" >*Calon Pengantin Bom Gereja – Rakyat Maluku
NEWS UPDATE

*Calon Pengantin Bom Gereja

MABES Polri diam-diam telah menetapkan Iksan Onoly alias Chano alias IS sebagai tersangka tindak pidana teroris sejak 29 November 2019. Penetapan tersangka teroris ini termuat dalam surat pemberitahuan Detasemen Khusus 88 Mabes Polri dengan nomor B/5162/Res.6.1/XI/2019/Densus, yang diterima pihak keluarga beberapa waktu lalu. Surat itu ditandatangani Sentot Prasetyo sebagai penyidik Densus 88 Anti Teror.

Jika mengamati isi suratnya, IS ditangkap 20 November 2019, seminggu setelah itu IS langsung ditetapkan sebagai tersangka karena diduga keras bakal melakukan tindak pidana terorisme, sebagaimana dimaksud dalam pasal 12 Ayat (1) undang-undang RI Nomor 5 Tahun 2018 Tentang perubahan atas undang-undang RI Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang RI Nor 1 Tahun 2002 tentang pemberantasan tindak ppidana Terorisme menjadi undang-undang.

Dalam pasal tersebut dijelaskan, setiap orang yang dengan maksud melakukan tindak pidana terorisme di wilayah kesatuan republik Indonesia atau di negara lain, merencanakan, menggerakan atau mengorganisasikan tindak pidana terorisme dengan orang yang berada di dalam negeri atau luar negeri atau negara asing.

Surat yang menjelaskan IS sebagai tersangka itu diserahkan oleh Bripka Tentri Tatang. IS kemudian akan menjalani pemeriksaan intensif dan ditahan selama 120 hari di Rutan Polda Maluku.

Sebelumnya, Kapolda Maluku, Irjen Pol Royke Lumowa mengungkapkan, bahwa IS ditangkap karena diduga terpapar radikalisme. Bahkan, menurut Kapolda ada percakapan yang didapati pihaknya bahwa tersangka akan menjadi pelaku bom bunuh diri alias pengantin di salah satu gereja di Ambon saat perayaan Natal.

Status tersangka yang disematkan Mabes Polri kepada Iksan dinilai ganjal oleh pihak keluarga. Bahkan, mereka juga menilai ada keanehan saat IS dititipkan di Lapas Kelas II Ambon.
“Dia awalnya ditahan polisi (Densus 88 Anti Teror), tapi sekarang dia dititipkan di Rutan Waiheru. Dia sakit dua kali, pertama saat ditahan polisi, kedua di Rutan. Di Rutan petugas cepat (tangani). Dia mag, ” kata Onya Onoly kepada Rakyat Maluku belum lama ini.

Menurut Onya, anaknya tidak pernah mengikuti kelompok terorisme yang selama ini melaksanakan aksi bom bunuh diri. IS setiap pulang bekerja langsung tidur. Bagaimana mau berencana seperti itu. “Anak saya ini pulang kerja pukul 02,00 WIT. Dia kerja di Breadtalk di MCM (Maluku City Mall). Orangnya pendiam. Sakit saja dia menangis minta tolong kepada Bapaknya (Buchari),” jelas Onya.

Apalagi ketika ditangkap, dan rumah mereka digeledah, tidak ditemukan benda yang terindikasi bakal digunakan untuk merakit bom. “Yang diamankan saat itu pipa plastik panjang sekitar 50 centi meter, paku-paku milik bapaknya, kabel yang sudah dikupas. Kabel ini bisa kami timbang, komputer anak saya dan HP nya,” ungkapnya lagi.

Mereka mengkhawatirkan IS mendapat tekanan saat penyidikan, sehingga memprediksi pelaku mengakui perbuatan yang sebenarnya tidak dilakukan. (ARI/AAN)

------------
------ ======================

Berita Populer

To Top