Berita Utama

Krisis Air, Warga Batu Badiri Hatu Tempuh Jarak 1 Kilometer

KRISIS air bersih yang dialami warga Dusun Batu Badiri, Negeri Hatu, Kecamatan Leihitu Barat, Kabupaten Maluku tengah membuat mereka harus menempuh jarak 1 kilometer untuk mendapatkan air dari sumur warga.

Pantauan RakyatMaluku.com di lokasi, warga dengan jumlah 30 Kepala Keluarga (KK) di Dusun tersebut selalu antri mengambil air di sumur milik keluarga Sopice Rahawarin yang jaraknya kurang lebih dari 1 kilometer.

Riane Maspaitela, salah seorang warga Dusun itu mengatakan, untuk mendapatkan air bersih setiap harinya mereka berjalan kaki sambil menenteng jirigen berisi air bahkan harus menaiki tanjakan.

“Sudah sejak tahun 2008 kami tidak mendapatkan air bersih untuk kebutuhan minum, mencuci, mandi dan lainnya. Mau dan tidak mau kami terpaksa berjalan kaki ke tempat sumur berada,” tuturnya kepada RakyatMaluku.com ini saat dijumpai di lokasi tinggalnya, Senin 9 September 2019.

Menurutnya, sumur di situ menjadi andalan warga setempat untuk memenuhi kebutuhan air bersih apalagi pada musim panas seperti sekarang. Sumur itu menyimpan air yang cukup bagi warga sekitar.

Ia juga mengatakan, mereka pernah meminta bantuan banyak kepada Pemerintah namun permintaan itu sampai saat ini tidak digubris sama sekali.

“Kami sudah meminta untuk adakan air bersih waktu Bapak Wakil Bupati Maluku Tengah turun di daerah kami sampai dua kali. Dan Beliau pun mengaku nanti akan dibuat air bersih di sini sampai sudah mau selesai masa periodenya tapi tidak terealisasi”. Kesalnya.

Sementara itu, pada pelaksanaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan di Desa Hatu beberapa waktu lalu, ada sebuah program yang mana untuk menaikan pipanisasi sampai ke tempat tinggal mereka. Mirisnya, sampai sekarang program tersebut belum juga dilaksanakan.

“Saya pernah menanyakan nasib kami terhadap persoalan air kepada Pemerintah, namun kata mereka lokasi di situ terlalu tinggi,” katanya.

Atas persoalan itu, dirinya berharap kepada Pemerintah terutama Gubernur Maluku Murad Ismail, Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah maupun kepada Pemerintah Desa Hatu untuk segera melihat kondisi mereka saat ini.

“Sekarang sudah tahun 2019. Tapi kehidupan kami seperti berada pada jaman Indonesia belum merdeka,” tandas Riane. (MHS)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Populer

To Top