OPINI

Pesan Kemanusiaan kepada Kapolda Maluku

Oleh : IKBAL KAPLALE | Presiden Mahasiswa Institut Agama Islam Negeri Ambon

No body’s perfect. Tidak ada seorang pun yang sempurna. Begitu kira – kira ungkapan yang sering digunakan orang untuk mengatakan bahwa tidak ada manusia yang sempurna, termasuk aktivis. Seorang aktivis yang dapat dikataka ideal pun mungkin masih mempuyai kekurangan. Namun demikian, bukan berarti kondisi aktivis yang kehilangan identitas sebagaimana yang dijelaskan di atas, adalah suatu kondisi yang wajar dan dianggap sebagai bukan masalah yang perlu untuk dicarikan jalan keluarya (baca : Meraih sukses dengan menjadi aktivis kampus : 35 ).

Kampus merupakan tempat di mana para mahasiswa mempertaruhkan seluruh kemampuan pengetahuannya untuk mempertahankan ideologi yang dianutnya. Mahasiswa selalu merasa bagian terpenting dari tubuh masyarakat, istilah agent of change merupakan sebuah kehormatan yang selalu dikejarnya, tak jarang jika mahasiswa menghabiskan waktunya hanya demi mencicipi pengetahuan dan bacaan sebagai gizi tambahan dalam karier perjuangannya. Sebagai mahasiswa yang mengontrol kerja – kerja politik Pemerintah, mahasiswa merasa adalah martil bagi Pemerintah jika dirasanya tidak sesuai dengan harapan Rakyat.
Mahasiswa secara mazhab perjuangan yang dianutnya, mahasiswa tidak pernah takut terhadap bahaya yang dihadapinya, jika perjuangannya membela rakyat, ia lebih memilih mati atau terpenjara sebagai tahan politik. Baginya, menulis sejarah perjuangan di setiap era adalah hal terpenting bagi kelangsungan kariernya di kemudian hari.

Semangat perjuangan yang dikibarkan oleh teman – teman mahasiswa dalam melihat persoalan yang dihadapi di bangsa ini, patut dihargai semangat juangnya dalam membela rakyat. Lihat saja pada Kota Ambon, kejadian yang terjadi pada tanggal 29 juni 2020. Aksi yang digelar di depan kantor Walikota Ambon dan berlanjut di depan kantor Gubernur Maluku menjadi petaka bagi teman – teman mahasiswa yang turun aksi atas nama keadilan dan kemanusiaan. Dari sekian banyak aksi demonstrasi, penulis mengenal dekat di antaranya Risno Ibrahim dan M. Aswan Kellian. 2 (dua) mahasiswa yang dipukul saat menyampaikan tuntutannya di depan kantor Gubernur Maluku. Kedua aktivis muda ini sudah terbiasa dengan hal seperti ini, dipukul dan dipenjarakan berulang kali namun tidak kapok. Bagi mereka berdua, idealisme adalah sesuatu yang istimewa dan patut diperjuangkan atas nama kemanusiaan dan keadilan.

Keduanya merupakan teman seperjuangan dalam membela rakyat, tragedi yang menimpa mereka berdua telah menjadi konsekuensi dalam jalan perjuangan membela rakyat. Namun penulis merasa hal ini bukan sesuatu yang dibenarkan secara hukum. Menyampaikan aspirasi di depan umum merupakan bagian dari wujud nilai – nilai demokrasi Indonesia. Atas dasar nilai Pancasila kedua mahasiswa ini rela dipukul dan ditendang oleh oknum Kepolisian. Oknum Kepolisian yang bertindak secara membabi buta mestinya patut dipertanyakan identitasnya sebagai aparat keamanan yang mengayomi, melayani, dan melindungi. Secara ketentuan dan amanat undang – undang dasar tahun 1945, pasal 30 tentang pertahanan dan keamanan negara ayat 4 (Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai alat negara yang menjaga keamananan dan ketertiban masyarakat bertugas, melindungi, mengayomi, melayani masyarakat, dan menegak hukum).

Jika benar aparat Kepolisian bertugas mengayomi dan melayani, maka sejatinya aparat Kepolisian harus benar – benar hadir dan melindungi setiap mahasiswa yang datang menyampaikan apsirasi mereka. Tindakan yang dilakukan oleh oknum aparat Kepolisian terhadap Risno Ibrahim dan Aswan kellian, merupakan wujud dari ketidakdewasaan dalam memahami nilai – nilai demokrasi.

Pimpinan kepolisian Daerah (Kapolda) Maluku mestinya mampu mengajarkan anggotanya dalam menjalankan fungsi dan tugasnya dalam mewujudkan semangat demokrasi yang manusiawi. Penulis berharap Kapolda Maluku bertindak tegas dalam mengatasi masalah ini. Salah satu contoh kasus yang dialami oleh teman mahasiswa kita, misalnya tragedi yang tertimpah seorang mahasiswa di Pemekasan Madura adalah tragedi kemanusiaan yang tidak mendapatkan tempat di Negara Indonesia. Oknum Kepolisian yang memukulnya berulang kali dan mengalami pendarahan di bagian kepala, sudah jelas ini bagian dari tindak premanisme yang sedang dipraktekkan oleh oknum kepolisian dengan menggunakan seragam kepolisian sebagai tameng.

Kehadiran aparat kepolisian semestinya bagian dari wujud keadilan yang hadir melindungi rakyat, bukan sebaliknya menyombongkan diri dan menggunakan seragam untuk menakuti rakyat. Sejatinya, penegak hukum harus menegak hukum, bukan menghukum rakyat, pelayan rakyat harus melayani, bukan minta dilayani oleh rakyat. Jika hal ini terus dibiarkan terjadi di hadapan publik, maka jelas kelompok elit – elit politik akan menggunakan negara sebagai monster yang akan membunuh rakyatnya sendiri.

Dewasa ini, kehadiran negara sudah tidak lagi untuk melindungi rakyatnya, namun negara sedang dikendalikan oleh kelompok elit politik yang serakah dan haus akan kekuasaan. Maka, sejatinya lahirlah keadilan versi penguasa dan keadilan versi rakyat. Bahkan kesejahteraan versi penguasa dan kesejahteraan versi rakyat. Hal ini menjadi lucu, oknum kepolisian yang memukul mahasiswa atas nama Risno Ibrahim dan M. Aswan Kellian, maka jelas oknum kepolisian tersebut sedang melindungi penguasa yang membunuh rakyatnya sendiri, bahkan mereka hanya sekumpulan orang yang hanya berlindung di bawah ketiak penguasa.
Penulis menaruh hormat kepada Risno Ibrahim dan M. Aswan Kellian, mereka berdua patut dihormati dan dicatat dalam lembaran sejarah. Oknum kepolisian yang memukul mereka berdua merupakan algojo yang melindungi penguasa zalim. Jika pada masa Nabi Musa As, ia dan umatnya melawan Fir’aun dan balatentaranya, maka Risno Ibrahim dan M. Aswan Kellian adalah Musa – Musa modern yang datang melawan Fir’aun modern.

Manusia memiliki kesanggupan membuktikan dirinya sebagai manusia dengan kapasitas nalar. Apakah ia ingin menjadi orang terhormat atau menjadi gelandangan zaman yang diludahi orang. Seluruhnya, tergantung, pada nalar manusia (baca : Kematian manusia modern : 23). Ini jelas membuktikan bahwa mahasiswa atas nama Risno Ibrahim dan M. Aswan Kellian yang membela rakyat kecil, mereka mampu menjadikan diri mereka berdua sebagai manusia merdeka yang tidak bisa dipasung nalar kemanusiaanya. Sedangkan oknum kepolisian yang memukul mereka berdua, jelas mereka hanyalah gelandagan yang diludahi penguasa dan zaman.

Penulis berharap Kapolda Maluku mampu memberikan pelajaran penting di setiap apel pagi, nilai – nilai kemanusiaan dan semangat Pancasila adalah pelajaranya berharga yang harus dipahami oleh setiap anggota kepolisian. Selama ini telah menjadi rahasia umum mahasiswa dipukul oleh oknum Kepolisian yang tidak bertanggung jawab.(*)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top