Kongres GMNI XXI

Ketum dan Sekjen GMNI Kabur dari Arena

RAKYATMALUKU.COM – AMBON,- Ketua Umum (Ketum) DPP Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Robaytullah Kusuma Jaya dan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Clance Teddy, kabur dari arena Kongres GMNI XXI yang berlangsung di Gedung Kristian Center Kota Ambon, Minggu, 1 Desember 2019, malam.

Menurut Ketua Panitia Lokal Kongres GMNI XXI, Sujahri Somar, kaburnya ketum dan sekjen dari arena kongres lantaran kesal dengan panitia nasional yang tidak mau mengakomodir 20 dewan pimpinan cabang (DPC) “Siluman”, yang dinilai bermasalah soal SK, untuk masuk mengikuti kongres sebagai peserta.

“Langkah-langkah yang diambil oleh ketum dan sekjen ini tidak mencerminkan sikap kepemimpinan yang baik. Seharusnya, persoalan 20 SK DPC ini sudah diselesaikan di tingkat DPP sejak jauh-jauh hari, bukan malah dibawa dan diperkarakan saat kongres,” keluh Somar, saat dikonfirmasi koran ini, Senin, 2 Desember 2019.

Menurut keterangan 12 pengurus DPP GMNI yang hadir dalam kongres, lanjut Somar, bahwa SK 20 DPC tersebut tidak sah atau tidak memiliki legitimasi hukum yang kuat. Sebab, keputusan yang diambil oleh ketum dan sekjen dalam mengeluarkan SK kepada 20 DPC itu tidak melalui rapat pleno di internal DPP, melainkan secara sepihak.

“Jadi, keputusan yang diambil oleh ketum dan sekjen dengan mengeluarkan SK kepada 20 DPC itu tidak melalui mekanisme organisais, yakni tidak melakukan rapat pleno. Karena itu, menjadi pertentangan di internal DPP dan mayoritas pengurus DPP juga merasa hak-haknya sebagi ketua-ketua dikesampingkan,” beber Somar.

Tak hanya membuat kisruh soal SK 20 DPC “Siluman” ketum dan sekjen juga diketahui otak dibalik sikap beberapa DPC yang walk out dari ruang sidang pleno berlangsung pada Minggu malam.

“Tadi malam yang hadir hanya 91 cabang dari total 169 cabang yang terdaftar, 20 cabang diantaranya bermasalah soal SK, dan cabang sisanya walk out dari arena kongres, karena diperintahkan langsung oleh ketum dan sekjen,” tutur Somar

“Skenario ‘busuk’ yang dilakukan oleh ketum dan sekjen ini juga sudah terlihat sejak awal, dengan mengulur-ulur waktu mulai dari awal pembukaan sampai dengan hari ketiga acara kongres berlangsung di Gedung Kristian Center Kota Ambon,” tambahnya.

Soal kelanjutan agenda-agenda sidang pleno yang sebelumnya telah diskorsing oleh ketum dan sekjen, kata Somar, telah dicabut oleh Bung Nus Karlely selaku pengurus DPP, tanpa harus menunggu ketum dan sekjen selaku simbol organisasi.

“Tadi malam sidang-sidang pleno tetap berjalan dipimpin oleh Bung Nus Karlely, artinya dia sudah mencabut kembali skorsing sidang, dan itu sudah harus dicabut tanpa harus menunggu ketum dan sekjen,” terang Ketua DPC Ambon itu.

Usai membuka skorsing, kata Somar, dilanjutkan dengan sidang pleno tentang pemilihan pimpinan sidang pleno Kongres XXI GMNI oleh pimpinan sidang sementara (DPP GMNI).

Kemudian ditetapkan pimpinan sidang tetap, yang terdiri dari Alberthus Y.R Pormes (Ambon) selaku ketua, Paselmen (Tapanuli Utara) selaku sekertaris, dan Raymond Gabriel Yekwam (Sorong) selaku wakil Ketua.

“Setelah ditetapkan pimpinan sidang tetap, sidang pleno dilanjutkan dengan penyampaian laporan pertanggungjawaban (Lpj) DPP GMNI 2017-2019. Sayangnya, LPJ hanya disampaikan oleh 12 masing-masing ketua bidang melalui perwakilannya saja. Sedangkan ketum dan sekjen sudah kabur. Padahal, secara resmi organisasi haruslah disampaikan oleh ketum dan sekjen,” pungkasnya.

Sebagai ketua panitia lokal, ia berharap, acara kongres GMNI bertemakan kemaritiman ini dapat berjalan lancar sesuai target yang telah ditentukan oleh panitia, tanpa melihat siapa ketum dan sekjen yang akan terpilih nanti.

“Sekali lagi kita semua menginginkan kongres ini dapat berjalan yang awalnya dengan baik maka berakhir juga dengan baik. Apapun bentuknya politik internal, siapapun nantinya yang akan terpilih sebagai ketum dan sekjen, yang terpenting kegiatan ini dapat berjalan lancar, dan peserta yang hadir harus merasa aman dan nyaman,” harapnya.
Sementara itu, Wakil Ketua DPP GMNI Bidang Hubungan Antar Lembaga Nus Karlely menambahkan, ketua umum dan sekjen lari dari arena kongres itu bukan karena ada situasi yang konflik atau rusuh sebagaimana alasan mereka berdua.

”Mereka berdua yang mendramatisir keadaan saja. Pada saat pelaksanaan kongres dengan agenda pemilihan pimpinan sidang, mereka berdua merasa ada yang tidak beres pada diri mereka, mungkin saja program atau kepentingan mereka tidak tersalurkan, sehingga saat agenda LPJ, mereka melarikan diri dan sengaja meminta untuk dikawal. Tapi mereka menipu, mereka mengatakan hanya ingin beristirahat dua jam saja,” jelas Kerlely.

Kemudian, lanjut dia, ketum dan sekjen bermain isu seolah-olah ada intimidasi dan teror. ”Tanya saja kepada keamanan, kepolisian disini. Tidak ada hal itu. Jadi jangan ada yang mendramatisir situasi. Ini kepentingan politik di Jakarta yang dibawa ke kongres GMNI di Ambon. Kepentingan Jakarta yang menodai kongres GMNI,” kesalnya.

Nus Kerlely juga menambahkan, mestinya kepentingan GMNI lahir dari rahimnya GMNI sendiri. Produknya salah kongres ”Jangan seperti ketua dan sekjen ini, sangat tidak berkualitas,” kesalnya. (RIO)

------ ======================

Berita Populer

To Top