NEWS UPDATE

Berbohong Soal Proyek WFC Namlea, Hakim ‘Semprot’ Sahran Umasugi

PENGADILAN Tipikor Ambon kembali menggelar sidang perkara korupsi proyek pembangunan reklamasi pantai atau water front city (WFC) Namlea, tahap I tahun 2015 sebesar Rp 5,5 miliar dan tahap II tahun 2016 sebesar Rp 3 miliar lebih yang bersumber dari APBN melalui Dinas PU Kabu­paten Buru, Rabu, 18 September 2019.

Dalam persidangan, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku menghadirkan anggota DPRD Kabupaten Buru dari Fraksi Partai Golkar, Sahran Umasugi, yang adalah adik kandung Bupati Buru Ramly Umasugi, sebagai saksi mahkota untuk tiga terdakwa.

Yakni, terdakwa Sri Julianti selaku Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK), terdakwa Muhammad Ridwan Pattylouw selaku konsultan pengawas, dan terdakwa Muhamad Duwila alias Memet selaku penerima kuasa direksi dari PT. Aego Media Pratama.

Kepada majelis hakim, saksi Sahran Umasugi yang juga berstatus terdakwa dalam kasus ini membantah bahwa proyek pembangunan reklamasi pantai atau water front city (WFC) Namlea bukan miliknya.

Menurutnya, proyek yang telah merugikan keuangan daerah dan negara sebesar Rp 6,6 miliar itu milik PT. Aego Media Pratama. Sebab, seluruh anggaran proyek dikirim ke nomor rekening perusahaan tersebut selaku pelaksana proyek.

“Setahu saya proyek WFC Namlea itu milik CV. Aego Pratama, karena perusahaan itulah yang memenangkan tender proyek. Lagipula anggaran proyek tahap I dan tahap II nya langsung dikirim ke rekening CV Aego Pratama,” tepis Sahran.

Dijelaskan, dirinya juga baru mengetahui bahwa direktur utama CV. Aego Pratama adalah Mulyadi, setelah proyek pembangunan WFC Namlea bermasalah hukum dan mulai diusut Kejati Maluku.

“Proyek WFC itu adalah milik CV. Aego Pratama, bukan milik saya. Saya tidak tahu menahu terkait proyek itu. Saya hanya menerima Rp 310 juta dari proyek itu, dan uang itu sudah digunakan untuk membayar hutang,” tutur Sahran.

Mendengar keterangan saksi Sahran Umasugi, Ketua Majelis Hakim Christina Tetelepta langsung ‘menyemprot’ Sahran Umasugi, karena menilai keterangannya tidak sinkron dengan keterangan saksi-saksi sebelumnya, yang menyatakan bahwa proyek WFC Namlea milik Sahran Umasugi.

“Tolong saudara saksi (Sahran) jujur ya, karena semua saksi sebelumnya sudah menjelaskan peran saksi di kasus ini. Kalau terus berbohong maka resikonya ditanggung sendiri,” katanya mengingatkan.

Ketua Majelis Hakim Christina Tetelepta didampingi dua hakim anggota, R. A Didi Ismiatun dan Hery Leliantono, kemudian menunda persidangan hingga Rabu pekan depan, dengan agenda sidang mendengar keterangan saksi-saksi lainnya yang dihadirkan JPU Berthi Tanate dan Prasetya Djati Negara. (RIO)

------ ======================

Berita Populer

To Top