I Like MONDAY

Terorisme

SUDAH lama Ambon sepi soal isu teroris. Tak heran begitu tiba-tiba ada informasi soal penangkapan jaringan teroris Medan di Kota Ambon Manise akhir pekan lalu kita seolah dibuat terkejut.

Mengapa terkejut? Karena Kota Ambon terlalu “sensitif” untuk kata yang satu ini. Bahkan bisa dikata terlalu “seksi” jika kemudian penangkapan terduga teroris tersebut memiliki jaringan dengan pelaku bom bunuh diri di Mapolres Medan bersamaan dengan penangkapan 19 orang lainnya di sejumlah kota di Tanah Air.

Dari sisi opini — Ambon sebagaimana daerah lain tentu memiliki ekspektasi jauh lebih kuat karena faktor wilayah yang dulunya pernah dilanda konflik komunal. Bila kemudian ada terduga teroris ditangkap di Ambon dari sisi pembentukan framming tentu sangat menarik perhatian.

Masalahnya kemudian bila hal ini tidak disikapi secara arif dapat menimbulkan persepsi negatif terhadap kota ini. Artinya, Kota Ambon bisa saja dicap sebagai kota yang tidak nyaman atas ancaman teroris.

Sebagaimana diketahui, penangkapan warga Ambon berinisial IO oleh aparat keamanan didasarkan pada postingannya yang diunggah di facebook dengan konten bendera tauhid dan mujahidin. Sampai sejauh ini, posisi hukum sang terduga belum diketahui. Sang istri maupun keluarga dekat juga tak tahu jika suaminya mempunyai jaringan dengan aksi bom bunuh diri di Medan.

Hingga kini fakta penangkapan baru hanya sebatas pada unggahannya di laman facebook. Belum ada bukti lain yang menguatkan keterkaitannya dengan jaringan teroris Medan. Jika hanya berdasar pada unggahan di dunia maya maka penangkapan ini terlampau prematur dan secara tak langsung telah terbangun sebuah opini yang mengejutkan sekaligus menyudutkan, tentu.

Sampai sejauh ini tesis soal teroris sendiri masih seputar pada sebuah gerakan yang mengidentikkan suatu tindakan kekerasan berbau teror. Aksi teror ini selalu dialamatkan kepada sekelompok orang Islam. Dan, aksi teror yang telah bermetamorfosis dengan istilah lain yakni radikalisme itu telah menjadikan agama sebagai trigger (pemicu) dan seolah menjustifikasi bahwa teror atas nama agama (baca: Islam) itu dibenarkan. Dan, mereka yang menjadi martir seolah dalam posisi sebagai korban atau “dikorbankan”.

Terorisme sendiri menjadi sebuah tesis teror atas nama agama baru berkembang beberapa tahun terakhir pasca penyerangan Gedung WTC 9 September 2001, di Amerika Serikat. Seketika seluruh dunia seolah dikobarkan untuk perang melawan teroris oleh Presiden Bush Jr Bush.

Sejak peristiwa WTC itu beberapa kawasan seolah berkembang menjadi sebuah perang melawan terorisme. Di Thailand dengan Thaksin untuk “jualan” Patani, Filipina dengan Aroyo untuk “jualan” MILF.

Indonesia sendiri baru menjadi “bagian” dari program perang melawan terorisme sejak adanya peristiwa Bom Bali, 2002. Sejak Bom Bali kita pun seolah tak bisa lagi “mengelak” atas perang tersebut.

Dari semua perjalanan ini bisa ditarik benang merah atas sebuah strategi perang melawan terorisme dimulai dari indoktrinasi paham agar menjadi ultra fanatik, diikuti oleh perang kebencian paham dengan golongan sendiri atau golongan lain yang berbeda -devide et impera-provokasi.

Dan, untuk meredam sebuah keyakinan atas perang melawan terorisme tentu tak akan mampu mematahkannya dan hanya akan berakhir menjadi sebuah malapetaka.

Kita tentu berharap kedepan Kota Ambon terhindar dari aksi-aksi teroris dan radikalisme dan tidak menjadikan Ambon sebagai lahan untuk perang melawan terorisme. (**)

------ ======================

Berita Populer

To Top