NEWS UPDATE

Assagaff Mendukung Pengelolaan Rempah-Rempah Di Maluku

Rakyatmaluku.com – SEKOLAH Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Hatta-Sjahrir (STKIP-HS) menggelar Seminar Nasional bertajuk “Rempah dan Jaringan Perdagangan Global” di Gedung Aula Des Alwi STKIP-HS, Banda Naira.

PADA kesempatan itu hadir juga Said Assagaff selaku tokoh masyarakat Banda. Said Assagaff menyatakan dukungan penuhnya terhadap kegia­tan-kegiatan seperti ini. Menurut Said Assagaff, pemerintah pusat sangat menaruh perhatian serius perihal rempah. Bahkan telah menyediakan sekitar 100 miliar rupiah untuk pengelolaan rempah-rempah di Maluku.

Saat ini, kata calon gubernur Maluku petahana itu, ada dana yang telah masuk pada kas provinsi untuk tata kelola rempah pala dan cengkih. “Karena itu pentingnya kegiatan seminar ini sebagai bagian tak terpisahkan dalam tata kelola rempah itu sendiri. Saya juga pihak Bank Maluku mendukung penuh penda­naan kegiatan serupa di tahun mendatang,” tan­das Assagaff.

Dalam seminar itu, hadir sebagai pembicara, Dr. Abdul Latif Bustami, M.Si, salah satu Tim Ahli Pene­tapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia (In­donesian Intangible Cultural Heritage) dari Kemen­terian Pendidikan dan Kebudayaan.

Abdul Latif mengungkapkan, keberadaan orang Banda secara historis sampai hari ini menunjukkan adanya kontestasi, dekonstruksi, dan revitalisasi. Nilai budaya Banda yang dipraktikkan saat ini adalah hasil dari “Bandanisasi” yaitu proses per­jumpaaan dengan budaya luar yang intens dan fluktuatif, kemudian mengalami dekontruksi oleh kolonialisme sehingga memunculkan sikap-sikap perlawanan rakyat yang dikekalkan dalam berbagai ritus budaya.

Historisitas Banda itu, lanjut Latif, meniscayakan adanya upaya revitalisasi budaya demi kemajuan dan pelestarian. Artinya, orang Banda secara sadar telah memaknai sejarah bukan hanya sebagai cerita nenek moyang masa lalu, melainkan sebagai sebuah identitas dirinya sendiri. Strategi reviltalisasi itulah menurut Latif yang kemudian dikonkretkan dalam draft usulan penetapan Banda sebagai kawasan warisan budaya dunia yang dilakukan orang Banda saat ini. Fakta ini sekaligus menunjukkan betapa pentingnya orang Banda berperan sebagai aktor bagi kemajuan budaya mereka.

Senada dengan itu, Ketua STKIP Hatta-Sjahrir Banda, Dr. Usman Thalib, M.Hum., yang juga Pembicara Utama Seminar, menegaskan sinergitas antara ilmuan sejarah bersama pemerintah dan instansi terkait merupakan hal penting dalam upaya mewujudkan cita-cita bersama menjadikan sejarah bukan semata konsumsi para ilmuan, tapi menjadi kebutuhan masyarakat, khususnya orang Banda.

Seminar ini juga dihadiri pejabat Kopertis Wilayah XII, Kepala Bagian Administrasi Umum, Cak Sinay, mewakili Koordinator Kopertis XII untuk membuka acara seminar. Dalam sambutannya, Sinay menungkapkan apresiasi yang tinggi dari pimpinan Kopertis kepada panitia dan sivitas akademik Hatta-Sjahrir yang telah berinisiasi membuat kegiatan berskala nasional itu.

Menurutnya, Kampus Hatta-Sjahrir adalah kampus resmi berdiri dengan SK Kemenristekdikti dan telah terakreditasi telah membuktikan konsis­tensinya dalam peningkatan kualitas akademik sumberdaya melalui seminar nasional ini. Pen­capaian ini seharusnya mendapat perhatian dan dukungan serius dari peme­rintah provinsi Maluku.

Kegiatan Seminar Nasional berlangsung sangat meriah. Diawali tarian selamat datang dari sanggar Hatta-Sjahrir, dan dibuka dengan pemukulan gong oleh Pejabat Kopertis XII didampingi Pembina dan Ketua Yayasan Warisan Budaya, Ketua STKIP, dan Said Assegaf, selaku tokoh masyarakat Banda. Kegiatan ditutup, Kamis 3 Mei 2018 dengan acara tour keliling situs-situs bersejarah di Kota Naira.

Menurut ketua Panitia, Dr. Muhammad Farid, Seminar ini adalah kegiatan perdana berskala nasio­nal, tapi antusiasme peserta yang mencapai 100 orang lebih, diikuti pemakalah nasional dari 10 perguruan tinggi, tamu undangan dari berbagai instansi, dan banyaknya dukungan sponsor, membuat pihak panitia percaya diri untuk kegiatan mendatang.

“Saya harus berterimakasih kepada banyak pihak, karena tanpa mereka kegiatan ini mungkin tidak pernah ada. Terimakasih kepada Pemda Kabupaten Malteng, Bank BRI cabang Ambon, Bank Indonesia Maluku, dan Hotel Cilubintang Banda. Juga kepada pribadi-pribadi orang Banda yang turut membantu finansial kegiatan ini, seperti; H. Mansur, H. Iskandar, dan sahabat saya Rizal Bahalwan,” kata Farid.

Farid berharap semoga dukungan sponsor di kegiatan mendatang lebih banyak agar seminar nasional dapat diagendakan sebagai kegiatan rutin akademik setiap tahun. Ia bahkan mengatakan, “Kita sangat siap menyelenggarakan seminar berskala internasional di Banda tahun depan, selama didukung penuh pemerintah, swasta, dan masyarakat. Tidak ada yang mustahil. Doakan saja,” tandasnya. (YAS)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top