Feature/Khas

Menantang Bahaya Demi Menyalurkan Bantuan

Elen, Srikandi Pengungsi Gempa Maluku

Luar biasa memang perempuan yang satu ini. Di saat banyak wanita muda Maluku memilih berada di rumah-rumah, bahkan ada juga yang mengungsi. Ia justeru turun ke tenda-tenda pengungsi untuk menyalurkan bantuan. Berkut sekelumit cerita sepak terjangnya saat membantu pengungsi gempa Maluku.


Laporan: Jonathan Madiuw
                     rakyatmaluku.com

BANYAK orang mungkin belum kenal dia. Masih muda, tapi kecintaannya bagi Maluku tidak diragukan lagi. Rasa cinta kepada daerah inilah yang memacu dia akhirnya berinisiatif menjadi penyalur bantuan bagi para pengusngi gempa di wilayah Maluku yang terdampak. Namanya, Elen N Kurmasela. Jebolan magister Universitas Kristen Satya Wacana ini bisa saja diberi predikat ‘srikandi pengungsi gempa Maluku’.
Bagaimana tidak, dengan GLA Production-nya, pascagempa melanda Ambon, Seram Bagian Barat (SBB) dan Maluku Tengah, Elen bersama krunya sudah keliling semua lokasi terdampak untuk menyalurkan bantuan.

Bantuan yang disalurkan bermacam-masam. Ada air mineral, obat-obatan, beras, gula, susu dan biscuit untuk bayi dan balita, pempers untuk bayi dan manula, kacang hijau dan berbagai bahan pokok lainnya seperti minyag goreng, tikar, terpal untuk tenda dan sebagainya.
”Kebetulan kita dibantu Aqua Danone untuk air mineral, ada juga bantuan pribadi dari basudara Maluku yang ada di luar, termasuk dari Belanda. Bantuannya berupa uang yang kemudian dibelanjakan sesuai kebutuhan pengusngi,” ujarnya kepada Rakyat Maluku, tadi malam.
Elen mengisahkan, ia mulai bekerja menyalurkan bantuan sejak tanggal 28 September, dua hari setelah gempa Magnitudo 6, 5 SR mengguncang.

”Kami sudah keliling. Awalnya, kami mulai dari Rumahtiga. Tapi kami kemudian dapat informasi bahwa ternyata ada wilayah yang benar-benar terdampak, dimana rumah dan bangunan roboh, seperti di Liang, Wai, Tial, Mamala, Morela, Hutu, juga Suli atas dan Suli Bawah, Waitatiri, Lembah Argo, Benteng Karang, Batugong Atas dan Passo belakang kantor Klasis. Itu kalau yang di pulau Ambon,” ujarya.
Untuk di pulau Haruku yang juga menurutnya merupakan daerah terdampak, pihaknya baru menyalurkan bantuan ke Oma, Sameth dan Haruku. ”Besok ini baru kita akan melakukan trip ketiga ke Hulaliu, Pelau, Kabau, Rohomony Kalilo dan Kariu. Bantuan yang sama akan kami antarkan ke sana,” tambah Elen.

Elen juga mengaku sudah menyambangi pengungsi di Pulau Seram seperti di Kairatu, Hatusua dan Kamarian. Ia mngaku sangat senang bisa menyalurkan bantuan bagi para pengungsi. Namun tak jarang ia juga menemui tantangan mencekam. Apalagi sebagai seorang perempuan muda. ”Oh banyak. Intinya ada juga yang nakal. Ada juga yang merampas bantuan yang kami bawa di tengah jalan. Ada yang menggunakan motor, mepet, lalu terik beras kemudian tancap gas. Ada juga yang mencegat kami dengan parang. Tapi, intinya, masyarakat itu tidak bisa disalahkan. Semua mereka butuh bantuan. Lalu orang Maluku ini kalau diberikan penjelasan dengan baik-baik, mereka bisa terima,. Itu yang bagus,” cerita dia sembari menolak memberitahu lokasi mana tepatnya ia bersama timnya diancam.

Elen juga sempat mengisahkan, saat mendistribusikan bantuan, ada jalur bahaya yang harus dilewati. ”Di Desa Tengah-Tengah misalnya, ada jalan yang longsor dan pinggirannya itu jurang yang terjal. Belum lagi cerita soal gempa yang dialami saat penyaluran bantuan atau dalam perjalanan,,” ungkapnya.

Namun Elen tetap yakin bahwa ia tetap ada dalam lindungan Tuhan Yang maha Kuasa. ”Kalau sepanjang maksud kita, untuk menoling sesama, Tuhan pasti tidak lepas tangan dari kita. Itu yang membuat saya selalu kuat.” tukas nona manis ini.

Elen menambahkan, saat ini, pihaknya hanya betul-betul fokus untuk menyalurkan bantuan kepada wilayah yang benar-benar terdampak, yaitu wilayah yang rumah dan bangunan mengalami kerusakan, sehingga belum bisa kembali. Satu hal yang diakui Srikandi Maluku ini, gempabumi beruntun di Ambon membawa makna tersendiri. Kehidupan persaudaraan Salam-Sarani di Maluku semakin erat. ”Itu yang saya lihat. Orang Muslim dengan orang Kristiani semakin akrab saja. Ini hal positif. Ya, mungkin ada maksud Tuhan dari semua ini,” pungkas dia.

Elen juga mengaku, saat penyaluran bantuan, pihaknya sempat dihubungi pihak pemerintah kota yang mencemaskan ia bersama tim menyalurkan bantuan ke lokasi yang tidak tepat. Ia dan tim diminta untuk menghentikan penyaluran. ”Dari pihak Pemerintah Kota Ambon bilang kami tidak punya data jumlah korban dan pengungsi sehingga ditakutkan kami salah sasaran. Mereka juga takutkan ada pengungsi yang dapat doble. Tapi saya bilang, hal itu tidak perlu dikuatirkan. Kalau ada yang dobel ya, itu rejeki mereka. Kalau ada yang tipu, itu tanggungjawab mereka dengan Tuhan. Pemerintah tidak bisa membatasi orang untuk menyalurkan bantuan. Kami sebagai penyalur juga akan bertanggungjawab kepada pemberi bantuan,” tegas dia.

Kenyataannya, lanjut dia lagi, yang terjadi di lapangan justeru lain. Banyak pengungsi yang belum tersentuh bantuan dari pemerintah. Padahal bantuan dari pemerintah pusat, termasuk dari Presiden RI sudah diberikan. ”Mereka bilang, dari pemerintah datang ambil data terus tapi bantuan tidak sampai. Yah, kalau sudah ada bantuannya kenapa ditahan-tahan? Kasihan, basudara kita yang ada dalam tenda-tenda darurat di gunung-gunung itu sangat mebutuhkannya,” timpalnya.
Di ujung pembicaraannya, Elen juga menyesalkan ketidaksigapan pemerintah dalam menghadapi bencana ini. Padahal, bencana bukan pertama kali terjadi di daerah ini. Ia mencnotohkan, hari pertama ada yang memanfaatkan kondisi menakut-nakuti orang agar lari sehingga banyak rumah yang kecurian. ”Mestinya pemerintah bisa menenangkan masyarakat agar tidak panik berlebihan,” saran Elen.

Mantan dosen di IAKN Ambon ini juga mengaku tidak mudah untuk mengimbau masyarakat kembali ke rumah. Apa lagi gempa susulan terus terjadi. Tapi yang harus dilakukan pemerintah adalah melakukan trauma healing.  ”Iya terhadap mereka harus dilakukan trauma healng agar ketakutan bisa teratasi. Ini juga penting bagi anak-anak yang ada di pengusngian. Buatlah anak-anak itu happy agar rasa takut bisa hilang, mereka jangan dibiarkan terus pikir bahwa akan terjadi tsunami dan sebagainya,” imbuhnya.

Ia juga mengatakan, yang penting untuk dilakukan pemerintah saat ini adalah sosialisasi mitigasi bencana. ”Yang kami temui, tidak semua wilayah di daerah ini sudah dilakukan sosialisasi mitigasi. Hanya di tempat-tempat tertentu saja. Karena itu, sebelum terlambat, pemerintah sudah harus menggalakannya. Ini semata untuk kepentingan kita bersama,” ujar Elen lagi.

Elen memang tulus membantu masyarakat dan daerah Maluku yang sangat dicintiainya. Dengan gerakan kecilnya ini, Elen ingin jadi lilin untuk menerangi yang lain, sebagaimana yang ditulisnya pada laman facebooknya. ”Seng minta banya Upu Yesus e,, biar jadi lilin kacil di tengah dunia yang pono deng hiruk pikuk kesombongan, keangkuhan deng kegoisan dunia ini jua Upu Yesus,, Biarlah perbuatan-perbuatan kecil ini Bapa Berkati, baik bagi dong yang membutuhkan, maupun bagi katong yang menyalurkan, serta basudara dong yang menyumbangkan. Berkat melimpah di tiap hari par katong samua.” (***)

------ ======================

Berita Populer

To Top