ADVETORIAL

Hadapi Revolusi Industri 4.0, Perempuan Harus Mahir IT

JUNITA SIPAHELUT, S.Psi., M.Psi | Dosen Psikologi IAKN Ambon

REVOLUSI industri 4.0 sudah mulai merambah kehidupan masyarakat secara umum. Tak saja orang dewasa, anak kecil juga ikut terbawa dengan kuatnya arus globalisasi industri yang serba digital. Seluruh segmen elemen kehidupan mulai dihiasi dengan gerakan pembangunan berbasis 4.0, yang dikenal sebagai dunia tanpa pergerakan manusia. Setiap kebutuhan dapat disediakan cukup dengan menekan tombol tuts handphone. Manusia hanya duduk di satu tempat, dan pesanan kebutuhannya akan terpenuhi.

Meskipun demikian, kemajuan pembangunan berbasis informasi dan teknologi yang menawarkan akses serba instans ini, bukan berarti tidak memiliki efek negatif. Justru, kehadiran revolusi industri 4.0 yang memudahkan, akan menghilangkan budaya dan mengurangi akses sosial manusia. Sehingga, dibutuhkan peran tambah dari kaum perempuan, sebagai garda terdepan untuk kelompok rentan, anak-anak terhadap gerak arus industri berbasis IT. Pengaruh kebebasan mengakses informasi lewat laman internet yang merupakan bagian utama dari revolusi industi 4.0, harus dihadang secara kuat oleh perempuan. Terutama, perempuan yang berperan sebagai ibu rumah tangga. Kalau tidak, anak akan masuk dalam ruang yang bebas menyaksikan ganasnya revolusi industri berbasis digital tersebut. Demikian diutarakan Psikolog Perempuan, yang juga Dosen Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Ambon, Junita Sipahelut, S.Psi., M.Psi., ketika berbincang dengan Rakyat Maluku, Minggu, 1 Desember 2019.

Junita mengakui, kehidupan masyarakat yang serba digital saat ini, mengharuskan seluruh kaum perempuan, terutama ibu rumah tangga mengambil peran penting dalam mengawal keluarganya, terkhusus anak-anaknya. Sebab, semua orang terutama anak-anak sangat rentan terhadap pengaruh revolusi industri 4.0 ini. Tentu, untuk mengawal rumah tangganya, maka perempuan harus terus meningkatkan pengetahuan dan pengalaman tambahan, agar dapat pula memahami ganasnya era digitalisasi ini. Kalau tidak, perempuan justru akan dikucilkan dengan kebebasan mengakses informasi via laman internet ini. Tak saja perempuan, anak-anak juga akan terpapar lantaran bebas menggunakan akses internet tanpa pengawasan tambahan dari orang tua, khususnya kaum perempuan.

Menurut dia, tidak harus difungkiri, bahwa peran perempuan kerap dikucilkan. Hal ini disebabkan karena perempuan sendiri menganggap posisinya yang tidak pas untuk mengikuti perubahan dan perkembangan zaman. Padahal, justru perempuan menjadi jantung utama langkah perubahan, terutama lagi perubahan di era digital ini. Perempuan justru menjadi simbol perubahan, yang dapat dilihat dari kehadiran iklan di dunia maya, yang justru lebih banyak cenderung mengekspos kaum perempuan. “Ketakutan akan diri sendiri untuk bersaing, masih menjadi faktor utama bagi perempuan di masa revolusi industri 4.0,” urai Junita.

Berdasarkan hasil penelitian lapangan, kata Junita, kaum perempuan mengalami ketertinggalan yang jauh dibanding laki-laki. Tidak hanya di bidang pendidikan, tapi juga gaya komunikasi (bahasa), biaya, norma dan budaya. “Ini bagian kelemahan yang kami jumpai di lapangan. Yang akhirnya suka atau tidak, menuntut perempuan untuk terus memacu dirinya bersaing dengan kaum Adam. Kalau data yang kita lihat ya, pengguna internet aktif di Maluku perempuan. Tapi, literasi digitalnya masih rendah. Hal ini dipicu oleh pendidikan yang tidak selaras dengan era digital ini,” tukas dosen IAKN Ambon itu.

Ia menambahkan, dalam dunia pendidikan misalnya, perempuan juga harus memiliki orientasi pendidikan setinggi mungkin, agar ketika menjadi seorang ibu, perempuan dapat menjadi tempat pertama untuk memperluas wawasan anaknya. “Belum lagi peran perempuan sebagai pendidik tangan pertama dalam lingkungan keluarga di era teknologi yang kian maju. Dengan kemajuan teknologi yang tidak bisa dibendung ini, peran perempuan sebagai ibu akan semakin berat. Sebab, bagaimana seorang ibu harus mampu menuntun anak-anaknya agar memanfaatkan kemajuan teknologi hanya untuk hal-hal positif,” jelas dia.

Lanjut dia, seorang perempuan dalam hal ini ibu, akan terus memantau penggunaan teknologi bagi anak-anaknya, agar tidak sampai terjerumus ke hal-hal negatif. Belum lagi peran perempuan yang menjadi seorang istri, seorang pegawai yang dituntut terus berinovasi dan kreatif dengan memaksimalkan industri 4.0, serta peran sebagai bagian dari sosial masyarakat. (YAS)

------ ======================

Berita Populer

To Top