NEWS UPDATE

Kiamat di Ramadan 2020 | Ulama: Itu Hak Prerogatif Allah SWT

RAKYATMALUKU.COM – Kabar akan datangnya hari akhir atau kiamat pada pertengahan bulan Ramadan 1441 Hijriah atau di tahun 2020 cukup meresahkan masyarakat Maluku bahkan Indonesia. Apalagi, sejumlah hadist dikutip untuk menguatkan prediksi akhir zaman terjadi 15 Ramadan mendatang.

Isu sesat yang berseliweran di media sosial dan diskusi-diskusi publik itu akhirnya ditanggapi sejumlah ulama. Kabar itu disebut sebagai isu sesat. Bahkan, dianggap bertentangan dengan ketentuan atau takdir Allah SWT.

Direktur Ma’had Al-Jamiah IAIN Ambon, Farid Naya, M.Si, menjelaskan, adanya prediksi seolah-olah kiamat akan terjadi pada Puasa ke-15, yakni Ramadan 1441 H, bertepatan dengan Tahun 2020 Masehi tidaklah benar. Sebab, pernyataan itu hanya sebatas prediksi. “Sebagai orang yang beriman, tentunya tidak boleh langsung mempercayai hal itu. Karena, yang namanya kiamat, itu adalah hak prerogatif Allah SWT,” tegas dosen IAIN Ambon ini, kepada Rakyat Maluku, Kamis 12 Maret.

Farid menjelaskan, tentang hari akhir, bahkan Nabi-pun tidak ada yang menyatakan waktunya kapan akan terjadi. Sebab, sekali lagi ditegaskan Farid, kiamat merupakan hak prerogatif Allah SWT. Sehingga, manusia biasa tidak bisa memprediksi. Artinya, kata dia, jikalau ada hadist yang digunakan oleh beberapa ustat sebagai referensi, yang menyebut bahwa kiamat akan terjadi pada tanggal 15 Ramadan 1441 H, itu hanya sebatas prediksi atau ramalan.

“Dan, tidak bisa dijadikan sebagai satu-satunya sumber atau referensi untuk mengatakan, apalagi menjust bahwa kiamat akan terjadi di pertengahan Ramadan.”

Untuk itu, Farid mengaku, dia pribadi lebih menyerahkan hal tersebut kepada Allah SWT, karena Kiamat, jangankan menunggu Ramadhan nanti, jika Allah berkehendak besok atau lusa terjadi, maka akan terjadi kiamat.

“Tetapi di dalam Alquran sudah dijelaskan bahwa kiamat itu adalah hak prerogatif Allah, bukan prerogatif manusia. Lalu kenapa disembunyikan Allah, agar manusia senantiasa berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan. Fastabiqul khairat. Kalau ditentukan waktunya, maka orang tidak akan berbuat kejahatan apapun. Dan, semua orang akan berlomba-lomba untuk berbuat kebaikan. Tapi, ini adalah cara Allah SWT ingin menguji manusia. Apakah manusia sadar atau tidak dengan ketentuan dan kehidupan yang diberikan. Kalau manusia sadar, maka manusia akan mengisi kehidupannya untuk selalu beribadah kepada Allah SWT,” jelas Farid.

Dosen yang mahir dalam bahasa Arab ini menyebutkan, Allah SWT menciptakan manusia ke muka bumi dengan maksud dan tujuan. Hal ini dijelaskan di dalam Alquran, Surat az-Zariyat (56).

“Dan, itu sesuai dengan tujuan manusia diciptakan Allah SWT. Sesuai dengan Alquran, surat Surat az-Zariyat (56) berbicara tentang tujuan penciptaan jin dan manusia. Di dalam Surat az-Zariyat ayat 56 dijelaskan, jin dan manusia diciptakan oleh Allah SWT untuk beribadah kepada-Nya.”

Manusia termasuk juga jin, kata Farid, diciptakan Allah untuk beribadah kepada-Nya. “Jadi, menurut saya, kita tidak boleh melangkahi ketentuan Allah SWT. Sebagai orang yang beriman, serahkan hari kiamat ini kepada Allah SWT, dan sebagai umat Islam, tidak perlu ikut memviralkan bahwa kiamat akan terjadi besok. Itu sama dengan kita melangkahi ketentuan Allah SWT. Jadi, sebagai orang beriman, kita tidak perlu merasa cemas dengan berita-berita yang viral seperti itu, cukup kita melaksanakan apa yang diperintahkan Allah SWT, dan menjauhi apa yang dilarang-Nya,” pesan Farid.

Farid sendiri mengaku kaget mendengar orang menyebut hadits tentang hari akhir di bulan Ramadan. Ia mengakui, selama belajar di pesantren, belum pernah membaca atau mendengar adanya hadits tersebut dari para gurunya.

Ia mengaku, hadits itu, justeru baru viral akhir-akhir ini. “Menurut saya, masyarakat Muslim tidak perlu kemudian khawatir, karena ketika Allah SWT menghendaki Kiamat akan terjadi, maka jangankan Ramadan ke-15, sekarang juga bisa terjadi, kalau Allah SWT menghendaki. Dan, sebagai manusia biasa, tidak kemudian terlalu menjust bahwa kiamat akan terjadi pada Ramadan ini. Tidak ada.”

Sementara soal kejadian alam termasuk adanya wadah coronavius, menurut dia, hal ini merupakan Sunnatullah. Dan, kata dia, musibah itu tidak hanya terjadi di akhir-akhir ini. Tapi, sudah terjadi sejak zaman Rasulullah Saw. Ada bencana gempabumi, longsor, banjir dan sebagainya. “Dan, hal itu sudah biasa. Makanya, saya lebih sepakat, kalau musibah yang terjadi, kapanpun dan di manapun, itu sebenarnya, bagian dari ujian Allah Swt kepada manusia,” jelas Farid.

Memang, kata dia, ada hadist Rasulullah Saw yang menegaskan tentang adanya tanda-tanda hari akhir, tapi itu adalah sebagai tanda. Bukan memastikan besok atau kapan terjadi Kiamat.

Terkait adanya corona virus yang menimpa masyarakat dunia saat ini, kata dia, pada masa Khalifah Umar Bin Khatab, wabah penyakit juga terjadi. Di mana, ada virus atau wabah penyakit yang terjadi massal, dan sudah akut. Atas alasan itulah, Farid mengajak warga Muslim dan masyarakat umumnya, agar tidak terlalu panik dengan isu atau kabar bahwa ini adalah tanda akhir zaman. “Itu adalah wilayah prerogatif Allah SWT, bukan prerogatif manusia,” tutup Farid.

Senada juga disampaikan alumni Pesantren Gontor, Dr. Ahmad Latukau, BA, MA.

Doktor jebolan University Malaya, Kualalumpur ini menjelaskan, selama menempuh studi di Pesantren Gontor hingga selesai doktor, ia tidak pernah menemukan adanya hadits yang menjelaskan tentang waktu atau hari akan terjadinya kiamat.

Bahkan, Doktor Ushuluddin Dakwah, Fakulty of Islamic Studies ini mengakui, di dalam Alquran, tidak ada penjelasan secara rinci kapan Hari Kiamat akan terjadi. “Yang ada, Allah Swt menjelaskan tentang tanda-tanda, atau syarat yang akan terjadi bila mana datangnya hari Kiamat,” jelasnya.

Menurut dosen Pascasarjana IAIN Ambon yang menyelesaikan studi 4 tahun di International Islamic University Pakistan, Islamabad ini, di dalam Alquran, Allah Swt sebatas menginformasikan kepada manusia tentang dahsyatnya Hari Kiamat tiba. “Dan itu pasti akan tiba. Tetapi, kapan, di mana dan jam berapa manusia tidak ada yang mengetahuinya.”

Di dalam Hadist, kata dia, salah satu tanda-tanda Kiamat itu, bila mana perbandingan perempuan dengan laki-laki, perempuannya lebih banyak di muka bumi. Bila mana orang sudah tidak lagi mengeliling Ka’bah. Tetapi, yang akan mengililing Ka’bah adalah para malaikat. “Kemudian, semua orang di muka bumi telah kaya-raya. Sehingga, kalau manusia ketika hidup, tidak sering bersedakah, maka, ketika datang tanda-tanda itu, semua orang akan berjalan keliling masuk ke rumah-rumah untuk bersedekah, namun, orang-orang menolak, karena semua orang memiliki uang dan harta yang serba cukup. Orang lalu bingung harus mensedekahkan hartanya ke mana dan kepada siapa. Karena semua orang sudah kaya raya,” jelas dia, mengutip hadits.

“Itu beberapa tanda, yang saya tahu. Tapi, secara jelas kapan dan di mana atau jam berapa, siang atau malam, tidak ada yang mengetahuinya. Wallahu alam, kita tidak tahu. Tak ada satupun yang mengetahuinya,” jelasnya.
Meskipun demikian, Ahmad Latukau yang pernah menjabat sebagai Sekretaris pribadi Dubes Maroko, Abdullah Syerairi dan Rasyid Lahlu ini, tidak menjust sumber hadits tersebut benar atau tidak.

“Untuk hadist yang disebarluaskan lewat media sosial itu, karena jumlahnya sangat banyak, namun sepanjang saya menempuh studi, tidak pernah saya jumpai adanya hadist yang merincikan waktu tepatnya akan terjadi Hari Kiamat, seperti disebutkan pada Malam 15 Bulan Ramadan. Jadi, kalau saya bilang itu hadist, kita takutnya jangan-jangan itu hadist. Namun yang jelasnya, di dalam Alquran tidak disebutkan waktu terjadinya Hari Kiamat,” tutup dosen Bahasa Arab, Sejarah dan Peradaban Islam di IAIN Ambon ini. (*)

| Video Terkait |

======================
--------------------

Berita Populer

To Top