KABUPATEN MALTENG

Ini Penjelasan Pejabat KPN Tamilouw Soal Aksi Warga

RAKYATMALUKU.COM – MALTENG,- Warga Negeri Tamilouw, Kecamatan Amahai, Kabupaten Maluku Tengah melakukan aksi protes menolak kedatangan Tim Medis Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Maluku Tengah, ketika hendak menjemput salah satu pasien dengan inisial AT (42) yang diduga reaktif setelah diperiksa menggunakan rapid test, pada Jumat, 29 Mei 2020.

Aksi protes itu viral di media sosial lantaran Tim Medis GTPP Covid-19 Malteng ketika menjemput AT, menggunakan peralatan Alat Pelindung Diri (ADP) lengkap dengan dikawal aparat keamanan, yang juga menggunakan APD.

Sesuai laporan yang dihimpun rakyatmaluku.com, AT sebelumnya memeriksa kesehatannya di RSUD Masohi. Setiba di RSUD, oleh Tim Medis, AT diambil darahnya untuk diperiksa menggunakan rapid test. Alhasil, AT diketahui reaktif dan langsung ditetapkan sebagai Pasien Dalam Pengawasan (PDP) Covid-19 oleh pihak rumah sakit dan ditempatkan di ruang isolasi.

Besoknya, keluarga AT yang mengantarnya ke RSUD Masohi, merasa tidak nyaman dengan pelayanan yang diberikan pihak rumah sakit kepada AT sejak masuk, dan terpaksa memulangkannya secara diam-diam tanpa izin keluar dari rumah sakit.

Pejabat KPN Tamilouw, Kecamatan Amahai, Kabupaten Malteng, Rustandi Wailissa, yang dikonfirmasi via ponselnya, Sabtu, 30 Mei 2020 perihal aksi warganya membenarkannya.

Menurut Rustandi, aksi warga ini karena belum memahami secara baik prosedur tetap (Protap) pelayanan medis untuk pasien Covid-19, baik itu pasien orang dalam pengawasan (ODP) maupun pasien lainnya, termasuk pasien reaktif. Sebab itu, penting adanya sosialisasi kepada masyarakat sehingga ke depan, warga tidak menolak tim medis yang menggunakan APD lengkap, seperti ketika menjemput AT di Tamilouw, setelah meninggalkan rumah sakit.

Rustandi mengakui, awalnya AT dibawa ke RSUD Masohi oleh keluarganya karena sakit yang diderita. “Setelah di IGD RSUD Masohi, yang bersangkutan (AT) diambil darahnya oleh petugas. Lalu dirapid test dan reaktif. Namanya kalau rapid lalu reaktif, berarti antara negatif atau positif belum bisa kita pastikan. Tapi ketika rapid reaktif maka pelayanannya menggunakan standar Covid-19. Karena tim medis tahu reaktif itu, lalu diberlakukan dengan pelayanan standar Covid-19. Ditempatkan di tempat isolasi karena reaktif itu.”

Selama pelayanan di rumah sakit, ada pihak keluarga AT yang mendampingi. “Dalam tenggang waktu itu, ada keluarganya yang mendampingi, dan keluarganya melihat pelayanan kurang baik karena menggunakan standar penanganan Covid-19. Kurang bagus begitu. Dari keluarganya merasa kurang nyaman, dan besok itu, keluarganya keluar membawa AT,” jelas Rustandi.

Rupanya, AT dibawa keluarganya tanpa izin keluar pihak rumah sakit. Setelah mengecek informasi tentang keberadan AT, akhirnya diketahui kalau AT sudah dipulangkan keluarga ke Tamilouw. “Setelah seharian dicari pihak rumah sakit, dan didapatkan informasi kalau AT sudah dipulangkan ke Tamilouw. Lalu dari pihak medis menjemput untuk kembali ke RSUD dalam rangka diswab. Dari Tim Covid-19 Malteng, ambil langkah jemput dia dengan menggunakan standar APD lengkap serta dan ambulans.”

Akui Rustandi, warga merasa keberatan karena penjemputan dilakukan dengan menggunakan APD lengkap. Setelah diberikan pemahaman, warga baru membubarkan diri dan pihak keluarga legowo untuk AT dibawa kembali ke rumah sakit guna diswab. “Mungkin warga lihat karena tim menggunakan APD lengkap, sementara dia (AT) bukan korona. Namun, diketahui dari hasil rapid test, kalau AT reaktif. Mungkin, ini yang membuat tim kesehatan menggunakan APD. Nah, di sini kita jelaskan kepada warga untuk dapat mehamainya dengan baik, karena standar pelayanan kesehatannya harus demikian,” urai Rustandi.

Secara bersamaan, Rustandi mendapatkan laporan dari Pemkab Malteng, apabila AT tidak dibawa ke rumah sakit, dan kemudian dirapid di rumahnya, lalu diketahui positif, maka Negeri Tamilouw secara keseluruhan akan dilockdown. Mendengar hal itu, Rustandi melanjutkannya kepada pihak keluarga AT, dan sama-sama memahami agar AT dapat dibawa ke RSUD Masohi kembali guna dirapid dan diperiska kesehatannya secara berlanjut.

Terkait keamanan warga, Rustandi mengaku aman dan terkendali. Aksi hanya berlangsung sesaat dan aktivitas normal seperti biasanya. “Kondisi sudah bagus di Tamilouw. Hanya ada imbauan dari Malteng, apapun AT harus diswab. Kalau keluarganya tidak ingin dibawa ke RSUD Masohi, dan tim medis lalukan swab di rumah. Dan, kalau ternyata AT positif, maka Tamilouw bisa dilockdown. Hal ini saya jelaskan dan dipahami secara baik.”

Seperti informasi yang dihimpun rakyatmaluku.com, Tim GTPP Covid-19 Malteng telah membawa AT kembali ke RSUD Masohi guna menjalani pemeriksaan kesehatan berlanjut.

Hasil koordinasi antara aparat kepolisian dari Polsek Amahai dengan pihak keluarga, dijelaskan, pihak keluarga bersedia menyerahkan AT, dengan persyaratan agar pasien dilihat dan dilayani dengan baik, karena untuk makan dan kegiatan lainnya pasien tidak dapat melakukan sendiri akibat sakit yang diderita. Meminta pihak RSUD Masohi mengurus dengan baik serta keluarga lepas tangan dan seluruh pelayanan ditanggung oleh pihak RSUD Masohi.

Tepat pukul 18.30 WIT, massa yang ada membubarkan diri dan kembali kerumah masing-masing dalam keadaan aman dan lancar.(*)

Klik untuk melihat Video Protes Warga di Tamilouw


======================
--------------------

Berita Populer

To Top