KABUPATEN MBD

Pernyataan Dansat Brimob Diprotes

| Penganiayaan Warga Wetar

RAKYATMALUKU.COM – MBD, PERNYATAAN Komadan Satuan (Dansat) Brimob Polda Maluku, Kombes Pol Muhammad Guntur yang membantah laporan penganiayaan yang diduga dilakukan oknum anggota Birmob terhadap warga Desa Uhak, Kecamatan Wetar Utara, Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) diprotes warga setempat.

”Bagaimana bisa tanpa melakukan croscek, Dansat langsung membantah dan mengatakan bahwa informasi itu tidak benar. Bahwa anggota Brimob yang melakukan pengamanan di pertambangan tembaga milik PT Batutua Tembaga Raya (BTR) dan Batutua Kharisma Permai (BKP) tidak keluar barak karena dilarang,” tegas Sekretaris Perseketuan Pemuda Pelajar Wetar dan Lirang (P3WL) Ambon, Arianto Mabaha kepada Rakyat Maluku, tadi malam.

Arianto menekankan, selain informasi yang diberikan kepada awak media, dirinya juga menerima kabar penganiayaan yang dilakukan oknum anggota Brimob itu.

”Kemarin, saya juga mendapat kiriman foto surat yang dibubuhi tandatangan kepala desa dan berstempel Desa Uhak soal desakan agar tim Brimob yang pam di tambang segera ditarik dan digantikan dengan polisi umum. Lalu bagaimana bisa pak Dansat bisa mengatakan bahwa informasi itu tidak benar,” keluhnya.

Surat pernyataan sikap yang meminta penarikan tim Brimob itu, kata dia, disampaikan kepada Ketua DPRD MBD, Kapolres MBD, Dandim 1507 Saumlaki, Camat Wetar Utara, Kapolsek Wetar, Danramil Wetar, General Manager PT BKP. BTR dan Manager Comdev PT BKP. BTR.

”Surat itu berisikan keresahan dan pernyataan sikap masyarakat Desa Uhak atas tindakan tidak terpuji dan tidak manusiawi yang dilakukan oknum anggota Brimob terhadap warga di sekitar tambang.

Apalagi, lanjut dia, menurut keterangan warga di daerah itu, penganiayaan itu sudah berulang kali dilakukan.

Selain Mabaha, beberapa warga Desa Uhak dan Desa Lerokis juga ikut memprotes pernyataan Dansat Brimob.

Dalam group Whatsapp Wetar Bersaudara yang dibuat oleh Komunitas Wetar Peduli (Kontarli) banyak sekali protes yang disampaikan terhadap pernyataan Kombes Pol Muhammad Guntur.

Berikut beberapa pernyataan yang berhasil dikutip koran ini dari group WA itu. ”Kasih keluar pernyataan tanpa tahu yang sebenarnya terjadi di sini (Wetar),” tulis Bryan dalam percakapan tesrebut.

Senada juga disampaikan Yesta. ”Dansat Brimob bantah. Tapi kenyataannya anak buah pigi baronda sampai Uhak sana.” Selain protes, warga Wetar juga mengungkapkan beberapa kejadian tindakan tidak terpuji yang dilakukan oknum anggota Brimob di lokasi tambang. ”Pertama tanggal 24 Desember 2015 tujuh orang warga dianiaya. Satu diantaranya adalah tuna netra. Pada malamnya ada oknum anggota Brimob yang melepaskan tembakan mulai pukul 01.00 hingga 05.30 WIT. Lalu ada kejadian kedua yang akhirnya dibuat surat pernyataan sikap bahwa mereka tidak mengulanginya lagi. Tapi ternyata masih dan masih saja terjadi. Ini sudah terhitung lima kali,” beber warga yang meminta namanya dirahasiakan.

Diberitakan sebelumnya, warga Desa Uhak, Kecamatan Wetar Timur, Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) akhirnya gerah dengan sikap oknum anggota Brimob Polda Maluku yang ditugaskan untuk pengamanan tambang tembaga milik PT Batuta Tembaga Raya (BTR) dan PT Batuta Kharisma Permai (BKP). Mereka gerah karena ulah oknum anggota Brimob yang mabuk-mabukan dan memukul warga setempat, hanya karena persoalan sepele.

Informasi yang diterima Rakyat Maluku dari warga Uhak mengungkapkan, akibat ulah oknum anggota Brimob itu, Kepala Desa Uhak, Josafat Samuel Moses Makesso, bersama warga desa setempat meminta kepada Gubernur Maluku, Irjen Pol (Purn) Murad Ismail dan Kapolda Maluku untuk menarik tim Brimob yang bertugas di sana dan diganti dengan polisi umum.

”Iya, jadi sebelumnya sudah ada pernyataan sikap yang ditandatangani oleh tim Brimob yang melakukan pam di tambang bahwa jika mereka mabuk-mabukan dan membuat onar, serta memukul warga setempat, maka mereka akan ditarik. Sebab, sudah lima kali ada oknum anggota Brimob yang mabuk-mabukan, menghina masyarakat Uhak bahkan sampai menodongkan senjata, juga sempat pula melepaskan tembakan,” kata salah seorang warga Uhak yang meminta namanya tidak dikorankan.

Berita yang dirilis, Sabtu 14 Desember itu, Dansat Brimob Polda Maluku, membantah adanya dugaan penganiayaan tersebut. Dia bahkan menyebutkan bahwa hal itu tidak mungkin terjadi karena anggota Brimob yang bertugas di Wetar dilarang meninggalkan barak. (NAM)

------ ======================

Berita Populer

To Top