Opini

CERITA SEPEKAN PASCA GEMPA

Oleh : Imam Musonef S.Ag
           Ketua Komisi Dakwah MUI Kota Ambon

GEMPA yang terjadi pada hari kamis tanggal 26 September 2019 yang berkekuatan 6.8 SR pada pukul 08.46 WIT yang berpusat di Kairatu pulau Seram telah menggoyang pulau Ambon serta pulau-pulau disekitarnya. Akibat gempa hingga kini masih menyisakan duka dan kecemasan yang mendalam pada masyarakat.

Terhitung dalam kurun waktu lima puluh tahun terakhir, belum pernah terjadi gempa sedahsyat itu. Gempa yang telah merenggut lebih dari 30 nyawa dan puluhan orang luka-luka dan hampir keseluruhan korban disebabkan oleh reruntuhan bangunan. Kerugian material pastinya sangat besar, terhitung lebih dari seribu rumah dan bangunan yang roboh atau rusak berat, rusak sedang dan ringan.

Isue-isue gempa susulan yang disertai tsunami menjadi cerita liar yang seolah benar-benar akan terjadi dan hanya tinggal menghitung hari. Belum lagi ketika cerita-cerita itu mereka bumbui dengan bahan yang beraroma mistis, sehingga menyebabkan masyarakat yang sudah satu pekan mengungsi ke bukit-bukit, enggan kembali terutama saat malam hari. Beragamnya cerita dan isue seolah mengabaikan informasi dari BMKG bahwa gempa yang terjadi tidak berpotensi tsunami.

Ditengah pengungsi yang tersebar di puluhan titik dengan jumlah ribuan jiwa. Setiap orang ketika ditanyakan mengapa tidak segera kembali ke rumah masing-masing, jawaban mereka pun bermacam ragam. Ada yang bilang bahwa potensi gempa besar akan terjadi dengan tanda-tanda alam yang mereka saksikan. misalnya ikan-ikan di laut yang tiba-tiba mati massal sebelum kejadian gempa tanggal 26, air laut yang naik, gelembung besar yang muncul dari dalam lautan, tanah-tanah yang tiba-tiba berlubang mengeluarkan air, binatang seperti ayam yang berkokok tidak seperti biasanya dan masih banyak cerita-cerita untuk memberikan ketetapan hati untuk tetap bertahan di pengungsian.

Di Kecamatan Kairatu misalnya, ketika saya tanyakan kepada salah seorang bapak kenapa tidak kembali saja ke rumah, dia menjawab bahwa masih menunggu hingga tanggal sepuluh ini, karena menurutnya pada tanggal itu akan terjadi bencana besar sebagaimana yang gempa pernah terjadi di Aceh.

Lain di Kairatu lain pula di kota Masohi, sekalipun dampak gempa di Masohi tidak separah di tempat lain namun para pengungsi sampai saat ini masih tetap bertahan di dataran yang lebih tinggi. Bahkan tempat pengungsian mereka saat ini jauh lebih ramai dibandingkan di dalam kota Masohi sendiri. Penduduk Masohi terutama yang tinggal di pesisir pantai bahkan sejak dari satu minggu sebelumnya telah menyiapkan diri untuk mengungsi, seolah ramalan-ramalan yang mereka peroleh benar-benar menjadi keyataan, entah dari nama sumbernya tetapi mereka sangat meyakini akan hal itu.

Tadi pagi lagi-lagi saya mencoba untuk menggali cerita dari salah seorang penduduk kota Masohi yang juga ikut mengungsi dikala malam hari. Menurutnya keyakinan masyarakat bahwa bencana akan terulang kembali bukan tidak berdasar, ada cerita tentang seorang anak kecil yang katanya kesurupan dan kata si anak akan terjadi bencana besar, dan ini sudah viral di telinga para pengungsi. Bahkan menurut sang bapak itu, seorang pemuka agama yang menjadi rujukan umatnya pun sangat mempercayai hal-hal yang berbau ramalan seperti itu, sehingga ia pun setiap malam juga menjadi bagian dari ratusan pengungsi.

Tidak bisa dipungkiri bahwa rata-rata para pengungsi melek teknologi, mereka juga terbiasa mencari informasi lewat internet, browsing melalui google. Tentang gempa di pulau Seram yang pernah terjadi pun mereka peroleh dari internet. Konon menurut mereka siklus gempa terjadi setiap seratus tahun sekali. Penasaran, saya pun mencoba googling, dan benar saya temukan pada halaman di web wikipedia tulisan tentang itu.
“Pada 30 September 1899, Pulau Seram, Hindia Belanda (sekarang Indonesia), diguncang oleh gempa bumi berkekuatan 7.8 Ms, yang disertai oleh tsunami 10 meter. Menurut Observatorium Meteorologi dan Magnetik Batavia, guncangan tersebut terjadi pada pukul 01:42.2 waktu setempat. Kajian Dr. R. D. M. Verbeek soal gempa tersebut dan dampaknya diterbitkan dalam Short Report about the earth- and sea-quake in Ceram, the 30th September 1899, dan merupakan satu-satunya sumber ekstensif tentang gempa bumi pulau Seram. Dasar informasi itu pula rupanya menjadi motivasi mereka untuk tetap bertahan.”

Sebagai bagian dari masyarakat Maluku, saya pun ingin berbuat seperti yang dilakukan orang lain yakni turut berkontribusi membantu mereka para pengungsi dengan memberikan bantuan penguatan spiritual kepada masyarakat agar mereka tidak mudah percaya dengan isue-isue yang berseliweran yang tidak berdasar, sekaligus mengajak untuk lebih meyakini bahwa Tuhan yang maha kuasa tidak pernah semena – mena dengan hambaNya. Maka tawakal setelah ikhtiar jauh lebih penting daripada menunjukkan rasa cemas yang tidak berdasar ilmu pengetahuan, apalagi jika kekwatiran mereka tidak lagi terukur dengan waktu.

Setiap kali saya berbincang soal musibah gempa, selalu saya sisipkan pandangan agama dalam menyikapi musibah. Bahwa yang namanya musibah kita tidak tahu kapan datangnya dan akan menimpa siapa dan dimana tempatnya. Musibah bisa terjadi karena Tuhan hendak menguji hambaNya atau hendak menegurNya. Jika musibah yang terjadi karena teguran, maka sebagai manusia kita harus instropeksi, boleh jadi karena banyaknya perilaku dosa yang selama ini berjalan begitu saja. Maka untuk keluar dari trauma atau ketakutan akan bencana tidak semata lari mencari tempat perlindungan, sementara tetap saja mengabaikan kekuasaan Tuhan yang maha melindungi.

Maka mari sama-sama kita saling bergandeng tangan untuk saling membantu saudara-saudara kita yang tertimpa musibah, baik bantuan fisik berupa memberikan bantuan makanan dan kebutuhan lain, juga membantu pada masalah psikis mereka dengan mengarahkan pikiran dan hati mereka pada kemahakuasaan Tuhan.

Jika kita percaya bahwa Tuhan kuasa atas segala sesuatu maka percaya bahwa dengan taat padaNya maka Tuhan akan menjauhkan dari bencana, dan itu jauh lebih penting daripada sekedar melarikan diri dari bencana.

Jika tidak segera diakhiri, maka masalah pengungsi bukan saja menjadi masalah kebutuhan makan dan minum yang kata pak wiranto akan membebani pemerintah, namun masalah sosial antar pengungsi itu sendiri. Karena biar bagaimanapun namanya tempat pengungsian bersifat darurat dan sementara.

Doa adalah kunci seseorang atau masyarakat merasakan dekat dengan Tuhan dan doa juga bisa menjadi sebab dijauhkannya manusia dari bencana. Maka mengajak, mendorong untuk terus berdoa juga sangat penting untuk dihadirkan di tengah-tengah kegelisahan mereka.(***)

|| Baca terus berita update di Harian Rakyat Maluku dan rakyatmaluku.com

------ ======================

Berita Populer

To Top