I Like MONDAY

UNIDAR

AHMAD IBRAHIM | Komisaris Utama Hr. Rakyat Maluku

Ide itu berawal dari mantan gubernur Maluku Hasan Slamet. Saat menjabat sebagai gubernur pada era 1980-an pensiunan tentara berpangkat mayor jenderal itu mengimpikan suatu saat kelak ketika beliau tak lagi menjabat sebagai gubernur atau tak lagi bertugas di Maluku ada kenangan yang ingin ia abadikan untuk Maluku.

Obsesi Pak Hasan Slamet itu kemudian ia wujudkan dengan harapan kedepan Maluku harus punya lembaga pendidikan tinggi yang representatif. Harapan itu dengan satu asumsi bahwa hanya dengan lembaga pendidikan yang bermutulah kelak akan melahirkan sebuah generasi Maluku yang berkualitas untuk saat ini atau yang akan datang. Penggalan cerita itu pernah saya tangkap pada suatu saat pertemuan dengan dr.H. A.Rahman Polanunu. Mantan pejabat Pemrov Maluku ini termasuk “orang penting”.

Ia adalah sosok pencerita yang paling dekat dengan Pak Hasan Slamet. Ia pula merupakan salah satu saksi sejarah yang ikut berperan “mengeksekusi” obsesi Pak Hasan Slamet hingga kemudian melahirkan lembaga pendidikan tinggi bernama Universitas Darussalam (UNIDAR) Ambon itu.

“Saya berharap, kelak bila yayasannya sudah terbentuk teman-teman yang mantan pejabat di Maluku itu bisa menjadi bagian dari pengelola. Bagian dari penggeraknya,” kata A.Rahman Polanunu yang sering disapa “Om Nan” mantan Kadis Kesehatan Maluku itu mengutip ucapan almarhum Pak Hasan Slamet.

Obsesi itu kemudian berlanjut. Pak Hasan Slamet lalu memanggil beberapa teman di kediamannya seperti Drs. M. Akib Latuconsina, Drs. Jamal Tuasikal, Ir. Djafar Hassan, Drs.Abdul Rachman Umaternate, Drs. Hamadi B. Husein, Drs. Hasyim Marasabessy,BcHK, Ir. M. Saleh Latuconsina, Alwi Al-Haddar, dan “Om Nan”.

Pertemuan itu berlangsung sekitar tahun 1980-an. Saat pertemuan itulah Pak Hasan Slamet mengutarakan niatnya untuk mengabdikan dirinya bagi Maluku. “Seandainya, suatu waktu saya tak lagi bertugas di Maluku kira-kira apa yang bisa saya tinggalkan dan saya perbuat untuk masyarakat Maluku?,” jelas “Om Nan” menirukan ucapan Hasan Slamet lagi.

Saat ide itu disampaikan berurailah air mata “Om Nan” dkk. Terlintas dalam pikiran ucapan Pak Hasan Slamet itu sepertinya ada sesuatu yang tergambar dalam pikirannya bahwa untuk membangun masa depan generasi Maluku yang bermutu tak ada cara lain kita harus membangun lembaga-lembaga pendidikan di daerah ini.

Tapi, syarat untuk itu seluruh komponen harus bersatu. Ibarat lokomotif kereta api. Semua bagian harus berfungsi dengan baik. “Mereka ini harus menjadi bagian dari kegiatan merangkaikan gerbong-gerbong kereta pada lokomotifnya sebagai satu kesatuan yang utuh, kokoh, menyatu dalam sebuah gerakan bersama membawa muatannya ke arah dan tujuan yang benar,” ujarnya.

Cita-cita itulah yang melatarbelakangi semangat para pendiri sekaligus menjadi roh yang dimotori oleh Mayjen TNI Hasan Slamet yang kemudian diberi nama Yayasan Darussalam Maluku dimana UNIDAR Ambon sebagai nama lembaga pendidikan tinggi berdasarkan Akta Notaris No.15 Tahun 1981 Tanggal 8 April 1981.

Setelah pertemuan pertama di kediamannya dilanjutkan lagi pertemuan kedua. Di sinilah dimatangkan pembentukan yayasan dimaksud. “Saya akan bangun pendidikan di Maluku,” ujarnya.

Tak lama kemudian ia pun masuk ke kamar dan keluar lagi sambil membawa uang sebesar Rp.25 juta yang selanjutnya diserahkan kepada “Om Nan”. “Ini uang saya serahkan untuk mendirikan yayasan sebagai prasyarat mendirikan perguruan tinggi,” cerita pria berusia 76 tahun itu.

Awalnya pendirian kampus dan yayasan ini berlokasi di Kawasan Laha, namun karena ada aturan larangan bahwa di Kawasan Laha tak bisa mendirikan bangunan-bangunan tinggi karena berdekatan dengan Bandara Pattimura. Namun atas semangat kebersamaan masyarakat Maluku kala itu yang menginginkan sebuah perguruan tinggi Islam maka yayasan ini pun mendapat hibah sebidang tanah di Kawasan Tulehu. Dan, berdirilah Kampus UNIDAR dan aktivitas yayasan sejak tahun 1981 berdasarkan akta pendirian tersebut.

Setelah sekian tahun berproses, UNIDAR Ambon pun menjadi kampus yang disegani. Kebesaran sejarah telah mencatatkan kampus ini menjadi salah satu kampus swasta yang diperhitungkan di kawasan timur Indonesia.

UNIDAR pun menjadi brandmart ditandai dengan banyaknya alumni yang menjadi pekerja baik di sektor pemerintah maupun swasta. Tidak saja di Ambon tapi di beberapa kota tetangga mereka para alumni UNIDAR ini menjadi leader yang disegani.

Sayang, kebesaran sejarah UNIDAR itu tak lama berlangsung. Polemik soal kepemilikan yayasan membuat obsesi mantan gubernur Maluku Hasan Slamet untuk menjadikan UNIDAR sebagai perguruan tinggi yang telah dititipkan oleh beliau termasuk semua aset yayasan dan universitasnya itu ikut meredup seiring polemik kepemilikan yayasan yang berujung ke ranah hukum.

Berkaca pada obsesi pendirian UNIDAR sebagaimana roh dan semangat yang dicetuskan Pak Hasan Slamet itu menuntut semua pihak harus kembali ke “khittah” pendirian kampus tersebut.

Sebagaimana yang disampaikan “Om Nan” di atas yakni semua pihak harus menjadikan UNIDAR sebagai sebuah lokomotif kereta api sebagai satu kesatuan yang utuh, kokoh, menyatu dalam sebuah gerakan bersama ke arah dan tujuan yang benar.

Nah, di sini semua pihak tentu dituntut harus berjiwa besar untuk membangun kembali kejayaan UNIDAR. Menjadikan UNIDAR yang satu. Sehingga kedepan tak ada lagi stigma UNIDAR Tulehu ataupun UNIDAR Wara. (**)

------ ======================

Berita Populer

To Top