OPINI

Andaikan Ini Ramadhan Terakhir Bagi Kita (2/Habis)

Sudarmo, SP, MSi

Bagaimana agar ibadah Ramadhan yang kita jalani kali ini lebih baik dari Ramadhan sebelumnya, tidak berlalu dengan sia-sia dan dipenuhi dengan segala produktivitas? Inilah beberapa kiat jitu agar ibadah Ramadhan kita lebih ‘berisi’ dan lebih bermanfaat:. Berikut ini bagian terakhir dari dua tulisan yang ditulis oleh Sudarmo, SP, MSi, politisi DPRD Maluku untuk Rakyat Maluku.

Oleh: Sudarmo, SP, MSi
Politisi DPRD Maluku

PERTAMA, Memperbanyak Doa. Sudah seharusnya kita mem­­per­banyak doa kita kepada Allah, baik itu sebe­lum, di saat, dan sesudah Ramadhan. Hal itu agar supaya kita dapat dipertemukan oleh Allah SWT de­ngan bulan Ra­madhan dalam kedaan sehat, berse­mangat dalam melakukan segala ma­cam ibadah dan amal-amal shalih yang lain saat Ramadhan, di­hin­darkan dari segala macam hal yang seki­ranya dapat menganggu atau mengurangi produktivitas kita dalam beribadah selama Ramadhan, dan tentunya dapat dipertemukan lagi oleh Allah dengan Ramadhan berikutnya.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik RA bahwasanya Rasulullah SAW semenjak memasuki bulan Rajab, beliau senantiasa berdoa: “Ya Allah, berikanlah keberkahan kepada kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikan umur kami di bulan Ramadhan”. (Hadits dho’if diriwayatkan oleh Ahmad dan Ath-Thabarani). Dan saat beliau SAW melihat munculnya hilal yang menjadi pertanda awal bulan, beliau berdo’a: “Allah Maha Besar! Ya Allah, jadikanlah hilal ini hilal yang membawa keamanan dan keimanan, keselamatan dan Islam, serta taufiq kepada segala hal yang dicintai dan diridhai Tuhan kami, Tuhan kami dan Tuhanmu adalah Allah” (H.R. Ahmad dan Ad-Darimi, redaksi yang dipergunakan adalah redaksinya, juga diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan dinilai shahih olehnya).

Diriwayatkan juga bahwa pada saat Ramadhan tiba, beliau SAW berdo’a: “Ya Allah, selamatkan aku untuk Ramadhan dan selamatkan Ramadhan untukku dan selamatkan dia sebagai amal yang diterima untukku.” (HR Ath-Thabarani dan Ad-Dailami)

Tidak hanya berdo’a saat memasuki Ramadhan. Selama di dalam bulan mulia tersebut, do’a-do’a hendaknya semakin banyak dimohonkan. Dalam rangkaian ayat-ayat al qur’an tentang puasa, Allah juga merangkaikan dengan kedekatanNya dengan para hambaNya. “Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jaawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yeng berdoa apabila ia berdoa kepadaKu, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku dan hendaklah mereka beriman kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS. 2 : 187).

Hakikat agung yang terkandung di dalam ayat tersebut antara lain adalah bahwa Allah SWT mendorong kita untuk bermunajat dan memohon kepadaNya pada saat jiwa dalam keadaan paling dekat kepada Rabb-Nya. Oleh karena itu, Ramadhan adalah bulan munajat dan prmohonan. Hendaklah ummat Islam bermunajat dan bermohon kepadaNya untuk kebaikan diri, kelaurga, bangsa dan negara dan dunia. Inilah saat-saat tepat untuk memohon kepadaNya.

Setelah kita berdoa dan doa kita dikabulkan Allah SWT, hendaklah kita istiqamah (konsisten) dengan apa yang kita minta serta tidak mengikuti jalan orang-orang yang tidak berilmu, sebagaimana tersebut dalam cerita nabi Musa dan Harun -’alaihima al-salam-. Allah SWT menceritakan kejadian itu dalam firman-Nya: “Allah berfirman: “Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua, sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus dan janganlah sekali-kali kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui”. (Q.S. Yunus: 89).

Kedua, memperbanyak pujian dan syukur kepada Allah SWT yang telah memberi kesempatan kepada kita untuk bertemu Ramadhan. Imam Nawawi berkata: “Disunnatkan bagi siapa saja yang mendapat kenikmatan baru yang tampak jelas atau bagi yang terhindar dari cobaan yang tampak jelas untuk melakukan sujud syukur atau memperbanyak pujian kepada Allah”. Dan merupakan kenikmatan terbesar saat kita mendapatkan taufiq untuk melakukan ketaatan, dan saat kita memasuki Ramadhan dalam keadaan sehat wal afiat adalah sebuah kenikmatan besar yang patut kita ekspressikan dengan memperbanyak pujian dan rasa syukur kepada Allah SWT.

Ketiga, bergembira dan ceria atas kedatangan Ramadhan. Tersebut dalam hadits bahwa Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- menyampaikan berita gembira kepada para sahabat tentang kedatangan bulan Ramadhan. “Dari Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu- ia berkata: Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- saat Ramadhan tiba bersabda: “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, Allah telah wajibkan atas kalian puasa di siang harinya, pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan syetan-syetan dibelenggu, pada bulan ini ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, siapa yang terhalang dari kebaikannya berarti ia telah benar-benar terhalang” (H.R. Ahmad). Begitu juga para salafush-shalih, mereka menampakkan ekspresi kegembiraan yang berlebih bila bulan Ramadhan tiba.

Keempat, menyusun perencaan yang baik untuk optimalisasi Ramadhan. Banyak orang menyusun rencana matang dan rinci untuk urusan dunianya, namun, sering sekali lupa menyusun rencana yang baik untuk akhiratnya. Ini pertanda bahwa mereka belum memahami dengan baik misi hidupnya. Karenanya, banyak peluang kebaikan luput dari mereka. Mengingat Ramadhan banyak menjanjikan berbagai kebaikan, sudah selayaknya bila seorang muslim memiliki rencana yang matang dalam hal ini.

Cantumkan langkah-langkah aktivitas yang harus dilakukan setiap hari, mulai bangun tidur, membaca dzikir setiap pagi hari, membaca Al-Qur’an, bekerja, belajar, shalat jamaah, membantu orang tua, dan sebagainya. Tujuannya agar segala yang hendak kita lakukan menjadi lebih terencana, fokus, dan terarah. Kita juga akan menjadi lebih mudah dalam melakukan evaluasi atau muhasabah terhadap kuantitas dan kualitas kegiatan maupun ibadah yang dilakukan agar esoknya kegiatan maupun ibadah yang hendak kita lakukan menjadi lebih baik lagi dibanding hari itu. Seperti ungkapan Amirul Mukminin Umar bin Khattab, “Hisablah dirimu sebelum engkau dihisab pada hari kiamat!”

Kelima, bertekad dengan sungguh-sungguh untuk optimalisasi Ramadhan, mengisi waktu-waktunya dengan berbagai amal shalih. Siapa yang berazam dengan sesungguhnya kepada Allah SWT niscaya Dia akan sungguh-sungguh pula dalam merealisasikan tekadnya serta memberi pertolongan kepadanya untuk berbuat taat dan memudahkan berbagai jalan kebaikan.

Perlu kita menanamkan pikiran atau anggapan ke dalam mindset kita bahwa Ramadhan tahun ini merupakan Ramadhan terakhir yang kita jalani dan belum tentu ada jaminan bahwa kita akan bertemu lagi dengan Ramadhan selanjutnya, maka tentunya kita tak akan menyia-nyiakan waktu yang ada barang sedetik pun untuk hal-hal yang kurang berguna atau sia-sia. Kita pasti akan mengoptimalkan waktu-waktu selama Ramadhan dengan sebaik-baiknya dan tak akan membiarkannya berlalu begitu saja. Camkan dalam pikiran dan lubuk hati kita, bahwa apabila kita kehilangan momentum Ramadhan kali ini, berarti kita telah kehilangan momentum emas yang sangat berharga untuk menyucikan dan membersihkan diri kita dari segala genangan lumpur dosa dan maksiat.

Keenam, mengkaji ilmu dan pemahaman yang baik terhadap hukum-hukum Ramadhan. Adalah kewajiban setiap mukmin untuk beribadah kepada Alalh SWT atas dasar ilmu dan pemahaman, dan tidak ada alasan untuk tidak mengetahui kewajiban-kewajiban yang telah Allah SWT fardhukan atas hamba-hamba-Nya. Termasuk dalam hal ini adalah puasa Ramadhan. Karenanya, seyogyanya setiap muslim mengetahui masalah-masalah puasa dan hukum-hukumnya sebelum bulan puasa itu datang, agar puasa yang dia lakukan menjadi sah dan diterima di sisi Allah SWT.

Jika kita sering berada di lingkungan yang kondisinya menumbuhkan semangat kita untuk beribadah kepada Allah, maka hal itu akan sangat memudahkan kita dalam melakukan berbagai amaliyah kebaikan. Memperbanyak shalat di masjid, memperbanyak berdiskusi dengan rekan-rekan yang mengingatkan pada hal-hal yang bermanfaat dan kebaikan, serta bertemu dan bergaul dengan orang-orang shalih akan memberi suplai semangat dan tenaga baru dalam jiwa kita untuk melakukan ketaatan.

Ketujuh, bertekad kuat untuk meninggalkan dosa dan keburukan, serta taubat yang benar dari segala kemaksiatan. Mencabut diri dari perbuatan buruk serta tidak akan kembali kepadanya, sebab bulan Ramadhan adalah syahrut-taubah (bulan taubat), oleh karena itu, siapa saja yang tidak bertaubat pada bulan tersebut, kapan lagi ia akan bertaubat? Sebisa mungkin, kita sebaiknya mengurangi atau menghindari aktivitas yang hanya bernuansa hiburan yang tidak memiliki kaitan dengan ibadah di bulan Ramadhan, seperti misalnya menonton TV, film, mendengarkan lagu-lagu yang melalaikan diri kita dari beribadah kepada Allah, hangout, bermain musik, dan lain sebagainya. Pandangan mata, pendengaran telinga, dan segala aktivitas lahiriah akan sangat mempengaruhi kualitas ibadah dan amal sholeh yang kita lakukan.

Kedelapan, berusahalah untuk berada di masjid di waktu malam, terutama di sepuluh hari terakhir, agar kita bisa lebih berkonsentrasi beribadah dan menghidupkan malam dengan segala bentuk peribadatan kepada Allah.

Sesungguhnya sepuluh hari terakhir adalah detik-detik perpisahan kita dengan Ramadhan yang sangat mulia dan dirindukan, karenanya saat itulah kita harus lebih memanfaatkan dan mengoptimalkannya sebaik mungkin.

Dari sejumlah kiat untuk mengoptimalkan aktivitas Ramadhan, maka insyaAllah akan menjadikan Ramadhan kita dari tahun ke tahun akan lebih baik. Ramadhan dengan segala kemuliaan dan keutamaannya telah dipilih oleh Allah bagi hambaNya. Ramadhan merupakan kesempatan emas yang diberikan oleh Allah agar kita semua bisa saling berlomba-lomba dalam meraih maghfiroh, pahala, dan ampunan yang “diobral” olehNya.

Jangan sampai kita melewatkannya dan menyia-nyiakannya. Jika ada yang menawari dengan gunung emas agar bersegera mengambil, masihkah ada yang menyiakan-nyiakanya? Tentulah kita pasti akan memanfaatkannya dan tidak akan melewatkannya begitu saja, karena kesempatan yang sama tidak akan terulang dua kali. Maka dari itu, marilah kita isi Ramadhan tahun ini dengan amalan terbaik kita. Ayo lebih baik amaliyah Ramadhan kita tahun ini. Karena boleh jadi Ramadhan tahun ini adalah Ramadhan terakhir bagi kita. Wa allahu a’lam bishawab. (*)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top