BERITA COVID-19

30 Hari Dikarantina Tanpa Diperiksa Dokter

RAKYATMALUKU.COM – MALTENG,- Salah satu pasien Covid-19 yang tengah dikarantina di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Masohi, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng) membuat heboh jagad maya, melalui cuitannya di facebook.

Dengan akun Facebook Andi Zakii Tuahena, ia mengungkapkan persaannya merasa tersiksa, karena menjalani karantina sudah 30 hari dan diperlakukan layaknya orang dalam tahanan. Ia mengancam akan melakukan aksi dalam ruang karantina, kalau tidak ada penjelasan soal nasibnya.


Andi menulis surat terbuka kepada Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Kabupaten Maluku Tengah melalui akun facebooknya. Andi Zakii Tuahena mengklaim dirinya sekarang menjalani masa karantina di RSUD Masohi, tapi anehnya selama masa karantina 30 hari tidak pernah diperiksa dokter.

“Karantina model apa begini, tiap saat dikasih makanan kaya orang sakit, tempatnya saja seng layak. Seng dikasih persediaan air minum, seng pernah ada dokter yang masuk langsung ke dalam ruangan untuk cek katong kondisi secara langsung,” kata Andi dalam postingannya yang diunggah pada pukul 23.00 tadi malam.

Unggahan Andi ini langsung viral diba­gikan ratusan warga net. Sampai berita ini diturunkan sudah lima ratusan warga net membagikannya. Padahal baru dia jam diunggah. Banyak dukungan yang mengalir kepa­danya. Selain mendoakan Andi agar tetap tabah dan bisa cepat keluar dari masa karantina, sebagian nitizen juga ramai mengkritisi cara karatina yang dialami Andi di RSUD Masohi.

“Beta kalau mau dapa corona ka akang barang itu seharusnya beta sudah ada gejala yang menjurus.. Beta tiap hari bagadang sampe pagi jam 4-5 subhu ini, selama beta dikarantina dalam ruang ini beta seng ada rasa apa-apa. Malahan beta asam lambung naik tagal kamong tinggal parop beta dengan obat Vit-c 3 x 3,” ancam dia.

Menurut Andi, dirinya terjebak dengan rapid tes, tapi sudah satu bulan dikurung membuat kondisi bathinya sangat terganggu, apalagi sejak dikarantina tidak pernah bertemu orang-orang kesayangnya. “Katong ini sabar tapi tolong perhatikan katong, jang biking katong lebih sadis dari pengidap TBC. Sampe besok seng ada dokter yang masuk ke dalam ruangan untuk kasih penjelasan tentang beta punya nasib. beta siap bikin aksi dalam rumah sakit,” tegasnya.

Pada unggahannya, Andi juga menceritakan semenjak karantina, dia tidak pernah keluar dari kamar, pintu kamarnya pun digembok pakai rantai, keinginannya untuk menjemur di terik matahari agar menguatkan imunnya tidak bisa. Se­mentara fasilitas yang disediakan sangat membosankan, untuk urusan konsumsi saja sering terlambat. “Kalian bilang sabar, bisa saja, Terkecuali ada gejala kecuali ada penanganan yang layak, ini kamong kasi makanan saja kaya kasi makanan untuk binatang, tiap hari harus katong minta tolong satu abis satu par bawa air minum,” kesalnya. (ARI)


======================
--------------------

Berita Populer

To Top