Uncategorized

Abda’u Negeri Tulehu, Refleksi Nilai Sejarah

Catatan: Sam Usman Hatuina
(Reporter Hr. Rakyat Maluku)

RIBUAN warga dari berbagai penjuru di Kota Ambon memadati Negeri Tulehu, Kecamatan Salahutu, Maluku Tengah dalam rangka untuk menyaksikan tradisi Kaul negeri dan Abda’u yang dilaksanakan, Rabu 22 Agustus 2018.

Selain dari Kota Ambon, ribuan warga yang memadati negeri Tulehu juga berdatangan dari desa-desa di Maluku Tengah lainnya, termasuk sejumlah wisatawan mancanegara terlihat berada di Negeri Tulehu, sejak pagi untuk menyaksikan prosesi tradisi adat yang rutin digelar setiap hari raya Idul Adha itu. Abda’u dan Kaul Negeri merupakan tradisi adat puncak dari serangkaian parade budaya yang dilakukan masyarakat negeri Tulehu kecamatan Salahutu kabupaten Maluku Tengah. Dimana berdasarkan penuturannya, tradisi adat Abda’u dan Kaul Negeri Tulehu itu sudah berlangsung sejak abad ke-17 setelah terbentuknya pemerintahan otonom yang bersyariat islam sekitar 1600 Masehi.

Tokoh Masyarakat Negeri Tulehu, Kayum Lestaluhu, menuturkan, Abda’u yang rutin dilaksanakan setiap Idul Adha itu merupakan refleksi nilai sejarah yang terinsirasi dari sikap pemuda Ansar dengan gagah dan gembira menyambut hijrah Rasulullah dari Mekah ke Madinah. Peristiwa itulah yang mengawali penyebaran Islam ke seluruh penjuru dunia. Selain itu, Abda’u merupakan refeksi dari masyarakat Tulehu tempo dulu yang hidup berkelompok di hena-hena (kampung-kampung kecil) di antara Gunung Salahutu hingga bukit dan belum mengenal agama samawi. Mereka menyambut para ulama yang membawa ajaran Islam dengan rasa syukur, ikhlas, dan gembira. “Masuknya agama Islam di Jazirah Leihitu, khususnya di Uli Solemata di bagian timur Salahutu adalah sebuah proses perubahan peradaban manusia menjadi lebih baik,” ujar Kayum.

Dia menambahkan, Abda’u bermakna anak-anak negeri Tulehu basudara (bersaudara). Anak-anak negeri yang melakukan Abda’u saling senggol-senggolan, bahu membahu memprebutkan bendera, tetapi hal itu dimaknai untuk mempererat hubungan persaudaraan antar pemuda. “Ritual Abda’u yang dilakoni ribuan pemuda negeri berkaos putih singlet, berikat kepala warna putih berjalan beramai-ramai menuju rumah Imam negeri Tulehu untuk dimandikan agar kulit alot, raga kuat, dan bebas dari rasa sakit selama mengikuti ritual adat tersebut,” kata dia.

Selanjutnya, Imam kemudian menyerahkan bendera hijau yang melambangkan kesuburan berbenang kuning emas yang melambangkan kemakmuran diikatkan ke tongkat kayu sepanjang dua meter. Bendera itu bertuliskan Lailaha ilallah Muhammadarrasulullah yang akan diperebutkan oleh para pemuda itu.

“Nuansa kekerasan sangat kental dalam ritual ini. Mereka berdesak-desakan, ada yang melompat dari atas pagar atau atap rumah supaya bisa berada di atas kerumunan dan berjalan di atas tubuh-tubuh yang sedang berebut bendera.” Rebutan bendera ini dilakukan sambil mengeliling negeri hingga berakhir di Masjid Raya Negeri Tulehu.

Perebutan bendera inilah yang paling menyedot perhatian ribuan orang yang datang untuk menyaksikan tradisi tersebut. (***)

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
--------------------

Berita Populer

To Top