NEWS UPDATE

Ada Kesalahan Diproses Pembangunan Infrastruktur IAIN Ambon

Puluhan Mahasiswa IAIN Ambon membacakan isi pernyataan sikap mereka saat berunjuk rasa di Kantor Kejaksaan Tinggi Maluku, Selasa 25 Juni 2019.

PULUHAN mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon yang tergabung dalam Aliansi Aksi Peduli IAIN Ambon menggelar aksi unjuk rasa terkait runtuhnya gedung perpustakaan, laboratorium MIPA Fakultas Tarbiyah dan gedung audotirium, di Kantor Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku dan di Kantor Gubernur Maluku, Selasa, 25 Juni 2019.

Koordinator Lapangan (Korlap) Abd.Halik Rahantan, dalam orasi singkatnya mengatakan, kerusakan tiga gedung tersebut bukan bagian dari bencana alam, melainkan kesalahan dalam proses pembangunan infrastruktur.

Selain itu, runtuhnya tiga gedung tersebut juga merupakan faktor humman error (kesalahan manusia dan kelalaian) yang pada akhirnya menyebabkan kerugian keuangan negara, dan berdampak pada aktifitas perkuliahaan mahasiswa.

Aliansi aksi peduli IAIN Ambon juga menilai bahwa proses pembagunan gedung perpustakaan, audiotorium dan laboratorium, tidak melewati pengkajian yang komprehensif, baik dari segi tata ruang lingkungan, amdal, maupun struktur tanah, sehingga menimbulkan masalah dikemudian hari.

“Pergeseran tanah atau fluktuasi juga disebabkan oleh tidak adanya pola penghijauan yang baik, dan juga penggalian tanah yang tidak cermat tanpa memandang dan memperhitungkan situasi, sehingga menyebabkan amblasnya tiga gedung tersebut,” teriak Halik di Kantor Kejati Maluku.

Selain menyinggung runtuhnya tiga gedung tersebut, pendemo juga menyinggung soal dugaan penyelewengan anggaran di IAIN Ambon, seperti pembelian lahan tanah kampus II di Desa Liang sebesar Rp.17 miliar dan pembelian lahan tanah di Masohi sebesar Rp.500 juta.

Diduga, pembangunan infrastruktur Kampus Baru IAIN itu tidak melalui pertimbangan dan kerjasama yang baik oleh pemimpin kampus IAIN Ambon, sehingga ditakutkan dapat menimbulkan masalah dikemudian hari. Sebab pembelian lahan tanah di Liang dan Masohi tidak jelas atau tidak mempunyai sertifikat tanah.

“Maka dari itu kami mahasiswa IAIN Ambon juga menilai bahwa pembelian lahan tanah tersebut bagian dari penyelewengan anggaran. Dan sangat merugikan negara dan perguruan tinggi IAIN Ambon,” tandas Halik dengan nada lantang.

Dalam tuntutannya, pendemo mendesak pihak Kejati Maluku agar ikut mengawal dan memeriksa ambruknya gedung audiotorium sebagai penyebab rusaknya gedung perpustakaan dan Lab MIPA Fakultas Tarbiyah, serta dugaan penyelewengan anggaran pembelian lahan tanah di Liang dan Masohi.

“Apabila dalam penyelidikan tersebut, terdapat bukti dan indikasi ketidakwajaran, maka kami mahasiswa IAIN Ambon memohon kepada Kejati Maluku agar diproses secara hukum,” pinta pendemo.

Menanggapi tuntutan pendemo, Kepala Seksi Penerangan Hukum (Kasi Penkum) Kejati Maluku Samy Sapulette, menyampaikan terima kasih kepada pendemo yang telah datang menyampaikan aspirasi secara tertib.

Samy berjanji, akan menyampaikan aspirasi pendemo kepada pimpinan Kejati Maluku untuk ditindak lanjuti. 

“Untuk membuktikan hal tersebut, perlu kajian yang dalam. Untuk itu, saya akan sampaikan tuntutan teman-teman ke pimpinan kejaksaan untuk ditindaklanjuti,” katanya.

Usai menyampaikan aspirasi di Kantor Kejati Maluku, pendemo melanjutkan unjuk rasanya di Kantor Gubernur Maluku dengan orasi yang sama.

Tidak lama berorasi, perwakilan dari Kantor Gubernur maluku, Staf Ahli Kesbangpol La Aliayah keluar untuk menerima tuntutan pendemo.

Menanggapi tuntutan pendemo, La Aliayah mengatakan akan menyampaikan tuntutan pendemo ke Gubernur Maluku untuk di tindak lanjuti.

“Meminta kepada para peserta aksi untuk mengecek hasil dari penyerahan sikap tersebut pada Rabu, 26 Juni 2019 di Bagian Kesbangpol Provinsi Maluku,” kata La Aliayah. (RIO)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top