I Like MONDAY

Syam, Wabah, dan Takdir

AHMAD IBRAHIM | Komisaris Utama Hr. Rakyat Maluku

LETAKNYA di Semenanjung Arab. Kota ini dulu pernah menjadi poros dagang. Pusat bisnis. Tempat bertemunya para saudagar dan kabilah Arab. Namanya Syam. Sejak masa kecil Nabi Muhammad SAW, Syam telah menjadi tempat persinggahannya untuk berdagang bersama para kabilah Arab dari Makkah sebelum beliau diangkat menjadi nabi.

Letaknya yang strategis membuat Syam menjadi tempat paling banyak dijumpai oleh para saudagar Arab hingga masa kekhalifahan.

Sebagai pusat perdagangan, Syam ternyata pernah mengalami masa kelam setelah negeri itu dilanda wabah penyakit yang mematikan.

Alkisah, suatu ketika Khalifah Umar Bin Khattab RA pernah bersama para sahabatnya melakukan perjalanan dari Kota Madinah menuju negeri Syam. Peristiwa itu terjadi pada tahun 18 Hijriah.

Sebelum memasuki Syam mereka berhenti di daerah perbatasan karena mendengar kabar ada wabah Tha’un Amwas yang melanda negeri tersebut. Akibat virus itu lebih 20.000 orang kehilangan nyawa karena wabah.

Virus tersebut menular dalam bentuk benjolan di seluruh tubuh. Benjolan ini bertahan tak lama dan akhirnya pecah hingga mengakibatkan pendarahan dan membuat sang pasien mati secara mendadak.

Mendengar kabar kedatangan Khalifah Umar tersebut, Gubernur Syam Abu Ubaidah Bin Al Jarrah RA langsung menemui mereka di perbatasan Syam.

Terjadilah dialog yang hangat antara para sahabat, gubernur, dan Khalifah Umar untuk memastikan apakah mereka bisa masuk ke Syam atau pulang ke Madinah.

Saat di perbatasan Syam, Umar Bin Khattab yang dikenal cerdas itu meminta saran kepada para rombongan yang terdiri atas kaum muhajirin dari Kota Makkah, kaum anshar dari Kota Madinah, dan juga orang-orang yang pernah ikut dalam Fathul Makkah (Perjanjian Makkah).

Mereka semua berbeda pendapat. Abu Ubaidah RA, misalnya. Sang gubernur ini menginginkan mereka tetap masuk ke negeri Syam, dan menolak rombongan yang dipimpin Khalifah Umar tersebut kembali ke Madinah karena tak ingin mereka berpaling dari takdir Allah SWT.

“Mengapa engkau lari dari takdir Allah SWT?” ujar sang gubernur kepada Khalifah Umar.

Lalu Khalifah Umar Bin Khattab pun balik menyanggahnya dan bertanya. “Jika kamu punya kambing dan ada dua lahan yang subur dan yang kering, kemana akan engkau arahkan kambingmu? Jika ke lahan kering itu adalah takdir Allah, dan jika ke lahan subur itu juga takdir Allah? Sesungguhnya dengan kami pulang, kita hanya berpindah dari takdir satu ke takdir yang lain,” kata sang khalifah.

Perbedaan itu pun berakhir ketika Abdurrahman Bin Auf RA sahabatnya yang lain mengucapkan hadist Rasulullah Muhammad SAW terkait kiat menghadapi wabah penyakit di suatu kota.

“Jika kalian mendengar wabah melanda suatu negeri maka jangan kalian memasukinya. Dan, jika kalian sudah berada di daerah itu janganlah kalian keluar untuk lari darinya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Akhirnya mereka pun pulang ke Madinah. Khalifah Umar merasa tidak kuasa meninggalkan sahabat yang dikaguminya itu.

Beliau pun menulis surat untuk mengajaknya ke Madinah. Namun tak lama kemudian tersiar kabar sang gubernur Abu Ubaidah RA ikut mati akibat wabah tersebut.

Khalifah Umar RA pun menangis membaca surat balasan dari negeri Syam yang mengabarkan sahabatnya tersebut telah wafat bersama rakyatnya.

Dan bertambah tangisnya ketika mendengar sahabatnya yang lain yakni Abu Ubaidah, Muadz Bin Jabal, Suhail Bin Amr, dan sahabat-sahabat mulia lainnya juga wafat karena wabah Tha’un yang telah menelan korban meninggal lebih 20.000 orang atau hampir separoh penduduk Syam kala itu.

Belakangan wabah tersebut seketika berhenti ketika pengganti gubernur berikutnya yakni Amru Bin Ash RA memimpin Syam.

Atas kecerdasan Amru Bin Ash itulah Kota Syam berhasil diselamatkan dari ancaman yang membahayakan itu karena sikap tadabbur atau kemampuan sang gubernur membaca atau menangkap suatu peristiwa dan kedekatannya dengan alam.

Sang gubernur Amru Bin Ash RA kala itu berkata kepada rakyatnya: “Wahai sekalian manusia, penyakit ini menyebar layaknya kobaran api. Jauhilah dan berpencarlah dengan menempati gunung-gunung.”

Mereka pun berpencar dan menempati gunung-gunung. Seketika wabah pun berhenti layaknya api yang padam karena tidak bisa lagi menemukan bahan yang dibakar.

Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad pernah berkata: “Maka, tidaklah seorang hamba yang dilanda wabah lalu ia menetap di kampungnya dengan penuh kesabaran dan mengetahui bahwa tidak akan menimpanya kecuali apa yang Allah SWT tetapkan, baginya pahala orang yang mati syahid.” (Hadis Riwayat Bukhari dan Ahmad).

Berdasarkan keterangan pada hadis Nabi Muhammad SAW tersebut oleh dunia kedokteran atau dunia medis saat ini kita kenal dengan istilah karantina atau mengisolasi diri bagi mereka atau wilayah/kota yang telah tertular agar tidak terjangkit pada yang lain.

Adapun terhadap mereka yang menjadi korban di tempat/kota dimana wabah tersebut berada oleh Nabi Muhammad diminta untuk tetap bersabar, berikhtiar, dan selalu berbaik sangka bahwa apapun yang menimpa mereka tak lepas dari hukum, azab atau takdir yang telah ditetapkan Allah SWT. Bila kemudian takdir tersebut membuat mereka harus meninggal dunia akibat wabah yang mematikan maka terhadap mereka akan diberi jaminan sebagai syahid.

Nabi juga mengingatkan: “Tidaklah Allah SWT menurunkan suatu penyakit kecuali Dia juga yang menurunkan penawarnya.”(Hadis Riwayat Bukhari).

Konsep karantina/isolasi yang diajarkan Nabi Muhammad atau solusi yang dilakukan Gubernur Amru Bin Ash yang mengajak rakyatnya berpencar atau menjaga jarak dari keramaian dan menahan diri di rumah — atau social distancing dan lock down menunjukkan sebuah konsep pembelajaran paling berharga yang pernah diajarkan 1.500 tahun silam semasa Nabi Muhammad.

**

Saat ini kita sedang dihadapkan pada masalah besar bernama virus corona. Sebuah wabah penyakit menular yang telah menjalar ke seluruh pelosok dunia sehingga membuat seisi bumi dibuat ketakutan.

Di tengah situasi ketidakpastian akibat virus itu Raja Salman dari Arab Saudi untuk kali pertama di hadapan tivi mengakui bahwa saat ini kita sedang memasuki fase yang sulit. Namun demikian, ia mengajak semua pihak agar bersatu padu mengatasi dan mencari solusi.

Hingga kemarin sudah lebih 13.000 nyawa meninggal dunia. Dengan jumlah yang dirawat lebih 90.000 jiwa. Penyebarannya sudah menjangaku 180 negara. Termasuk Indonesia.

Angka ini diperkirakan akan terus bertambah walau di pusat asal virus mematikan di Kota Wuhan, Cina, hingga hari keempat pekan lalu tak lagi dijumpai korban meninggal.

Suasana justeru bertambah menakutkan setelah lembaga kesehatan dunia WHO menetapkan corona sebagai wabah pandemik.

Untuk meminimalisir virus corona sejumlah negara terpaksa menutup akses di pintu masuk dan keluar baik di bandara maupun pelabuhan (lock down).

Seluruh aktivitas diliburkan bahkan akses penerbangan antarnegara pun ditutup. Dilaporkan pula, saham-saham dunia telah berguguran. Tak terhitung berapa banyak kerugian yang diderita akibat wabah mematikan itu.

Rumah-rumah tempat ibadah yang selama ini melibatkan orang banyak untuk beribadah, idom dito. Sama saja. Ditiadakan atau cukup digelar di rumah.

Bahkan pemerintah Uni Emirat Arab (UEA) untuk sementara menutup sejumlah masjid. Pun lafaz azan ikut pula diubah yakni: hayya ‘alasshalah diganti menjadi salu fi rihaalikum, dengan menyertakan ajakan untuk salat di rumah bukan di masjid seperti biasanya.

Tanpa kecuali aktivitas kunjungan untuk umrah di Kota Makkah dan Madinah pun ditiadakan. Untuk waktu yang belum ditentukan.

Aktivitas tawaf di areal Kakbah di Masjidilharam Makkah dan kunjungan ke Masjid Nabawi di Madinah juga sempat ditutup guna disterilkan dari wabah corona. Sikap pemerintah UEA ini membuktikan begitu besar “daya rusak” virus tersebut.

**

Nah, upaya yang dilakukan sebagaimana imbauan yang disampaikan oleh pemerintah dengan cara mengajak kita berdiam diri di rumah dan tidak melakukan aktivitas di tempat-tempat keramaian agar virus corona tak menyebar merupakan bagian dari usaha atau ikhtiar kita untuk menghindari bahaya akibat virus tersebut.

Sikap sabar, berusaha, ikhtiar dan tawakal, tentu sejalan dengan apa yang pernah disampaikan Nabi Muhammad. Yakni terhadap mereka yang dari luar agar tidak memasuki ke wilayah yang sudah terpapar pandemik, sebaliknya mereka yang sudah berada di dalam wilayah/kota yang terjangkit tidak meninggalkan agar wabah tidak menyebar keluar sungguh merupakan pelajaran paling berharga.

Dialog Khalifah Umar dengan Gubernur Syam Abu Ubaidah RA di awal tulisan ini tentang takdir saat menghadapi wabah tentu juga menjadi pembelajaran bagi kita bahwa takdir bisa dihindari dari satu takdir ke takdir lain tentu dengan selalu berusaha, sabar, ikhtiar, serta tawakal.

Umar Bin Khattab telah melakukan ikhtiar dengan cara menghindarinya dari wabah tersebut. Dan, sang gubernur Amru Bin Ash telah berikhtiar untuk menghapusnya dengan cara mengajak warganya berpencar hingga wabah pun berhenti.(*)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top