HUKRIM

Terorisme Masih Ada di Maluku

RAKYATMALUKU.COM,- Penangkapan 12 orang terduga teroris di Kota Ambon dan Maluku Tengah, oleh Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror, beberapa waktu lalu cukup mengejutkan warga Maluku. Bahkan, dari peristiwa itu disimpulkan kuat di provinsi ini masih terdapat sel teroris.

“Buktinya ada penangkapan. Jadi gini, kita dari FKPT (Forum Koordinasi Pencegahan Teroris) Maluku hanya menangani soft approach (pendataan lunak), sedangkan hard of approach di deputi lain. Di situ ada bagian penindakan, setelah sudah vonis itu baru ditangani oleh deradikalisasi,” kata Ketua FKPT Maluku, Abdul Rauf kepada Rakyat Maluku, Senin, 29 Juni 2020.

Menurut dia, sel terorisme di Maluku itu masih ada, sehingga untuk memutus mata rantainya, dibutuhkan peran semua pihakm, tidak hanya FKPT. Terutama dalam penyuluhan peningkatan kesadaran masyarakat terkait bahaya terorisme.

“Peran kita semua kan. Bagaimna caranya, artinya kita di Maluku itu cuma delapan orang sifatnya koordinatif. Makanya kita dulu itu aktif memberikan penyuluhan, pencegahan, mulai dari wartawan, anak-anak sekolah, pemuda-pemuda, dan tokoh agama. Semuanya,” ungkap Dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon ini.

Penangkapan terduga teroris beberapa waktu lalu, kata dia, merupakan bukti keakuratan Densus dalam penanganan terorisme. Operasi Densus, dilakukan dengan cara pelacakan, baik hubungan antar terduga dan calon terduga teroris, hingga tempat tinggal. “Karena itu, ada sel teroris di Maluku. Saat ini, undang-undang teroris lebih progresif, tidak seperti dulu. Berhubungan saja dengan mereka, itu bisa kena. Kadang-kadang saya kasi tahu teman-teman, hati-hati, karena kalau sampai ditangkap gara-gara itu kan kasihan. Makanya harus hati-hati karena sistem pelacakannya sekarang itu lebih cangih lagi (lewat IT). Makanya mereka itu kalau ditangkap dan kita bisa katakan 98 persen itu akurat,” jelasnya.

Dikatakan dosen IAIN Ambon ini, para terduga teroris yang ditangkap Densus 88 Anti teror, bergabung dengan jaringan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), serta Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Ia bahkan heran, mengapa ada yang bergabung dengan jaringan teroris yang sudah hampir tidak ada lagi, terutama ISIS. “Ada dua jaringan teroris di Maluku, ISIS dan JAD. Nah itu, Padahal, ISIS sendiri di kampungnya sudah habis,” terangnya.

Dia menceritakan, salah satu terduga teroris yang diamankan Densus 88 di Kota Ambon beberapa waktu lalu, pernah diingatkan agar tidak lagi berhubungan dengan jaringan teroris. Namun faktanya berbeda, hingga akhirnya dia dicokol Densus 88. (AAN)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top