I Like MONDAY

Merawat Perdamaian

| Dari Kampus Unpatti

PELUNCURAN dan bedah buku berjudul: Merawat Perdamaian, 20 Tahun Konflik Maluku, telah diluncurkan, Rabu, 11 Desember 2019, di Kampus Unpatti, Ambon.

Buku ini merupakan kumpulan pokok-pokok pikiran dari sejumlah panelis pada sarasehan nasional tentang resolusi konflik Maluku dan Maluku Utara yang digagas oleh Sekjen Dewan Ketahanan Nasional yang kini sebagai Ketua BNPB Pusat, Letjen TNI Doni Monardo, Juli 2018, lalu, di Jakarta.

Acara ini menampilkan pembicara mantan Ketua Sinode Gereja Protestan Maluku (GPM) Pendeta Dr. John Ruhulessin, dan akademisi IAIN Ambon Dr. Abidin Wakano, yang dipandu oleh penulis yang juga dosen FISIP UI Dr. Rachma Fitriati.

Dipilihnya Kampus Unpatti sebagai tempat peluncuran buku ini tentu menjadi momentum yang tepat. Sebab, sebagai lembaga pendidikan tinggi Unpatti memiliki peran penting untuk melahirkan generasi Maluku yang berkualitas baik menyangkut kompetensi di bidang keilmuan maupun bidang sosial kemasyarakatan. Nah, dari kampus Unpatti inilah kita berharap bisa menjadi lokomotif untuk agen perdamaian.

Unpatti dalam hal ini tentu telah memulai sebuah langkah positif untuk menjadikan lembaga pendidikan tinggi terkemuka di Maluku itu menjadi pusat pengembangan pemikiran (intelectual exercise) yang egaliter.

Sejak beberapa tahun terakhir, universitas yang lahir 23 April 1963 yang dimotori oleh Rektor Prof DR Marthinus Sapteno, itu telah menjadikan kampus bermotto: Kampus Orang Basudara, ini menjadi bagian penting yang akan dicatat oleh sejarah sebagai wahana bersama untuk membangun Maluku yang cinta damai sebagaimana semangat yang dibangun dalam Perjanjian Damai Maluku di Malino, itu.

Beberapa agenda nasional telah menjadikan Kampus Unpatti menjadi pusat perhatian antara lain digelarnya Kongres HMI ke-30 Januari 2018 yang dibuka Presiden Joko Widodo. Sebelumnya juga Oktober 2017 pernah digelar dialog antara civitas akademika dengan ulama terkemuka dunia asal Yaman Alhabib Umar Bin Alhafidz, juga kajian-kajian keagamaan lainnya tak luput menjadikan Kampus Unpatti sebagai sarana kegiatan.

Sebagai agen perubahan (agent of change), Unpatti tentu harus memelopori perubahan pasca konflik komunal di bumi Maluku tercinta itu secara arif dan bijaksana. Karena itu sebagai lembaga pemikir (think thank) dan pencetak generasi, Unpatti harus menjadi motor utama penggerak yang egaliter dan tidak ekslusif.

Kita tentu sependapat sebagaimana dalam sambutan yang disampaikan Rektor Sapteno pada peluncuran buku itu. Bahwa konflik tak akan pernah beranjak dari seluruh rangkaian aktivitas hidup sejak manusia itu lahir. Nah, tugas kita kedepan tentu adalah bagaimana mengelola, mengantisipasi, dan meminimalisir agar konflik berbau kekerasan itu tidak lagi terjadi.

Memang untuk menghindari polarisasi di tengah kemajemukan masyarakat yang pluralistik bukan perkara gampang. Namun, sebagai makhluk sosial kita tentu harus bisa dan mampu mengantisipasi konflik itu agar tidak terulang. Di sini dibutuhkan kesiapan dan kematangan sosial yang kuat di masyarakat.

Buku ini setidaknya bisa menjadi catatan bagi kita yang cinta pada perdamaian untuk menjadikannya sebagai i’tibar (pelajaran) berharga agar kedepan kita tidak mudah terjebak pada konflik-konflik kekerasan baik di sini atau pun di tempat lain di Tanah Air.

Salah satu alasan diterbitkannya buku setebal 263 halaman ini tak lain untuk memberikan pemahaman dan cerita tentang konflik komunal yang pernah terjadi di Maluku dan Maluku Utara 20 tahun silam itu. Dan, sebagai pelajaran buku ini juga menjadi catatan penting bagi kita untuk tidak mudah larut dalam konflik yang dapat berpotensi menimbulkan kekerasan sosial.

Di sini menjadi tanggung jawab kita semua, tanggungjawab seluruh civitas akamedika untuk menjadi agen perubahan menyongsong masa depan guna membangun generasi Maluku yang maju, arif, bijaksana, dan cinta damai.

Dari Kampus Hotumese Unpatti inilah kita berharap bisa merawat perdamaian untuk membangun Maluku yang lebih baik.(*)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top