Berita Utama

PH Memet Lapor Istri Terdakwa Sahran Umasugi Ke Kejaksaan

Ilustrasi

ABDUSYUKUR Kaliky, SH, Penasehat Hukum (PH) terdakwa Muhamad Duwila alias Memet, memastikan akan melaporkan Kepala Seksi Kas Daerah pada Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD) Kabupaten Buru Halija Somia, istri dari terdakwa Sahran Umasugi, ke Kantor Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku.

Sebab, berdasarkan fakta persidangan perbuatan Halija Somia telah terbukti turut serta membantu melakukan tindak pidana kejahatan dalam kasus dugaan korupsi proyek pembangunan Water Front City (WFC) Namlea tahap I tahun anggaran 2015 dan tahap II tahun anggaran 2016, sebagaimana diatur dan diancam dalam Pasal 55 KUHP.

“Saksi Halija Somia telah mengakui turut membantu dalam kapasitasnya sebagai kepala seksi kas daerah pada DPPKAD Kabupaten Buru, dengan mentransfer uang proyek tahap I sebesar Rp 1,1 miliar atas perintah dari suaminya. Untuk itu, kami akan melaporkan Halija Somia ke Kejaksaan dan meminta Jaksa untuk segera menetapkannya sebagai tersangka dalam kasus ini,” tegasnya, saat dikonfirmasi RakyatMaluku.com Sabtu 7 September 2019.

Selain turut serta membantu mentransfer uang sebesar Rp 1,1 miliar dari Bank Maluku Cabang Namlea ke nomor rekening BNI milik suaminya (Sahran Umasugi), saksi Halija Somia juga diduga turut serta menikmati uang yang bersumber dari anggaran proyek WFC Namlea tahap II tahun anggaran 2016.

Hal itu, lanjut Abdusyukur Kaliky, juga terungkap dalam fakta persidangan dengan mendengar keterangan saksi Darma Tuanakotta, suami dari Direktur CV. Sulaida, yang juga menantu dari terdakwa Sahran Umasugi.

“Saksi Darma Tuanakotta mengaku bahwa sebagian anggaran proyek tahap II sebesar Rp 1,1 miliar itu ditransfer ke rekening CV. Sulaida. Kemudian uang itu ditarik olehnya dan diserahkan kepada terdakwa Sahran dan istrinya (Halija Somia),” ungkap Kaliky.

Sebagaimana diberitakan koran ini sebelumnya, saksi Halija Somia dalam persidangan menjelaskan, awalnya Munir Letsoin orang suruhan terdakwa Sahran Umasugi datang ke Bank Maluku Cabang Namlea untuk mencairkan anggaran proyek tahap I sebesar Rp 1,1 miliar.

Namun pihak bank menolak karena Munir Letsoin bukanlah pihak yang berwenang untuk mencairkan anggaran proyek. Selanjutnya, Munir Letsoin melaporkan kendala yang dialaminya itu ke terdakwa Sahran Umasugi, terdakwa Sahran lalu menghubungi saksi Halija selaku Kepala Kasda DPPKAD Kabupaten Buru untuk membantu Munir Letsoin mencairkan anggaran proyek di bank.

“Atas perintah dari pak Sahran, lalu Munir Letsoin menjemput saya untuk sama-sama ke bank guna mencairkan anggaran Rp 1,1 miliar. Setelah anggaran dicairkan, lalu saya mentransfer semuanya ke nomor rekening pak Sahran,” bebernya.

Dalam fakta persidangan juga, saksi Darma Tuanakotta mengaku bahwa proyek pembangunan W­FC Namlea tahap I tahun 2015 sebesar Rp 5,5 miliar dan tahap II tahun 2016 sebesar Rp 3 miliar, adalah milik bapak mertuanya. Yakni, terdakwa Sahran Umasugi, anggota DPRD Kabupaten Buru asal fraksi Partai Golkar.

Menurut saksi Tuanakotta, untuk menutupi kepemilikan proyek tersebut, adik kandung Bupati Buru Ramly Umasugi itu (Sahran) kemudian meminjam pakai CV. Aego Media Pratama, dengan menunjuk terdakwa Muhammad Duwila alias Memet selaku penerima kuasa direksi dari CV. Aego Media Pratama untuk mengerjakan proyek WFC Namlea.

Dalam pelaksanaannya, lanjut Tuanakotta, dirinya diminta terdakwa Sahran Umasugi untuk membantu terdakwa Memet selaku kuasa direksi untuk menyelesaikan pekerjaan tahap II proyek WFC Kota Namlea tahun 2016. Pasalnya, masa kontrak pekerjaan tahap II hampir selesai.

“Saya disuruh pak Sahran untuk membantu terdakwa Memet menyelesaikan pekerjaan tahap II, dengan cara membuat adendum waktu. Adendum waktu itu dibuat sebanyak dua kali, pertama pada 1 Juli 2016 dan kedua pada Januari 2017,” beber Tuanakotta.

Alasan lain dibuat adendum waktu, lanjut saksi, karena pengadaan tiang pancang sebanyak 130 tiang untuk proses pembangunan proyek WFC Namlea baru dibayarkan 34 tiang. Sehingga sisianya sebanyak 96 tiang masih berada di Surabaya, Jawa Timur.

“Adanya adendum sebanyak dua kali pada pekerjaan tahap II proyek WFC Namlea untuk mempercepat proses pencairan anggaran 95 persen dari total nilai kontrak proyek sebesar Rp 3 miliar lebih. Dan semua yang dilakukan itu karena adanya perintah dari pak Sahran,” ungkap menantu Sahran Umasugi itu.

Selain melakukan adendum waktu, saksi Tuanakotta juga mengaku bahwa dirinya bersama dengan Kadis PU Kabupaten Buru Sifa Alatas selaku KPA proyek tahap II WFC Namela dan terdakwa Memet menandatangani surat perintah pencairan dana (SP2D) untuk pembangunan tahap II proyek WFC Namlea.

“Setelah pencairan dilakukan, anggaran sebesar Rp 1 miliar lebih itu kemudian dikirim ke rekening CV. Sulaida yang adalah milik saya dan istri saya. Namun anggaran Rp 1 miliar lebih itu kemudian ditarik lagi dan diberikan kepada Sahran Umasugi dan istrinya (Halija Somia),” jelas Tuankotta. (RIO)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Populer

To Top