I Like MONDAY

Early Warning Conflict

AHMAD IBRAHIM | Komisaris Utama Hr. Rakyat Maluku

Dalam suatu kesempatan diskusi, Rektor Unpatti Ambon Prof. DR. M.J.Saptenno mengemukakan sebuah gagasan menarik tentang pentingnya kita membuat sebuah konsep terkait peringatan dini atas ancaman konflik sosial di masyarakat.

Menurut Prof Nus ide ini penting. Sebab melihat begitu banyak fenomena konflik yang terjadi di negeri ini — dengan segala ciri dan motifnya kita perlu membuat semacam modul untuk menangkal setiap ancaman konflik sosial di masyarakat. Namanya: Early Warning Conflict.

Gagasan Prof Nus ini disampaikan saat memberikan sambutan pada acara peluncuran buku berjudul: Merawat Perdamaian, 20 Tahun Konflik Maluku, di Kampus Unpatti, Poka, 11 Desember 2019.

Gagasan guru besar di bidang hukum ini tentu menjadi catatan berharga sebab tak terasa kita baru saja sehari melewati peristiwa kelam 21 tahun silam, Minggu 19 Januari 2020, kemarin.

Peristiwa kelam itu merupakan tragedi sejarah kemanusiaan terbesar di dunia. Sebagai bagian dari sejarah, kita mestinya sudah punya blueprint bagaimana kesiapan bila kita menghadapi konflik berbau komunal itu.

Sudah terlalu banyak contoh yang kita perlihatkan kepada dunia bagaimana konflik yang begitu besar dan memakan waktu begitu lama bisa berlangsung damai setelah sekian tahun berproses untuk mengakhiri konflik.

Proses-proses pencapaian semacam itu tak salah untuk disampaikan. Tapi di tengah kita menghadapi munculnya beragam konflik dengan latar belakang yang berbeda saat ini kita mestinya sudah harus punya langkah-langkah antisipatif.

Sudah cukup bagi kita membuat contoh bagaimana proses-proses rekonsiliasi itu dilakukan oleh kelompok-kelompok yang beritikai. Tapi sejauh ini kita belum punya sebuah modul bagaimana perlunya membangun sebuah sinyal atau daya tangkal yang kuat di masyarakat tentang ancaman konflik itu sendiri.

Peringatan dini konflik tentu selain bisa dibaca melalui buku-buku, tapi juga diperlukan sosialisasi secara berksinambungan kepada masyarakat agar mereka bisa memetakan setiap ancaman yang datang. Di kampus-kampus dan sekolah juga penting diberikan pemahaman yang seragam mengenai ancaman konflik.

Sebab dengan perkembangan teknologi komunikasi saat ini pola konflik bisa datang secara beragam. Hanya melalui media sosial, misalnya, bisa memicu konflik komunal antara sesama anggota masyarakat atau menjadi konflik vertikal yakni konflik masyarakat dengan negara.

Banyak peristiwa konflik memungkinkan terjadinya benturan di masyarakat atau gesekan dengan alat-alat kekuasaan. Kita juga menyaksikan konflik yang terjadi di belahan dunia luar seketika menjadi konflik antarkawasan bahkan konflik antarindividu.

Dalam konteks politik kekuasaan kita juga kerab menghadapi hal yang sama. Konflik antarpendukung bisa berubah menjadi konflik SARA.

Kritik yang disampaikan salah satu peserta diskusi buku — yang diinisiasi mantan Sekjen Dewan Pertahanan Nasional yang juga mantan Pangdam XVI Pattimura Letjen TNI Doni Monardo itu, — DR.Pdt. John Ruhulessin terkait dampak yang ditimbulkan akibat politik kekuasaan bisa menjadi contoh.

Menurutnya, selagi elite kekuasaan kita masih terus berorientasi pada politik kekuasaan dan bukan pada politik kesejahteraan maka sepanjang itu pula kita akan terus berada pada polarisasi di masyarakat.

Polarisasi masyarakat dalam politik sangat memungkinkan ancaman konflik akan terus mewarnai dan mengancam demokrasi dengan segala rentetan yang mengikutinya.

Bertolak dari sejarah kelam konflik sosial berbau SARA 21 tahun lalu tentu harus menjadi pelajaran buat kita. Sebab, sejarah menurut DR John Ruhulessin, sejarah adalah kehidupan bagi kita dan Maluku kini bukan lagi sebagai pusat pertikaian tapi pusat perdamaian.

Apa yang harus kita lakukan untuk masa depan daerah ini tentu adalah bagaimana kita harus melangkah lebih jauh bagaimana membaca setiap potensi konflik untuk tidak lagi menghantui wilayah ini.

Meskipun kita tidak bisa menghindari dari konflik, tapi setidaknya dengan kemampuan masyarakat memiliki daya tangkal yang kuat kita bisa meminimalisir setiap ancaman yang datang.

Di sini kita semua tentu harus mempelajari potensi-potensi yang kita miliki. Termasuk dalam mempelajari kultur, budaya, dan agama-agama di Maluku dengan segenap konsep-konsep perdamaian yang kita miliki.

Penanganan konflik di Maluku tentu membutuhkan pendekatan yang memiliki banyak variabel secara konprehensif untuk membaca setiap ancaman dan perubahan atas masa depan di tengah derasnya kemajuan teknologi komunikasi di era digital saat ini.

Di sini kita perlu memperkuat daya tahan masyarakat dengan memberikan pemahaman yang utuh atas setiap peluang dan ancaman konflik yang sedang dan akan kita hadapi.

Di sinilah perlunya dibangun sebuah kesadaran baru untuk meredam setiap ancaman konflik sosial di masyarakat dengan apa yang disebut oleh Prof Nus: Early Warning Conflict.

Menurut Prof Nus, dalam hidup sekecil apapun kita tak mungkin menghindari yang namanya konflik. “Dan, dalam banyak studi yang dilakukan oleh para ilmuan diketahui bahwa setiap 100 tahun konflik sosial itu selalu terulang dengan motif dan pola yang berbeda,” ujarnya.

Jadi, tak salah jika pemahaman tentang: Early Warning Conflict untuk kita di Maluku tentu menjadi sebuah keharusan.(*)

------ ======================

Berita Populer

To Top