" >Pria Murah Senyum Itu Meninggal Tak Wajar – Rakyat Maluku
FEATURE/KHAS

Pria Murah Senyum Itu Meninggal Tak Wajar

Pekerjaan jurnalis memang penuh resiko. Ada beberapa di Maluku yang harus menghadap Yang Maha Kuasa karna konsekuensi dalam menjalankan tugas mulia ini. Sebut saja Alfrets Mirulewan yang dibunuh karena menginvestigasi BBM ilegal di MBD tahun 2010 lalu. kemudian Ridwan Salamun yang tewas dalam konflik di Tual dan beberapa lagi, ikut jadi bukti.

LAPORAN: JONATHAN MADIUW
Wapimred Rakyat Maluku

JUMAT, 4 Januari 2020, dunia jurnalis Maluku kembali dikagetkan dengan mendadak meninggalnya Jodih Lumatalele. Jodih adalah kontributor harian Rakyat Maluku. Kendati belum aktif betul di harian yang kini menjadi referensi orang Maluku ini, Jodih sudah beberapa kali ikut membantu dalam peliputan.

Sebut saja, ketika tim kesehatan dari Harian Radar Bogor hadir di Seram dalam membantu korban gempa di wilayah itu, Jodih satu-satunya pendamping dalam membimbing dan mengarahkan tim bentukan group Jawa Pos itu. Ia bahkan mengirim kisah perjalanan tim kesehatan Radar Bogor dalam membantu warga yang membutuhkan pelayanan kesehatan dalam tulisan bersambung sebanyak dua kali. Seperti Rakyat Maluku dan Ambon Eskpres, Radar Bogor adalah group Jawa Pos dalam kendali Fajar Group sebagai CEO di wilayah Indonesia Timur.

Jodih bahkan intens mengirim berbagai berita di Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) dan kebanyakan itu adalah berita penyelewengan anggaran pemerintah, baik di Pemkab SBB sampai ke pengelolaan dana desa.

Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Perkumpulan Media Online Indonesia (MOI) dan Aktivis LSM Lumbung Inofrmasi Rakyat (LIRA) Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), Provinsi Maluku ini memang konsern dalam memberangus praktek Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) di SBB.

Jodih awalnya adalah seorang kepala desa yang sering disebut Upu atau raja di Negeri Neniari, SBB.

Saat Bupati Jacobus F Puttileihalat berkuasa, Jodih punya peran yang cukup besar. Bahkan sebelumnya, dia adalah salah satu raja atau Upu yang ikut berandil dalam memperjuangkan pemekaran kabupaten berjuluk Saka Mese Nusa itu dari kabupaten induk, Maluku Tengah.

Kecintaannya kepada SBB memang sangat tinggi. Ia sempat juga menjadi kontraktor dalam mengelola beberapa proyek pembangunan di kabupaten itu saat Bob, sapaan bupati petama itu berkuasa. Tujuannya adalah bagaimana ikut berpartisipasi dalam membangun SBB.

Kepergian pria 49 tahun seperti mimpi. Bahkan bisa dibilang sebuah ‘kejutan’. Bagaimana tidak, dia sebelumnya sehat walafiat. Kamis, 3 Januari 2020, Jodih bahkan dari Piru menggunakan mobil milik camat di wilayah itu pergi memantau evakuasi penumpang KM Terubuk yang mengalami kebocoran di bagian lambung saat debarkasi dari pelabuhan feri Waipirit. Jodih juga sempat melakukan siaran langsung di FB-nya.

Tapi tiba-tiba saja dalam perjalanan pulang, kembali ke Piru, Jodih meninggal. Ia menghembuskan nafas terakhir sebelum sopir yang mengantarnya berhasil melarikannya ke RSU Piru.
Kabar meninggalnya Jodih sempat menghiasi medsos terutama facebook milik sejumlah rekan jurnalis di Maluku. Banyak yang terkejut karena Jodih sendiri selama ini terlihat sehat. Ia jarang mengeluh sakit dan beraktivitas seperti biasa.

Pantas kemudian banyak yang menyimpulkan atau menaruh curiga kalau kematian Jodih tidak wajar. Salah satu rekan Jodih, Morgan Rutumalessy menulis di dinding facebook-nya. Ia mengimbau agar semua wartawan, terutama di SBB mendesak agar motif kematian Jodih diungkap. “Diimbau untuk semua rekan wartawan/wartawati SBB untuk bergerak dan turut menyelidiki kematian Bung Jodih Lumatalele karena ada indikasi kematiannya tidak wajar. Dorong juga mayatnya segera dibawa ke Ambon untuk dilakukan otopsi.” tulis Morgan.
Hanya saja, pihak keluarga keberatan untuk mengotopsi jasad Jodih. Kematian pria murah senyum dan ramah ini diikthiarkan sebagai kehendak Yang Maha Kuasa. Jodih dijadwalkan dimakamkan hari ini, Senin 7 Januari 2020.

SINGGAH DI KARAOKE

Morgan Rutumalessy yang juga salah satu jurnalis di SBB sempat juga menulis kronologis kematian Jodih. “Perlu ada keterbukaan dari pihak rumah sakit atas penyebab kematiannya bukan bungkam begitu saja. Menurut keterangan yang dihimpun oleh pihak media, kematian saudara Jodih tidak wajar dan misterius,” katanya.

Ia menambahkan, korban setelah dari Waipirit SBB sempat mampir di Karaoke Mandarin di Waisarissa. Korban bersama sopir yang mengantarnya sempat memesan 8 botol bir. ”Ia minum bersama sopit camat Seram Barat yang mengantarnya. Menurut keterangan ada dua pramuria yang menemaninya. Bir yang telah dituangkan ke dalam gelas, tak sempat diminum oleh korban. Korban hanya nyanyi lima lagu dan lebih fokus main hp-nya,” beber Morgan.

Morgan mendesak agar pihak kepolisian segera membantu untuk mengungkapkan misterius kematian Jodih. Pasalnya ada indikasi lain di balik kematian ini. ”Yang bisa jawab semua ini selain pihak rumah sakit, saksi kuncinya ada pada sopir yang menemani dan mengantarnya,” tulis Morgan.

Direktur sekaligus pmimpinan Rakyat Maluku, Syaikhan Azzuhry Rumra menyampaikan duka citanya yang mendalam atas kepergian kontributor Harian Rakyat Maluku ini.

Menurutnya, Jodih sangat potensial sebagai seorang jurnalis karena memiliki insting yang tajam dalam menjalankan tugas-tugasnya sebagai seorang wartawan. ”Kami sangat kehilangan. Dia cukup membantu, kendati kami baru berencana mengoptimalkan perannya untuk menjadi koresponden di SBB. Kami merasa kehilangan. Semoga amal ibadahnya diterima Tuhan Yang Maha Kuasa dan almarhum mendapat tempat yang layak di sisi-Nya,” sebut Rumra, Minggu, 5 Januari 2020.

Di lain pihak, Wakil Sekjend Perkumpulan Media Online Indonesia, Irham Maulidi ikut menyampaikan belasungkawanya. ”Segenap Pengurus Perkumpulan MOI turut berduka cita yang dala,” kata Irham.

Irham juga mengatakan, sebelumnya almarhum sedang intens berkomunikasi dirinya untuk mengungkap sejumlah kasus korupsi di Seram Bagian Barat. “Almarhum memang sedang intens berkoordinasi dengan saya, karena saudara Jodih sedang intens membongkar dugaan korupsi dan penyalahgunaan wewenang di Kabupaten Seram Bagian Barat. Beberapa data bahkan sudah kami kirim ke kepolisian, kejaksaan dan KPK. Jodih selain jurnalis, aktif juga di LIRA”, jelas Irham yang juga adalah Wapres Bidang OKK dan Hukum DPP LSM LIRA.

Ketua DPP Perkumpulan MOI, Ikhsan Tualeka juga mengaku shok mendengar kabar kematian Jodih. Sebab, belakangan ini almarhum masih sering menghubunginya sekadar untuk menanyakan kabar atau diskusi persoalan aktual di Maluku, namun Jumat malam, 4 Januari 2020, di laman facebook salah satu rekan jurnalis mengabarkan duka berpulangnya Jodih keharibaan Tuhan. “Sungguh kabar itu adalah duka bagi kita semua. Bagi keluarga sudah pasti. Pun bagi jurnalis dan segenap pengurus MOI, pusat-daerah, dan semua orang yang mengenalnya. Semoga almarhum mendapat tempat yang layak di sisi Tuhan, dan keluarga yang ditinggal diberikan ketabahan dan Kesabaran,” harap Ikhsan.

Selamat jalan kawan, tenang di sisi Tuhan Yang Maha Esa (*)

------------
------ ======================

Berita Populer

To Top