau pulang melontar tergantung kondisi jumlah jamaah haji.

Selain tiga terowongan baru, di sebelah utara di sisi gunung dataran Arafat ini juga sudah dibangun lagi jalur baru yang sangat luas sekali. Gunung bebatuan itu digusur dan dibuat menjadi dua jalur dengan sangat lebar.

Jalur ini tentu menjadi jalur alternatif. Bagi mereka yang tinggal di kamp-kamp. Bagi mereka jamaah haji yang umumnya berkebangsaan Afrika, Turki, Pakistan, juga Indonesia, itu.

Mereka yang tinggal di jalur ini tentu tak perlu lagi berputar ke arah melewati Terowongan Mina sebagaimana dulu. Bagi yang pergi melontar cukup keluar dari maktab (tempat tinggal) mereka bisa langsung ke jalur ini dengan jalur tempuh 2 jam berjalan kaki.

Dengan begitu banyak dan begitu lebar jalur-jalur alternatif termasuk tempat areal melontar: Jamrah Aqbah, Wusta, dan Ullah, yang dibuat tiga lantai, tidak memungkinkan lagi terjadi penumpukan jamaah haji.

Kalaupun pada saat yang sama jamaah haji datang dengan jumlah banyak, aparat keamanan tentu bisa dengan mudah menghalau dengan cara membuat sekat atau membuat jalur buka-tutup sehingga konsentrasi jamaah haji bisa dipecah atau dihalangi masuk sebelum jamaah haji yang lain menyelesaikan pekerjaan melontar selesai. Setelah jamaah haji yang datang berkurang di tempat pelontaran barulah aparat keamanan membuka kembali jalur atau mengijinkan jamaah haji memasuki areal melontar.

Dari beberapa pengalaman atas insiden di Mina 29 tahun itu — dan tidak ingin dinilai negatif oleh dunia luar dan berpotensi melanggar HAM dalam penanganan masalah perhajian sejak peristiwa Terowongan Mina dan beberapa kejadian lainnya, pemerintah Arab Saudi kini telah membangun dan menyediakan begitu banyak fasilitas perhajian termasuk menambah tiga terowongan baru dan jalur baru di sayap utara dataran Arafat dengan menggunakan teknologi tinggi untuk memudahkan bagi jamaah haji dalam beribadah.

Kini, para jamaah haji di musim haji 2019 ini tengah bersiap-siap kembali ke Makkah. Setelah menyelesaikan hari ketiga melontar tiga di lokasi jamarat: Aqabah, Wusta, dan Ulla, khususunya yang mengambil Nafar Awal, mereka sudah bisa kembali ke Makkah untuk mengambil salah satu rukun haji yakni Tawaf Ifadah. Dan, bagi mereka yang mengambil Nafar Akhir masih menambah satu hari lagi bermalam di Mina untuk melontar.

Setelah menyelesaikan Tawaf Ifadah di Kakbah mereka akan melanjutkan dengan Tawaf Wadah atau Tawaf Selamat Tinggal. Selanjutnya, mereka pun kembali ke Tanah Air masing-masing. Semoga mereka menjadi haji yang mabrur dan mabrurah.(DIB)

------ ======================

Berita Populer

To Top