NEWS UPDATE

Ada Oknum Polisi Berlaga Iba Demi Selamatkan Pelaku

Ilustrasi

Monica : Saya Terpojok Sehingga Cabut Laporan

UPAYA salah satu tenaga cleaning service untuk mendapatkan keadilan atas tindakan kekerasan yang dilakukan salah satu oknum guru di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Negeri (SLTPN) 6 Kota Ambon “dihalau” oknum polisi yang bertugas di Polres Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease.

Monica Pesireron mengaku datang ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease dengan tujuan mengadukan kekerasan yang dialami anaknya selama diasuh salah satu oknum guru SLTPN 6 Kota Ambon.

“Saya laporkan kasus ini tanggal 19 Februari 2019. Waktu itu saya sendiri yang datang, jam setengah 9 pagi,” kata Monica kepada Rakyat Maluku tadi malam.

Setelah dibuat laporan, bukannya diteruskan ke unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres, laporan Monica malah digantung. Salah satu oknum Polisi inisial ES kemudian dekati Monica, ES lalu berusaha melunakan hati Monica agar segera mencabut laporannya.   

“Jujur saja saya ingin melanjutkan laporan ini, tapi saya dibuat terpojok (oleh ES), sehingga saya menandatanganinya (pernyataan mencabut),” ujar Monica.

Monica lalu menceritakan kronologis dia melaporkan oknum guru ke polisi hingga dia kembali mencabut laporannya waktu itu juga. 

“Pagi saya datang, saya diterima kemudian saya dibuat laporan, tapi tak lama pelakunya dihadirkan, kami semua diruang pemeriksaan, setiap 15 menit saya dikeluarkan, saya hitung tiga kali saya dikeluarkan,” beber Monica.

Monica kembali dipersilahkan masuk, ES lalu mengeluarkan beberapa pernyataan diantaranya, jika Monica melanjutkan laporannya ada konsekwensi yang harus dipikirkan Monica. 

Bahkan dengan bangganya ES berlaga seperti penyidik, menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang tak pantas ditanyakan kepada pelapor. 

“Usi punya keuntungan apa melanjutkan masalah? yang kedua itu cuma buang-buang waktu’. Itu kata polisi,” kutip Monica. 

Oknum itu juga menanyakan pertanyaan yang sifatnya pribadi kepada Monica mengenai sumber keuwangan Monica jika laporannya diteruskan. 

“Dia (ES) juga bilang ibu kalu kasus ini dilanjutkan biaya dari mana untuk proses, jadi ibu harus pikir panjang dan masak-masak sebelum ibu memporoses masalah ini. Beta terpojok sehingga menandatanganinya,  sio kasihan beta kan seng mangarti apa-apa, beta kira beta pung ana bisa dapa keadilan tapi nyatanya, beta dibuat seolah-olah terdesak sehingga tanda tangan pernyataan,” bebernya.

Menurut Monica, sebelum dia beranikan diri melaporkan kekerasan yang menimpa anak bungsunya, malamnya telah berkoordinasi dengan Kepala Sekolah SLTPN 6 Ambon dirumah pribadi sang kepsek, akan tetapi tanggapan Kepsek penuh ketidak pastian. 

Kepsek juga berpesan agar Monica harus tau balas budi kepada pelaku, mengingat yang memberikan akses sehingga bisa bekerja di SLTPN 6 Ambon adalah guru tersebut.

“Saat saya datang, Bapak Kepala Sekolah menyarankan agar masalah ini biar dibawa dalam doa saja. Saya tidak puas, anak saya dipukul, dianiaya saya tidak tega melihat dia, saya lalu melaporkan kasus ini ke pihak kepolisian, harapannya bisa diproses hukum, karena dimata saya saja anak saya dipukul,” ujarnya.

Sayangnya setelah mendatangi Polres, ES malah bersusah payah untuk mempasilitasi perdamaian.

“Kepsek tinggalnya di Skip bertetangga dengan dia (ES), waktu di kantor Polres, dia (ES) yang bilang,” kata Monica.

Sementara korban Putri Amel 4 tahun dengan tutur yang terbata-bata mengaku, sering mendatapkan perlakuan kasar dari guru tersebut, bahkan tidak diberi makan jika dia melakukan sebuah kesalahan.

Selengkangannya sering dicubit, kepalanya dibenturkan, hingga disuru berdiri selama beberapa jam.

“Kalau nakal, mami pukul kaki, cubit,” ujar Amel.

Amel adalah anak keenam dari Monica, diadopsi oleh salah satu oknum guru di SLTPN 6 Ambon sejak Oktober 2018.

Sebelum Amel diserahkan ke tangan oknum guru itu, berulang kali guru yang juga pelaku kekerasan mendekati Monica untuk mengadopsi anaknya. Monica lalu bermusyawarah dengan kelima anaknya, disepakatilah agar Amel diserahkan, dengan harapan hidup Amel bisa berubah. Sayangnya ditangan ibu angkanya Amel malah diperlakukan tak manusiawi.

“Saya melihat sendiri perlakuan kasar itu, tapi saya tak bisa berbuat apa, hanya saja saya tak tega lagi,” kata Monica. 

Sementara itu, Kepsek SLTPN 6 Ambon hingga saat ini belum mau memberikan penjelasan mengenai masalah ini, pihak sekolah pun enggan memberikan tanggapan resmi.

” Langsung dengan Bapak kepala sekolah saja,” kata salah satu guru di SLTPN 6 Ambon. (ARI)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top