I Like MONDAY

AM.Sangadji

TAHUN ini agaknya sepi dari pemberitaan seputar usulan nama-nama tokoh pejuang asal Maluku yang diusulkan ke pemerintah pusat untuk ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Hingga tiba hari H tanggal 10 Nopember 2019 sebagai Hari Pahlawan Nasional kemarin tak ada nama calon pahlawan Maluku yang masuk nominasi. Dari beberapa nama, satu di antara pejuang tokoh nasional asal Maluku yang pernah diorbitkan AM.Sangadji. Sayang, nama tokoh asal Rohomoni itu juga ikut meredup.

AM.Sangadji atau nama lengkap Abdul Muthalib Sangadji adalah satu di antara tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia asal Maluku yang ikut ambil bagian dalam sejarah penting menuju Indonesia merdeka. Almarhum merupakan tokoh sentral Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) bersama dua rekannya yang lain yakni H.O.S. Tjokroaminoto, dan H.Agus Salim.

Jika dua sahabatnya itu oleh negara telah diakui sebagai pahlawan nasional maka tidak demikian dengan A.M.Sangadji. Tokoh kelahiran Rohomoni, Uly Hatuhaha, Maluku Tengah, 3 Juni 1889, itu dikenal sebagai pejuang yang berani, jujur dan sederhana.

Untuk mendapatkan pengakuan sebagai pahlawan nasional ada sebuah buku berjudul: AM. Sangadji Menuju Indonesia Merdeka yang ditulis oleh Sam Habib Mony ini bisa menjadi langkah awal yang baik untuk memperkenalkan lebih dekat sosok AM.Sangadji dalam sejarah perjuangan perebutan kemerdekaan Indonesia bersama dua sahabatnya itu.

Kita tentu patut berterima kasih kepada Pak Sam Habib Mony atas prakarsanya menerbitkan buku ini. Sebab dengan membaca buku ini setidaknya kita ikut mengenal lebih dekat bagaimana peran sosok AM.Sangadji yang gigih memperjuangkan kemerdekaan hingga memaksa dia harus hengkang dari tanah kelahirannya di Pulau Haruku menuju Jakarta lalu pindah ke Makassar dan Samarinda, Kalimantan Timur, dan Jogyakarta, untuk mengobarkan semangat perjuangan kemerderkaan bersama tokoh nasional lainnya yakni Sarjan dan Mohammad Roem. Karena ketokohannya itu ia dihormati oleh warga Samarinda dengan didirikannya sebuah monumen sejarah AM.Sangadji tepatnya di Kota Kutai Kartanegara.

Melalui pidato-pidatonya yang keras, di dua tempat itulah AM.Sangadji sempat ditangkap oleh pemerintah Belanda. Dia dikenal sebagai seorang Islam yang taat, orator ulung, karena itu tak membuat ia jera meski ditangkap dan dipenjara oleh Belanda. Setelah keluar dari penjara AM.Sangadji melakukan perlawanan lagi pada revolusi fisik, dan bersama tokoh pejuang lainnya dia pun pindah ke Jogyakarta untuk berjuang lagi di sana hingga meninggal karena ditembak mati PKI, Mei 1949.

Untuk meyakinkannya, sang penulis buku ini Sam Habib Mony, yang adalah putera Rohomoni, tak mengenal lelah berjuang menemui berbagai pihak tanpa kecuali para akademisi, dan pemerintah daerah Maluku untuk mengajak mereka dan bersama mendorong pemerintah pusat agar AM.Sangadji bisa secepatnya dinobatkan sebagai pahlawan nasional.

Karena itu, untuk memperkuat data dan dokumen dalam penyusunan buku ini dia terpaksa menghabiskan waktu menemui sejumlah sumber pendukung termasuk ke Samarinda, Makassar, Joyakarta, dan Jakarta, tempat dimana AM.Sangadji pernah memimpin pergerakan menuju Indonesia merdeka.

Kita tentu mendukung agar secepatnya AM.Sangadji bisa ditetapkan menjadi pahlawan nasional. Harapan yang sama juga sebagaimana yang disampaikan sejahrawan Unpatti Ambon, Prof Drs. J.A.Pattikaihatu dalam sambutannya pada buku setebal 268 halaman ini agar AM.Sangadji dapat dinobatkan sebagai pahlawan nasional sebagaimana H.O.S. Tjokroaminoto dan H.Agus Salim. Semoga!

------ ======================

Berita Populer

To Top