I Like MONDAY

MINAHASA

AHMAD IBRAHIM | Komisaris Utama Hr. Rakyat Maluku

H.M Jusuf Kalla dalam berbagai kesempatan selalu memuji nama Kota Minahasa dan Kota Ambon. Pujian itu bukan tanpa alasan, tentu. Tapi, secara ilmiah dapat dipertanggungjawabkan.

Pasalnya, kedua kota yang berada di ujung timur Indonesia itu memiliki sejarah penting dalam dunia akademik. Dalam tradisi intelektual dan dalam sejarah peradaban di bidang pendidikan. Sebab, siapa sangka dari dua kota inilah telah melahirkan banyak pendidik.

Itulah mengapa Pak JK, panggilan akrab Jusuf Kalla saat menjabat sebagai Menko Kesra, punya kesan tersendiri saat ditugasi oleh negara untuk melakukan pendekatan bagi penyelesaian konflik komunal di Maluku. Jauh sebelum berkunjung ke Kota Ambon Pak JK ternyata sudah lebih dulu membaca banyak buku dan literatur tentang sejarah Maluku terutama Ambon.

Dari hasil bacaannya itu, Pak JK berkesimpulan bahwa persentuhan sejarah peradaban orang Ambon dengan dunia barat ternyata jauh lebih dulu berkembang ketimbang wilayah lain di Tanah Air. Juga dengan Minahasa.

Anak didik mereka pada kedua wilayah ini sudah lebih dulu mengecap pendidikan dengan dunia luar terutama Belanda tentu setelah mereka dibekali ketrampilan dan peluang untuk bersekolah pada lembaga-lembaga pendidikan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi.

“Kita tentu harus belajar banyak dari Minahasa dan Ambon. Sebab, di Indonesia Timur khususnya Sulawesi Selatan jauh sebelum kita mengenal sarjana — orang di Minahasa dan Ambon sudah lebih dulu menjadi guru besar atau professor. Tokoh pergerakan nasional Sam Ratulangi itu berasal dari Minahasa sejak 1926 sudah menjadi dokter. Begitu juga orang Ambon sudah lebih dulu menjadi professor,” kata Pak JK yang saat itu diundang sebagai Wapres RI saat memberikan sambutan pada pengresmian Universitas Fajar (UNIFA), Makassar, 2017, lalu.

Menurut JK, persentuhan budaya dan transfer ilmu pengetahuan dengan dunia luar tentu membuat suatu wilayah akan jauh lebih hidup. Baik dari sisi tradisi akademik maupun kebudayaan.

Dari hasil bacaan pula, JK punya kesimpulan orang Ambon dan Minahasa itu punya nilai sastra yang tinggi. Itu tercermin dari hasil karya lagu-lagu yang dihasilkan oleh para musisi dan seniman itu semuanya bersentuhan dengan manusia, alam, dan lingkungan.

Pandangan Pak JK tentang Minahasa di atas ternyata seolah membuyarkan sebuah harapan. Beta tidak, Rabu pekan lalu, (29/1/20), kita seketika dibuat kaget atas insiden pengrusakan rumah ibadah yang berada di Perum Agape, Kelurahan Tumaluntung, Kecamatan Kauditan, Kabupaten Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) hingga memicu reaksi pihak lain.

Kita tentu terpukul begitu mendengar kabar dari Kota Minahasa Utara itu. Sebab, kota yang selama ini kita ketahui sangat menjunjung tinggi toleransi umat beragama tiba-tiba tersentak oleh peristiwa tersebut.

Insiden di Minahasa Utara itu seakan ikut menggoyahkan rasa persaudaraan antarsesama. Tidak saja di Sulawesi Utara, tentu. Tapi juga wilayah lain di Tanah Air.

Di tengah upaya kita membangun rasa saling percaya di tengah pergumulan dan tantangan bangsa yang sedang kita hadapi saat ini mestinya semua pihak harus menahan diri. Jangan sampai konflik kepentingan oleh oknum tertentu membuat kita sesama anak bangsa saling berbenturan.

Apapun persoalan yang tengah kita hadapi tidak dibenarkan secara hukum untuk menempuh cara-cara kekerasan segala. Sebab setiap kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan baru yang lebih berbahaya.

Dan, kita semua tentu tak ingin hal itu terjadi di Kota Minahasa. Kota yang selalu menjunjung tinggi prinsip egalitarisme dalam bermasyarakat dan bernegara yang disuarakan oleh Pahlawan Nasional Sam Ratulangi yang dikenal dengan motto: Si Tou Ti Mou Tu Mou Tou, yang berarti: “Kita saling hidup dan menghidupi, mendidik dan menjadi berkat¬†bagi orang lain,” itu.

Sebuah prinsip kebersamaan yang sangat dipegang teguh dan menjadi filosofi bagi masyarakat Sulawesi Utara hingga saat ini jangan sampai tercoreng akibat ulah oknum yang sengaja membenturkan kerukunan umat beragama di Kota Sulut, itu.

Dan, semoga apa yang menjadi kebanggaan kita semua atas Kota Minahasa yang oleh Pak JK selama ini dianggap sebagai kota yang telah melahirkan sosok negarawan Sam Ratulangi, yang pendidik, dan ilmuan itu tidak sampai memudarkan semangat kerukunan kita tergerus di Kota Nyiur Melambai. Dan, kita berharap insiden tersebut tidak lagi terjadi di tempat lain.(*)

------ ======================

Berita Populer

To Top