I Like MONDAY

Yangere

Yangere. Musik khas warga Desa Duma itu selalu menghiasi setiap Tahun Baru tiba. Musik yang dilengkapi gitar, seruling, drumer, dan soundsystem, ini dibawakan warga Duma yang tinggal di daerah pedalaman di sebuah distrik di Galela, Maluku Utara.

Untuk memeriahkan Tahun Baru mereka datang secara bergrup. Mereka melintasi jalan dan mengitari Danau Galela, di kaki Gunung Tarakani, sepanjang lebih 15 Km dengan berjalan kaki ke ibukota kecamatan bernama Soasio. Sembari membawa alat musik mereka pun melewati setiap perkampungan sambil ber-Yangere. Bermusik sembari bergoyang.

Dipimpin seorang dirgen bernama Om Oce, di sepanjang jalan mereka menyinggahi keluarga dekatnya sambil melantunkan lagu-lagu khas Galela: Burung Maleo, Tatahani Iwa, dll. Diikuti dengan goyangan. Mereka pun larut dalam bersuka ria.

Ada kebiasaan yang tak lazim. Setelah beranjangsana dengan keluarga dekat, mereka pun tak ketinggalan menyinggahi rumah kami. Yang menjadi sasaran tentu ayah kami.

Sebagai seorang guru, penilik, dan Kakandep P dan K Kecamatan, ayah kami sangat dihormati. Selain guru, ayah kami juga seorang aktivis pergerakan di lembaga sosial Muhammadiyah Distrik Galela. Sebagai Ketua Majelis Pendidikan sejak tahun 1967.

Salah satu bentuk penghormatan ayah kami sangat mudah bersosialisasi. Walau berbeda setiap Tahun Baru tiba ia kebagian jatah dikunjungi kelompok musik Yangere.

Sebagai guru yang telah mengabdi sejak tahun 1960 dan telah menghabiskan separoh usianya yang kini beranjak 80 tahun itu ia sangat dihormati. Walau berbeda keyakinan mereka tetap menganggap ayah kami sebagai bagian dari keluarga.

Untuk menghormati, rasanya belum lengkap bila mereka melewati perkampungan tak mampir memberikan penghormatan. Tak sudi jika mereka tak menghibur. Tak lengkap jika mereka tidak ber-Yangere..!

Langkah yang dilakukan oleh Om Oce dkk. ini tentu semata-mata untuk membangun kedekatan atas dasar kemanusiaan terhadap seorang pendidik. Sebagai seorang guru yang mengabdi untuk semua orang. Semua suku, agama, ras dan antargolongan dari pesisir pantai hingga daerah pedalaman.

Ayah kami memang tidak sendiri. Bersama koleganya yang juga datang dengan latar belakang berbeda mereka saling mengasah kemampuan mendidik anak didiknya. Mereka pun saling membaur antarkolega.

Ada dari suku Ambon, Manado, dan Sangir Talaud. Mereka ini bermarga Mailoa, Oktolseja, Anu, Mathias, Talahatu, Saumtaki, Selong, Manderos, Ngantung, Papuling, dll.

Pola hubungan lintas agama dan upaya membangun relasi antar masyarakat itu tak menjadi penghalang bagi ayah kami untuk membangun persaudaraan antarsesama.

Dengan Yangere di hari Tahun Baru itu, Om Oce dkk tentu telah menjadi bagian penting dari upaya menjaga kohesi sosial sebagaimana yang telah diperlihatkan bersama ayah kami nun di utara Pulau Halmahera.

***

Selain dengan Yangere, –sudah menjadi kebiasaan sehari menjelang Natal dan Tahun Baru tiba– tugas saya dan saudara saya yang lain yakni membawa “bingkisan” kepada tetangga atau kolega orang tua kami yang Nasrani dan warga keturunan Tionghoa bermarga Tan Tjun, Tan Hoat, Tan Kim dll sebagai parcel.

Parcel ini tergolong unik. Bila biasanya bingkisan itu berisi minuman atau makanan berupa biskuit Khong Guan, Coca Cola atau Sprite, maka bingkisan yang dikirim oleh orang tua kami ini hanyalah berupa ayam kampung atau kue hasil buatan ibu kami.

Ibu kami sejak muda sudah mahir dan menjadi “juragan” kue. Kue-kue itu dijual untuk menutupi biaya hidup keluarga kami. Menutupi penghasilan gaji sang ayah.

Beliau sudah terlatih membuat kue sejak remaja. Sejak tinggal di keluarga Bin Syekh Abubakar di Kampung Falajawa, Ternate.

Adapun “bingkisan” ayam-ayam kampung itu hasil piaraan ibu kami. Selain dikonsumsi untuk dimakan juga untuk dibagikan sebagai “parcel”. Sebagai bentuk penghormatan, ibu saya juga menyiapkan baju dan sendal baru dipakai saat mengantarkan “parcel” tersebut di sore hari menjelang Tahun Baru.

Jika saat ini kita jumpai banyak saudara kita membagi-bagi parcel Natal dan Tahun Baru dengan aneka bingkisan maka orang tua kami cukup memberikan parcel berupa ayam atau kue.

Sebagaimana diketahui, jauh sebelum Provinsi Maluku dimekarkan menjadi dua provinsi yakni Provinsi Maluku dan Provinsi Maluku Utara, Oktober 1999, Pulau Halmahera hanyalah sebagian kecil dari beberapa gugusan kecamatan yang banyak mendapat kiriman guru-guru dari Ambon, Manado, dan Sangir Talaud.

Para guru yang dikirim terutama dari Ambon oleh Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku itu disebar ke berbagai pelosok kecamatan di Maluku Utara.

Saking akrabnya, ayah kami kerap dipanggil oleh sesama kolega para guru dengan panggilan “engku” sedangkan ibu kami dipanggil “mama nyora”. Tak tahu dari mana asal usul julukan itu diberikan tapi setidaknya panggilan “engku” dan “mama nyora” telah merekatkan pola hubungan personal yang cukup kuat hingga seolah tak ada batasan antara bawahan dan atasan.

Bahasa sehari-hari pun kerap menggunakan bahasa daerah setempat sehingga tak ada lagi jarak seperti layaknya saudara sendiri.

Sebagai bentuk penghormatan, bila menjelang Hari Lebaran Idul Fitri tiba orang tua kami juga ketiban parcel balasan dari koleganya. Bingkisan Lebaran Idul Fitri yang dikirim itu bukan lagi seekor ayam namun biskuit Khong Guan, daun teh, gula pasir, Coca Cola dan Sprite.

Keterbatasan ekonomi yang melilit kedua orang tua kami ini ternyata tidak menjadi alasan bagi mereka untuk tidak berbagi. Sebaliknya apa saja yang ada pada mereka sepanjang bisa diberikan kepada orang lain mereka melakukannya dengan ikhlas walau hanya dengan seekor ayam sekalipun.

Itu dulu. Dulu sekali. Ketika pola hubungan dan relasi sosial begitu kuat ditanamkan orang tua kami yang hebat itu. Saya tentu bangga telah menjadi bagian penting dari sejarah yang kini tentu sulit lagi kita jumpai.

Pola hubungan kemanusiaan sebagaimana yang diperlihatkan Om Oce dkk. dengan Yangere berikut pembagian parcel ala ayam kampung yang diperlihatkan orang tua kami itu menunjukkan sebuah prinsip egaliter yang patut dibanggakan.

Sayang, menjelang masa pensiun kebiasaan “engku” dan “mama nyora” membagi bingkisan sehari menjelang Tahun Baru kepada koleganya tak lagi berlanjut setelah keduanya bermukim di Ternate mengakhiri masa tuanya. Apalagi semenjak “mama nyora” dipanggil Sang Khalik, Juni 2013, lalu, aktivitas sang “engku” kini sudah jauh berkurang memasuki usianya yang ke-80.

Di tengah memudarnya solidaritas sosial dan
ancaman kegaduhan politik yang mengancam segregasi sosial yang tengah melanda bangsa ini kita tentu tidak harus kehilangan rasa saling percaya dan menuntut kita tetap saling menjaga. Saling memaklumi perbedaan pendapat dengan saudara yang lain dan tetap saling menyayangi dan menjunjung tinggi rasa saling percaya secara tulus, tentu.

Selamat memasuki Tahun Baru 2020. Semoga di tahun baru nanti kita terhindar dari musibah dan bencana, dan kita bisa meraih kesuksesan.(*)

------ ======================

Berita Populer

To Top