ADVETORIAL

Tak Benar Monopoli Proyek di Kedokteran

RAKYATMALUKU.COM – AMBON,- Wakil Rektor II Bidang Administrasi Umum Universitas Pattimura (Unpatti) Dr. Jantje Tjiptabudi SHm M.Hum akhirnya memberikan penjelasan soal pengelolaan proyek fisik di Fakultas Kedokteran di universitas itu.

Didampingi Dekan Fakultas Kedokteran Dr. dr. Bertha. J. Que, Sp.S.,M.Kes, Tjiptabudi menegaskan, tidak bernar terjadi monopoli proyek fisik terutama proyek-proyek yang sifatnya penunjukan langsung di Faklutas Kedeokteran Unpatti sebagaimana yang diberitakan koran ini beberapa waktu lalu. ”Memang benar ada banyak pekerjaan proyek di fakultas kedokteran. Nilai anggaran proyeknya mulai dari Rp 200 juta hingga mendekati Rp 1 miliar. Untuk proyek Rp 200 juta dilakukan dengan penunjukan langsung sebagaimana aturan yang ditetapkan, sementara proyek yang lebih besar melalui proses lelang atau tender,” kata Tjiptabudi.

Menurut dia, ada banyak perusahaan yang kerja proyek di fakultas itu dan tentunya perusahaan-perusahaan tersebut dipilih untuk bekerja sesuai bidangnya atau keahliannya. ”Jadi tidak ada kita mau pilih-pilih perusahaan seenaknya untuk mengerjakan berbagai proyek di sini,” ujarnya.

Jadi lanjut dia, terkait dugaan bahwa hampir semua proyek khususnya yang sifatnya penunjukan langsung di Fakultas Kedokteran ditangani oleh orang dekat Dekan Fakultas Kedokteran itu tidak benar. Sebab, dirinya sendiri ikut mengetahui seluruh penanganan proyek di Unpatti.

Ditambahkan, untuk tahun 2019, dari penyerapan anggaran di masing-masing fakultas di Unpatti, yang penyerapan anggarannya tidak maksimal itu ada di Fakultas Kedokteran. Sehingga banyak anggarannya yang dikembalikan ke universitas. ”Kalau memang suami dari dekan fakultas kedokteran yang kelola semua proyek tersebut, pasti penyerapan anggarannya tidak akan tersisa lagi. Buktinya kan banyak anggaran di fakultas kedokteran yang tersisa artinya tidak diserap dengan baik, sehingga dikembalikan ke universitas,” jelas dia.

Sementara soal pengeloaan dana hibah penelitian dan pengabdian yang juga diberitakan terkesan pilih kasih dalam pembagiannya ke para dosen sehingga ada dosen yang menerma dana remunirasi Rp63 ribu, Wakil Rektor II juga mengatakan, remunirasi tetap diberikan kepada yang berhak menerima, namun hal itu diukur dari besarnya kecilnya penelitian dan pengabdian yang dilakukan masing-masing dosen. ”Jadi tidak benar ada pilih kasih dalam pengelolaan dana hibah penelitian dan pengaabdian,” ungkap Tjiptabudi.

Sebelumnya, soal dugaan KKN dalam pengelolaan dana hibah penelitian dan pengabdian ini, Dekan Fakultas Kedokteran Dr. dr. Bertha. J. Que, Sp.S.,M.Kes sudah memberikan klarrifikasinya bahwa hal itu tidaklah benar. ”Kita ini kerja berdasarkan prosedur. Berdasarkan sistem dari Kantor Pusat Unpatti,” kata Dekan.

Ia bahkan mengklaim bahwa jika ada orang dalam yang memberikan informasi soal dana hibah, maka pasti orangnya tidak pernah masukan proposal penelitian. ”Sekarang ini khan sistem BLU. Sudah tidak seperti dulu lalu gabung-gabung. Masing-masing meneliti sehingga pointnya itu bisa tinggi kalau dihitung BLU. Makanya ada yang dapat remunirasi hanya Rp63 ribu. Jadi yang disampaikan itu mereka tidak mengerti saja. Karena sejatinya, proposal yang disampaikan itu diteruskan ke Kantor Pusat Unpatti dan kemudian dikeluarkan SK-nya barulah dilakukan penelitian,” jelas Dekan.

Ia kembali mengklarifikasi bahwa memang tidak ada seleksi proposal karena tidak ada yang berlomba-lomba dalam memasukan proposal. Hanya sedikit yang memasukan proposal. Sayangnya Bertha Que tidak menyinggung sedikutpun soal pengelolaan anggaran proyek fisik bernilai puluhan miliaran rupiah yang terkesan dimonopoli oleh satu orang dekatnya yang juga dosen di Unpatti. ”Bung sebaiknya datang ke kantor saja biar dijelaskan dengan baik tidak bisa dijelaskan lewat telepon. Kebetulan juga hand phone saya juga sudah mau low bat,” kilahnya. (*)

------ ======================

Berita Populer

To Top