NEWS UPDATE

BNI Siap Hadapi Ancaman Siong

RAKYATMALUKU.COM – AMBON,- Bank Negara Indonesia (BNI) Cabang Ambon, mempersilakan bos PT Dharma Indah, Jhonny deQueljoe alias Siong, untuk malaporkan pihaknya bila merasa dirugikan. Pihaknya siap menghadapi ancaman itu.

Wakil Pimpinan Bidang Pemasaran dan Bisnis, Nolly Sahumena mengaku pihaknya sama sekali tidak gentar dengan sesumbar yang dilayangkan kuasa hukum Siong. Sebab, BNI tidak pernah melakukan pemblokiran terhadap rekening Siong.

Menurut Nolly, pihaknya terbuka apabila dilaporkan. Apalagi sebagai warga negara yang mempunyai hak dan kedudukan yang sama di mata hukum. Namun, ia menegaskan bahwa BNI siap menghadapi permasalahan itu. “Itu kan sebagai warga negara to, silahkan (lapor). Itu kan bukan ancaman, dia memakai hak sebagai warga negara. Itu bukan ancaman, masa ada yang mengancam di negara hukum itu bagaimana. Itu sudah pasti lah (akan dihadapi). Dari awal kita sudah dibantu secara hukum dari teman-teman BNI Pusat,” kata Nolly kepada Rakyat Maluku di ruang kerjanya, Senin, 25 November.

Nolly mengaku, dalam kasus Faradiba Yusuf, pihaknya sebagai pelapor, karena BNI ikut dirugikan senilai Rp58,9 miliar. “Saya lapor karena kita dibobol. Itu aja. Itu laporan dari BNI. Itu yang di sistem. Itu kerugian BNI yang kita laporkan,” ucap dia.

Ditanya terkait cashback senilai Rp3,1 miliar yang diterima Siong setelah mendeposite dana sebesar Rp125 miliar, Nolly membantah. Wakil Pimpinan BNI ini menyebut cashback bukan program BNI. “Itu bukan program BNI. Itu program yang dibuat Ibu Fara (Faradiba). Cashback, persoalan yang terjadi dia lebih spesifik ke FY dan Siong,” ungkap dia.

Disinggung mengenai penetapan tersangka, Sahumena menjelaskan kalau setiap penetapan tersangka, pihaknya selalu mendapat pemberitahuan dari penyidik. Sejauh ini, baru enam orang ditetapkan tersangka, lima di antarannya pihak BNI. Ia berharap tidak ada lagi penambahan tersangka dari BNI. Tapi semua tergantung polisi karena kasus ini masih terus berjalan. “Biasa kita mendapat informasi 1 atau dua hari sudah ada pemberitahuan tersangka. Kalau itu (penambahan tersangka) beta berdoa itu (tidak ada lagi tersangka dari BNI. Kalau memang ada itu terserah kepolisian, karena kasus ini kan masih berjalan,” jelas dia.

Selain BNI, pihak Polda Maluku juga membantah melakukan pemblokiran dana pengusaha perkapalan itu. Bahkan, pihak Polda mengaku baru mengetahui dana tersebut terblokir dari pernyataan Siong. “Tidak ada. Pernyataan Siong sendiri kalau itu BNI blokir,” jelas Kabid Humas Polda Maluku, Kombes Pol M. Roem Ohoirat kepada Rakyat Maluku, kemarin.

Sebelumnya diberitakan, pasca dilaporkan pembobolan dana nasabah BNI ke Polda Maluku, polisi langsung melakukan penyelidikan. Setelah penyelidikan, kasus ini kemudian ditingkatkan ke penyidikan, di mana enam orang akhirnya ditetapkan sebagai tersangka.

Sesaat setelah pembobolan tersebut dilaporkan Nolly Sahumena, pihak Polda Maluku dilansir memblokir rekening milik Siong. Malah, Siong kepada Rakyat Maluku mengaku, dananya mencapai Rp50-an miliar yang diblokir.

Di tempat terpisah Kuasa Hukum Direktur Utama PT. Pelayaran Dharma Indah, Anthoni Hatane, geram atas sikap BNI dan Polda Maluku, yang dinilai saling lempar tanggungjawab atas pemblokiran uang senilai Rp125 miliar di rekening BNI atas nama kliennya.

Menurut Anthoni, yang paling bertanggungjawab atas pemblokiran tersebut adalah pihak BNI Cabang Ambon. Sebab, pihak BNI Cabang Ambon yang telah meminta persetujuan dari pimpinan Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Maluku saat itu, untuk melakukan pemblokiran uang senilai Rp 125 miliar di rekening BNI milik kliennya. “Pihak BNI harus bertanggungjawab soal pemblokiran rekening ini, karena BNI yang meminta persetujuan dari pihak kepolisian untuk memblokir rekening Siong.

Sementara Siong hanyalah nasabah dan bukan tersangka yang dilaporkan karena suatu perbuatan tindak pidana perbankan,” kesal Anthoni, saat dikonfirmasi koran ini, via selulernya, Senin, 25 November 2019.

Ia menjelaskan, awalnya Faradiba Yusuf yang saat itu menjabat sebagai Wakil Kepala BNI Cabang Ambon menemui kliennya (Siong) untuk menawarkan cashback. Tergiur dengan nilai cashback miliaran rupiah dalam waktu singkat, lanjut Anthoni, kliennya langsung memindahkan seluruh tabungannya yang berada pada bank lain ke rekening BNI senilai Rp 125 miliar, dengan jenis pengiriman RTGS pada 17 September 2019.

Dengan rincian transaksi, pengiriman dari BCA ke nomor rekening BNI : 820049465 atas nama Johny de Quelju sebesar Rp 70 miliar. Dilanjutkan pengiriman dari BCA ke nomor rekening BNI : 820060829 atas nama Johny de Quelju sebesar Rp 28 miliar.

Kumudian pengiriman dari Bank Sinarmas ke nomor rekening BNI : 820060829 atas nama Johny de Quelju sebesar Rp 2 miliar. Dan dari Bank Sinarmas ke nomor rekening BNI : 820060603 atas nama Johny de Quelju sebesar Rp 25 miliar.
“Pihak BNI kan sudah tahu kalau semua uang ini dikirim melalui rekening Siong yang lain ke rekening BNI yang juga milik Siong, dengan jenis pengiriman RTGS. Bukan dari BNI ke rekening Siong atau dari Siong ke rekening tersangka Faradiba, dan atau dari rekening tersangka Faradiba ke rekening Siong,” ungkap Anthoni.

Olehnya itu, pihaknya akan mengajukan upaya hukum gugatan perdata kepada pihak BNI Cabang Ambon terkait pemblokiran rekening tersebut. Sebab, akibat pemblokiran tersebut, kliennya mengalami kerugian. Diantaranya, pembiayaan perusahaan dan perjalanan kapal tidak berjalan sebagaimana mestinya. “Kami gugat perdata karena saat itu jabatan Faradiba selaku wakil kepala BNI Cabang Ambon. Berkas gugatannya sementara disiapkan, dan kemungkinan besok lusa sudah bisa dimasukkan ke Pengadilan Negeri Ambon. Kami hanya meminta agar pihak BNI dapat membayar seluruh kerugian yang dialami klian kami,” pinta Anthoni. (AAN-RIO)

------ ======================

Berita Populer

To Top