I Like MONDAY

PANCASILA

AHMAD IBRAHIM | Komisaris Utama Hr. Rakyat Maluku

Belum setahun, Maret 2019, lalu, kita pernah disuguhkan sebuah wacana tentang adanya ancaman pendirian khilafah yakni sebuah sistem pemerintahan berdasarkan tatanan Islam di Indonesia. Seketika polemik pun bermunculan. Dan, kita pun seakan digiring pada sebuah framing. Seolah-olah ada upaya untuk mengadu-domba antara Islam dan negara.

Sebenarnya, perdebatan panjang soal pemisahan agama dan politik di Indonesia sudah berakhir. Yakni sejak penentuan dasar negara Pancasila versi Piagam Jakarta tahun 1945 ditiadakan.

Dengan ditiadakannya tujuh huruf sebagai sila pertama dalam Pancasila yakni: “Ketuhanan dengan mewajibkan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya,” dan digantikan dengan “Ketuhanan Yang Maha Esa” sebagai dasar negara kita dalam bernegara membuktikan bahwa polemik soal pemisahan agama dan politik di Tanah Air sudah berakhir.

Jika kini kita dihadap-hadapkan kembali untuk mempertentangkan Pancasila dengan cara memisahkan agama dan politik tentu membuat kita kembali mundur ke belakang. Itu artinya, sebagai bangsa yang berdaulat kita belum selesai dengan diri kita sendiri dalam hal bagaimana menjaga keutuhan bangsa ini.

Yakni, bagaimana menjadikan Pancasila benar-benar bisa mengakar dan membumi belumlah tersentuh. Kita baru berada pada tahap menjadikan Pancasila sebagai slogan. Atau boleh jadi menjadikannya sebagai “alat” untuk memukul lawan-lawan politik, misalnya.

Karena itu, bila ada yang menyebut agama sebagai musuh utama Pancasila tentu berlawanan dengan sejarah lahirnya Pancasila yang telah dirumuskan oleh pendiri bangsa ini yang telah ditempuh melalui perdebatan yang cukup panjang — dengan tetap mengedepankan nilai-nilai agamis.

Dilepaskannya tujuh kata sebagai sila pertama dalam Pancasila yakni: “Ketuhanan dengan mewajibkan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya,” membuktikan semangat kebersamaan dan toleransi mereka yang tinggi.

Dan, kalau kita baca risalah sidang BPUPK dan risalah Sidang PPKI — dapat ditarik kesimpulan bahwa Pancasila saat itu telah dirumuskan berdasarkan nilai-nilai agama, khususnya Islam.

Sebuah semangat toleransi yang melatarbelakangi jalan pikiran para founding fathers kita semata-mata karena keinginan mereka yang kuat untuk mewujudkan cita-cita Indonesia yang ber-Bhineka Tunggal Ika.

Karena itu, dengan alasan apapun mempertentangkan dan menganggap agama sebagai musuh Pancasila tentu berlawanan dengan samangat sejarah yang telah digoreskan oleh para pendiri bangsa ini.

Bagi kaum Pancasilais, agama sendiri adalah kata kunci bagi falsafah Pancasila. Dan, bagi agama¬†Islam maupun agama-agama lain menyebutkan Pancasila adalah titik temunya suku, agama, etnis, dan ras. Atau dalam bahasa agama dikenal sebagai kalimatun sawa’ atau titik temu antaragama, suku, etnis, ras, atau ragam identitas lainnya.

Pernyataan Kepala Badan Pembina Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi bahwa “agama musuh Pancasila” bukan kesukuan, tentu mengundang polemik.

Walau kemudian ada klarifikasi dari Yudian Wahyudi bahwa yang ia maksudkan bukan agama secara keseluruhan sebab dari segi sumber dan tujuannya Pancasila itu sendiri religius atau agamis, tak membuat mereka menerima begitu saja.

Apapun alasannya di mata mereka statemen Yudian Wahyudi yang Rektor UIN Jogyakarta itu tersingkap sebuah agenda bahwa ada persoalan antara Islam dan negara.

Bahkan boleh jadi statemen tersebut secara tak langsung menggambarkan ada upaya untuk mengorek “luka” lama yang selama ini sudah dianggap selesai setelah ditiadakannya tujuh huruf dalam Piagam Jakarta tahun 1945, itu.

Walau ia tidak menyebutkan siapa yang dimaksud kelompok tertentu yang mereduksi agama sesuai dengan kepentingannya untuk mempertentangkan Pancasila tapi di arus bawah telah terjadi resistensi yang begitu kuat.

Nah, upaya mempertentangkan ataupun memisahkan kembali agama dan politik di tengah upaya kita membangun bangsa saat ini akan jauh lebih baik bila kita memperkuat kembali semangat nilai-nilai Pancasila dalam konteks bernegara dan bermasyarakat dengan tetap menjunjung tinggi dan menjaga semangat toleransi serta kemanusiaan secara adil dan beradab. Dan, menjunjung tinggi semangat persatuan dan gotong royong demi terwujudnya keadilan sosial.

Mendikhotomikan kembali Pancasila dan agama selain ahistoris tentu hanya akan menguras energi kita. Karena itu upaya mempertentangkan kembali ideologi Pancasila dan agama membuktikan bahwa kita belum selesai dengan diri kita sendiri terutama dalam hal menjaga keutuhan bangsa yang berdaulat di bawah payung falsafah Pancasila.(*)

------ ======================

Berita Populer

To Top