--
HUKRIM

Hasil Swab 10 Tersangka Pengambilan Jenazah Negatif

RAKYATMALUKU.COM – AMBON,- Polresta Pulau Ambon & Pp Lease akhirnya mengumumkan pengambilan spesimen lendir menggunakan swab dan pemeriksaan dengan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) terhadap 10 tersangka pengambilan paksa jenazah Hazan Keiya, Senin 13 Juli 2020. Hasilnya, semua negatif.

Sepuluh tersangka yang diambil samplenya masing-masing; inisial AM, HL, BY, SI, SU, SD, SY, NI, YN, dan MO. Mereka merupakan pelaku pengambilan paksa jenazah Hasan Keiya, di Jalan Jenderal Sudirman, Desa Batumerah, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, pada Jumat, 26 Juni 2020.

Pasca ditahan, Dinas Kesehatan Kota Ambon langsung mengambil langkah cepat dengan melakukan rapid test sekaligus pengambilan sample lendir. Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk mengetahui apakah mereka terinfeksi virus corona atau tidak.

Usai sample lendir diuji di laboratorium, Dinkes Kota Ambon kemudian menyerahkan hasil swab kepada Kepolisian Resor Kota (Polresta) Pulau Ambon dan Pp Lease. Setelah dibaca dan diteliti oleh Kapolresta Ambon Kombes Pol Leo Surya Nugraha, ternyata hasil sepuluh tersangka penghadangan petugas dan pengambilan jenazah, negatif.

“Oh ya Pak, hari Jumat, 10 Juli 2020, kami sudah sampaikan kepada tersangka dan keluarga, Alhamdulillah semuanya negatif,” kata Kasat Reskrim Polresta Ambon AKP Gilang Prasetya kepada Rakyat Maluku, Senin. 13 Juli 2020.

Meskipun negatif, Polresta Ambon tetap melakukan pengawasan terhadap para tersangka. Karena nanti akan digelar tes ulang. Tes tersebut guna memastikan para tersangka betul-betul bebas dari Covid-19.

“Hanya saja para tersangka masih tetap dipantau secara periodik untuk memastikan hasilnya benar-benar negatif,” tutur Kasat Reskrim tanpa menjelaskan kapan para tersangka akan diswab ulang.

Sekadar diketahui, polemik pengembilan paksa jenazah Hazan Keiya yang disebut terinfeksi Covid-19 cukup panjang. Keluarga almarhum menilai pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Haulussy tidak maksimal.

Saat dengar pendapat dengan anggota DPRD Provinsi Maluku, anak almarhum, Sahal Keiya menilai, perlakuan rumah sakit terhadap ayahnya adalah pembunuhan. “Cleaning service yang menceritakan langsung, bapak saja jatuh dan dibiarkan saja beberapa saat di tempatnya jatuh. Bahkan, pasien tetangga bilang ayah saya lapar jam dua malam, tapi tidak diberikan makan. padahal ayah saja penyakitnya mag akut,” tutur Sahal.

Ironisnya lagi, kata dia, anaknya dimasukkan ke dalam kantong jenzah –sesuai prosedur covid– namun masih terdapat kotoran (kotoran manusia) di tubuhnya. Bahkan, masih terdapat pempers yang belum dibersihkan. “Kami melakukan ini karena kami berharap tidak ada lagi Hasan Keiya, Hasan Keiya yang lain di Maluku,” tegasnya. (AAN)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top