I Like MONDAY

Insiden Jl.Sudirman

AHMAD IBRAHIM | Komisaris Utama Hr. Rakyat Maluku

BARU tiga hari pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diterapkan di Kota Ambon sudah muncul heboh. Gara-gara si Covid-19 yang berujung penghadangan mobil jenazah di Jalan Sudirman, Ambon, Jumat siang, (26/6/20).

Ceritanya tentu sudah banyak yang tahu. Di media itu. Di Youtube itu. Yang membuat geger sampai ke pelosok kampung itu. Bahkan sampai ke ibu kota itu. “Ambon memang hebat. Seng ada lawan,” ujar netizen dalam kolom komentarnya di medsos.

Banyak kasus serupa memang pernah terjadi selama masa pandemik Covid-19. Di Makassar, Manado dan Surabaya, misalnya. Pun mengalami hal yang sama.

Tapi, insiden di Jalan Sudirman hari itu memiliki “daya tarik” tersendiri. Baik getarannya. Juga tentu hebohnya.

Insiden Covid-19 ini berawal ketika keluarga korban merasa keberatan atas ayahnya yang divonis Corona oleh pihak RSUD Haulussy, Ambon.

Sebelum di diagnosa sebagai Corona sang ayah berinisial HK (57) ini dirawat di RSU Masohi. Almarhum sendiri memiliki penyakit bawaan.

Setelah melalui perawatan almarhum pun ditetapkan sebagai Covid-19. Keluarga yang sejak awal menaruh curiga merasa keberatan atas penetapan Corona.

Kekecewaan mereka puh memuncak. Apalagi sejak perawatan oleh pihak keluarga almarhum kurang mendapat pelayanan maksimal dalam hal pemberian makanan hingga menjelang ia wafat.

Puncak kekesalan pun membuncah. Diawali perang mulut antara keluarga pasien dengan petugas RSU. Emosi itu terus terbawa hingga insiden penghadangan oleh keluarga dan massa saat iring-iringan mobil jenazah melintasi Jl.Sudirman.

Heboh pun meletup. Tak kurang petugas Gugus Covid-19 dan tim kesehatan dengan pakaian APD lengkap pun dipaksa turun.

Peti jenazah akhirnya diturunkan. Lalu dibongkar. Peti jenazah dibiarkan di jalan. Mayatnya kemudian digotong ramai-ramai dibawa ke rumah duka.

Peristiwa di Jl. Sudirman ini merupakan akumulasi kekecewaan dari sekian kasus penanganan Corona di Tanah Air. Secara hukum, langkah yang dilakukan warga ini tentu tidak boleh terjadi karena akan berimplikasi kepada tindakan serupa oleh masyarakat lain.

Kita tentu bisa memahami suasana batin keluarga almarhum akibat tidak adanya transparansi. Ini pula yang selama ini menjadi kegelisahan banyak pihak.

Rakyat yang semula bersikap positif thinking akhirnya berubah sikap dan cenderung menjadi emosi walau secara medis boleh jadi sudah sesuai prosedur, tapi di masyarakat masih menjadi tanda tanya.

Dalam banyak kasus ditemui ada pasien yang telah divonis bahkan telah dikubur sesuai protokol kesehatan, tapi belakangan setelah uji laboratorium keluar justru negatif. Sejak itu Corona pun menjadi bahan candaan.

Tumpang tindihnya informasi menjadi penyebab mengapa rakyat kita begitu cepat bersikap reaktif kepada para pemangku amanah (baca: pemerintah), Tim Gugus Covid-19 dan tim medis.

Kita percaya langkah penanganan Corona yang dilakukan pemerintah, berikut kerja keras paramedis dan dokter yang secara sukarela dan maksimal dalam menangani virus mematikan selama masa pandemi ini patut diapresiasi.

Namun, selagi tuduhan adanya konspirasi dan praktek bisnis medis berada di balik penanganan Corona ini tidak diclearkan secara transparan dan akuntabel boleh jadi tingkat kepercayaan masyarakat berkurang.

Reputasi pemerintah dan kerja keras tim medis dengan sendirinya ikut tergerus oleh opini-opini negatif. Misalnya tuduhan adanya bisnis penjualan rapit tes maupun pemberlakuan surat izin bagi penyintas batas atau mereka yang bepergian yang harus dirapit tes dengan biaya ratusan ribu, dan praktek miring lainnya. Selagi hal itu tidak dijelaskan secara terbuka maka akan menimbulkan kesan negatif.

Ketidakkonsistenan dalam mewujudkan aturan membuat masyarakat semakin pesimistis di tengah ketidakpastian, kehidupan ekonomi yang semakin sulit, dan tekanan hidup yang semakin bertambah. “Ingat hidup ini sudah laswan. Siapa yang mau help,” ujar netizen.

Mereka yang menganut paham teori konspirasi tentu bisa menyingkap semua itu. Sayang, tak semua bisa mewujudkannya teori ini. “Bagi mereka yang memilih nyaman dengan statusquo tentu menganggap sinis adanya teori tersebut,” ujar pengamat politik yang juga Direktur Global Institut Mas Hendrajit.

Padahal, kata Hendrajit, dengan teori konspirasi dalam arti dorongan untuk menyingkap tabir di balik sesuatu tentu bisa menyingkap peristiwa-peristiwa sejarah kekinian.

Mumpung pelaksanaan PSBB Kota Ambon masih tinggal delapan hari lagi. Kita berharap masih banyak perbaikan yang bisa dilakukan.

Dan, insiden di Jl. Sudirman menjadi catatan penting bagi semua pihak untuk kita saling menjaga di tengah upaya pemerintah dan tim medis dan dokter yang terus melakukan langkah-langkah antisipasi menyebarnya virus mematikan di Kota Ambon tercinta.

Kita tentu mendukung langkah hukum aparat kepolisian yang telah menetapkan delapan orang tersangka atas insiden di Jl. Sudirman itu. Secara sosiologi hukum, kita berharap langkap hukum itu tidak mengabaikan suasana batin keluarga almarhum.

Di sinilah kita harapkan adanya kearifan dan kebijaksanaan di tengah kita semua ikut merasakan kesulitan dan keprihatinan, di tengah tekanan hidup dan tuntutan ekonomi yang semakin memberatkan masyarakat di masa pandemi ini.

Transparansi pemerintah atas penanganan Corona ini tentu menjadi hal penting di saat mana kepercayaan masyarakat terhadap para pemangku kepentingan baik di pusat maupun di daerah sedang meredup.

Ini penting agar kedepan tidak menimbulkan bias negatif di masyarakat yang dapat memicu ketegangan berikutnya sebagaimana yang terjadi Jl. Sudirman, Ambon, itu.

Kita akui, bila tertib sosial tak didukung oleh keteraturan dan kedewasaan akan menjadi lahan subur tumbuhnya anarkisme. Sebaliknya, bila hanya kekuasaan yang ditonjolkan tentu akan melahirkan otoritarialisme. Demokrasi dan kebebasan menjadi lumpuh.

Mumpung masih tujuh hari lagi pemberlakuan PSBB ini berakhir. Sambil menanti berakhirnya PSBB ini kita semua tetap mematuhi protokol kesehatan agar virus Corona tak lagi menyebar dan tak lagi ada perpanjangan PSBB biar kita bisa kembali ke hidup normal.(*)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top