NEWS UPDATE

Amira Azzahra, Bayi Malang dengan Tumor Ganas di Ambon

Amira Azzahra Kaimen, bayi malang kelahiran 31 Mei 2020 ini diserang tumor ganas sejak lahir. Orang tuanya, Muhammad Sidik (30) yang hanya juru parkir di depan Ambon Plaza (Amplaz) tak dapat berbuat banyak.


Amira Azzahra Kaimen (4 bulan) tampak sedang minum air putih dan tidur di atas tikar plastik yang dialaskan sarung, Minggu, 20 September 2020

Seharian Sidik bersama isterinya, Arini (28) hanya bisa meratapi sakit buah hatinya. Kesedihan terlihat dari wajah suami-isteri itu, ketika didatangi sejumlah wartawan di daerah Wara, belakang GOR, Desa Batumerah, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, Minggu, 20 September 2020.

Pasangan keluarga ini, tinggal bersama kedua anaknya. Siti Salsabila Kaimen (1,6) dan Amira Azzahra Kaimen (4 bln). Mereka hanya mampu mengontrak kamar berukuran 2,5 meter x 2,5 meter untuk tinggal seharga Rp350 ribu per bulan.

Pendapatannya sebagai Juru Parkir di kawasan Ambon Plaza, hanya terkumpul untuk dapat membayar uang kontrak kamar. Alasan inilah, sehingga Sidik sulit untuk membawa anaknya berobat di rumah sakit. Untuk makan seharian, Sidik harus mencari pendapatan lain. Meski sudah menerima bantuan dari pemerintah, namun, bantuan itu tidak seberapa untuk mencukupi hidup sehari-hari bersama keluarga.

Kamarnya berukuran kecil itu, tak ada kasur tidur. Hanya beralaskan tikar plastik, yang di atasnya diletakan karpet tidur bayi, dan dialaskan sarung yang ditempati anaknya Amira Azzahra (penderita tumor ganas) di bagian pinggul belakang.

Sementara Sidik, isteri dan anaknya Siti Salsabila Kaimen (1,6 tahun) tidur di atas tikar, yang kadang harus di lantai karena tikarnya tidak cukup. Kamar kecil itu, juga menjadi dapur untuk isterinya menanak makanan.

Menurut Arini (28) anaknya Amira Azzahra Kaimen diserang kanker ganas ini sejak lahir. Benjolan yang menempel di bayi malang itu semakin membesar seiring bertambah usianya. Ketika bayi itu masih berusia satu bulan, benjolannya tidak terlalu tampak. Setelah melewati dua bulan lalu, benjolannya kian nampak dan membesar hingga kini.

Ia bersama suaminya ingin agar anaknya bisa diobati. Sembuh dan menikmati hari-hari bersama kakaknya, Siti Salsabila. Namun, keterbatasan ekonomi, membuat keduanya tak pernah ke rumah sakit atau dokter untuk memeriksa anaknya yang malang itu.

Arini yang ditemui tampak tenang bermain dengan kedua anaknya. Meski salah satu anaknya sedang sakit, Arini tak memperlihatkan kesedihannya ke orang lain. Anaknya diangkat dan dipeluk erat, ketika kami tiba di rumahnya. Saat diangkat, anaknya menangis. “Mungkin dia rasa sakit,” lirih Arini kepada wartawan.

Arini yang sederhana itu hanya berdoa, agar sekiranya ada dukungan dan uluran tangan dari donatur untuk memfasilitasi pengobatan anaknya, yang sudah kurang lebih 4 bulan menderita sakit tumor ganas.

Suaminya, Sidik menuturkan, pada bulan Agustus 2020 lalu, ia didatangi oleh Ketua PKK Provinsi Maluku, Wakil Ketua I TP-PKK Provinsi Maluku Betriks Orno, Kadis Kesehatan dr. Maykal Pontoh dan rombongan.

Ada harapan dari Sidik, kalau anaknya segera dibantu untuk pengobatan. Harapan Sidik makin menjadi, ketika dua hari berlalu dia didatangi tiga tamu tak diundang.


Tiga orang dengan pakaian batik, kata Sidik, mengaku dari pemerintah daerah untuk mengantarkan anaknya ke rumah sakit guna mendapatkan pengobatan. Tiga petugas yang bahkan tidak memperkenalkan dirinya menemui Sidik (ayah Amira Azzahra Kaimen), dan membawa mereka ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Haulussy, Kudamati, Kota Ambon guna mendapatkan perawatan medis.

Tiba di RSUD Haulussy, ketiganya lalu menjalani protokol kesehatan Covid-19. Hasilnya, Sidik dan Arini divonis negatif Covid-19. Sementara si bayi, Amira Azzahra Kaimen yang menderita tumor ganas itu justeru divonis positif.

“Saya ditanya pernah berkunjung ke mana. Didatangi siapa. Saya jawab, hanya didatangi oleh Ibu Gubernur dan Ibu Wakil Gubernur. Jadi, mana mungkin saya negatif, anak saya positif. Kan aneh. Padahal, kami dijemput untuk berobat oleh tiga pegawai itu di rumah sakit. Tapi, setelah berada di rumah sakit satu minggu, tidak ada pengobatan atau operasi,” beber Sidik, kepada wartawan.

Sidik mengaku dibohongi. Karena, setelah dijanjikan pengobatan sejak Agustus lalu sampai kini tak ada kelanjutannya.

Ia hanya pernah dibawa oleh tiga petugas itu ke RSUD Haulussy, dan diinapkan selama 1 minggu. Tiga petugas itu, kemudian mengambil foto dan memberikan uang 100 ribu rupiah, dan ditinggal pergi tanpa kembali.

Lantaran tak ada kabar dari tiga petugas itu, Sidik akhirnya memutuskan untuk keluar dari rumah sakit dan kembali ke kamar kosnya, karena takut akan ditagih biaya rumah sakit.

Bagaimana tidak, biaya untuk makan seharian saja Sidik tak punya. Uang hanya didapatkan saat menjadi juru parkir. Ketika anaknya sakit, Sidik semakin khawatir akan kehilangan pekerjaannya. Tak ayal, Sidik sepenuhnya hanya berdoa agar anaknya dapat disembuhkan. Isteri dan anaknya yang lain, bahkan tak lagi diperhatikan.

Sidik rela berjalan kaki dari RSUD Haulussy Kudamati hingga sampai ke kamar kosnya di Wara, Batumerah, asalkan anaknya dapat dirawat.

Pasalnya, Sidik saat anaknya dibawa ke rumah sakit, tak lagi punya uang. Uang 100 ribu yang diberikan tiga pegawai tak beralamat itu, hanya dapat digunakan untuk makan, yang sisanya diberikan kepada isterinya.

Satu pekan bertahan di rumah sakit tanpa biaya. Tanpa sanak saudara. Ia hanya mengandalkan nasibnya. Melihat tak ada perubahan dan perkembangan pelayanan, Sidik terpaksa angka kaki, mengajak isterinya untuk kembali ke kamar kost berukuran 2,5×2,5 meter di daerah Wara.

Sekian hari berlalu, Sidik dan isterinya Arini, hanya bisa berdoa untuk kesembuhan anaknya. Makanan didapatkan dari tetangga atau keluarganya yang hendak berkunjung. Tak ada susu untuk bayi. Dot berukuran kecil hanya diisi air putih.

Kamar kosnya tak ada kasur tidur. Hanya tikar plastik ukuran tripleks menjadi alas tempat tidur Sidik, Arini dan Siti Salsabila Kaimen (1,6) anak pertamanya. Sedangkan untuk tidurnya Amira Azzahra Kaimen dialaskan dengan sarung berwarna coklat.

Warga setempat yang merasa iba dengan kondisi Amira Azzahra, memutuskan untuk dipindahkan ke kamar kos yang lain. Saat ini, Amira Azzahra beserta kedua orang tuannya tinggal di kos-kosan di komplek Wara-wiri, Jalan Masjid Baitul Maqdis, Desa Batumerah, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon.

Informasi yang berhasil diperoleh Rakyat Maluku tadi malam, bahwa Tim Medis dari RSUD Haulussy tengah bekerja untuk menyiapkan hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan pengobatan Amira Azzahra. Pasalnya, Amira Azzahra Kaimen tidak dapat diobati di RSUD Haulussy, tapi harus dirujuk ke Jakarta.

“Jadi, pasiennya sudah periksa oleh dokter beda, kalau bayinya dalam kondisi stabil. Terlepas dari sakit tumornya itu. Saat ini, sedang diurus BPJS dan kartu keluarga sehingga proses pengurusannya di rumah sakit rujukan berjalan lancar. Karena dirujuk di luar, sehingga surat-suratnya harus disiapkan secara lengkap. Rencananya dirujuk di luar. Untuk biaya, mulai dari dokter pengantar, biaya pengobatan pasien, orang tua, semuanya ditanggung oleh pemerintah daerah. Jadi, semuanya sudah diproses. Sambil menunggu BPJS-nya aktif, mudah-mudahan 1 Oktober 2020 sudah bisa dibawa ke Jakarta untuk pengobatan,” jelas sumber tersebut. (WHL)


======================
--------------------

Berita Populer

To Top