NEWS UPDATE

Berkhalwat Bersama Pemilik Jagad

Oleh : Sudarmo, SP, MSi, Anggota Fraksi PKS DPRD Maluku

DI hari-hari jelang akhir bulan Ramadhan, kesibukan kaum mu’minin semakin meningkat. Kesibukan itu ada yang berhubungan dengan akan berakhirnya bulan Ramadhan namun ada pula yang menjadi rutinitas sebagai aktivitas biasa. 

Secara umum kesibukan yang berhubungan dengan menjelang akhir Ramadhan adalah mulai persiapan membersihkan rumah, persiapan belanja busana, persiapan jadwal keberangkatan mudik hari raya, hingga merencanakan dan menata menu makanan di hari raya. 

Seakan-akan ada yang dilupakan bahwa “tamu agung” yang semula ditunggu-tunggu dan disambut gembira kedatangannya, tak lama lagi akan meninggalkannya.

Adalah Rasulullah SAW, sang suri teladan, bersama-sama para sahabat yang justru menyibukan diri di akhir bulan Ramadhan untuk “berkhalwat bersama pemilik jagad”. Beliau SAW bersama para sahabat melakukan I’tikaf sepuluh hari terakhir di setiap bulan Ramadhan hingga Beliau SAW wafat. 

Dalam konteks i’tikaf yang dilaksanakan pada bulan Ramadhan, Rasulullah SAW –“berkhalwat”- memperbanyak intensitas penghambaan kepada Allah SWT, dan mengosongkan jiwa, raga, serta pikirannya, dari hal-hal yang bersifat duniawi. 

Selain itu biasanya Rasulullah SAW senantiasa membangunkan keluarganya untuk ikut meningkatkan kualitas penghambaan kepada Allah SWT. 

Sebagaimana diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar RA, bahwasannya “Rasulullah SAW senantiasa melaksanakan i’tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadan yang beliau dapati” (HR. Bukhari).

Dalam riwayat lain, Aisyah radhiyaallahu anha mendeskripsikan tingkat intensitas ibadah yang di lakukan Rasulullah SAW pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, Aisyah RA berkata “Bahwasannya Rasulullah SAW jika memasuki sepuluh hari terakhir dibulan Ramadan senantiasa menghidupkan malam-malamnya, membangunkan istri-istrinya, serta mengencangkan sarungnya” (HR. Bukhari)

Maksud dari ucapan Aisyah RA “menghidupkan malam-malamnya” yaitu mengisi malam-malam terakhir bulan Ramadan dengan ibadah-ibadah yang meningkatkan kedekatan beliau dengan sang Khaliq. 

Sedangkan, ungkapan “mengencangkan sarungnya” merupakan sebuah metafora yang menggambarkan keuletan Rasulullah SAW dalam melaksanakan ibadah-ibadah wajib maupun sunnah pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan.

Secara literal (lughatan), kata I’tikaf berarti memenjarakan. I’tikaf menurut bahasa berarti menetap, mengurung diri, terhalangi atau tetap di atas sesuatu. Ada juga yang mendefinisikannya dengan: “Menahan diri dari berbagai kegiatan yang rutin dikerjakan”. 

Dalam terminologi syar’i (syar’an), para ulama berbeda-beda dalam mendefinisikan i’tikaf  dikarenakan perbedaan pandangan dalam penentuan syarat dan rukun i’tikaf. Namun, kita bisa memberikan definisi yang umum bahwa i’tikaf adalah: “Berdiam diri di dalam masjid untuk beribadah kepada Allah yang dilakukan oleh orang tertentu dengan tata cara tertentu”.

Ibnul Mundzir mengatakan, “Para ulama sepakat bahwa i’tikaf itu sunnah, bukan wajib kecuali jika seseorang mewajibkan bagi dirinya bernadzar untuk melaksanakan i’tikaf.” Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf pada bulan Ramadhan selama sepuluh hari. Namun pada tahun wafatnya, Beliau beri’tikaf selama dua puluh hari”.

Menurut mayoritas ulama, i’tikaf disyari’atkan di semua masjid karena keumuman firman Allah di atas (yang artinya) “Sedang kamu beri’tikaf dalam masjid”.  Imam Bukhari membawakan Bab dalam kitab Shahihnya, “I’tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramdhan dan i’tikaf di seluruh masjid.” Ibnu Hajar menyatakan, “Ayat tersebut (surat Al Baqarah ayat 187) menyebutkan disyaratkannya masjid, tanpa dikhususkan masjid tertentu”. 

Imam Malik mengatakan bahwa i’tikaf boleh dilakukan di masjid mana saja (asal ditegakkan shalat lima waktu di sana, pen) karena keumuman firman Allah Ta’ala, “sedang kamu beri’tikaf dalam masjid” (QS. Al Baqarah: 187). Ini juga menjadi pendapat Imam Asy Syafi’i. Namun Imam Asy Syafi’i rahimahullah menambahkan syarat, yaitu masjid tersebut diadakan juga shalat Jum’at. 

Tujuannya di sini adalah agar ketika pelaksanaan shalat Jum’at, orang yang beri’tikaf tidak perlu keluar dari masjid.

Kenapa disyaratkan di masjid yang ditegakkan shalat jama’ah? Ibnu Qudamah katakan, “Shalat jama’ah itu wajib (bagi laki-laki). Jika seorang laki-laki yang hendak melaksanakan i’tikaf tidak berdiam di masjid yang tidak ditegakkan shalat jama’ah, maka bisa terjadi dua dampak negatif: (1) meninggalkan shalat jama’ah yang hukumnya wajib, dan (2) terus menerus keluar dari tempat i’tikaf padahal seperti ini bisa saja dihindari. 

Jika semacam ini yang terjadi, maka ini sama saja tidak i’tikaf. Padahal maksud i’tikaf adalah untuk menetap dalam rangka melaksanakan ibadah pada Allah.”

I’tikaf tidak hanya dilakukan oleh laki-laki, namun kaum wanita juga boleh I’tikaf di masjid. 

Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan istri beliau untuk beri’tikaf.  ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa beri’tikaf pada bulan Ramadhan. Apabila selesai dari shalat shubuh, beliau masuk ke tempat khusus i’tikaf beliau. Dia (Yahya bin Sa’id) berkata: Kemudian ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha meminta izin untuk bisa beri’tikaf bersama beliau, maka beliau mengizinkannya.” 

Namun wanita boleh beri’tikaf di masjid asalkan memenuhi 2 syarat: (1) Meminta izin suami dan (2) Tidak menimbulkan fitnah (godaan bagi laki-laki) sehingga wanita yang i’tikaf harus benar-benar menutup aurat dengan sempurna dan juga tidak memakai wewangian.

Pada dasarnya, seluruh peribadatan yang disyari’atkan dalam Islam pasti memiliki hikmah, baik itu diketahui oleh hamba maupun tidak. 

Demikian juga ibadah i’tikaf ini, tentu mengandung hikmah. Hikmah yang terkandung di dalamnya berusaha diuraikan oleh imam Ibn al-Qayyim rahimahullah dalam kitab Zaadul Ma’ad. Beliau mengatakan, “Allah mensyariatkan i’tikaf bagi mereka yang bertujuan agar hati dan kekuatannya fokus untuk beribadah kepada-Nya, berkhalwat dengan-Nya, memutus diri dari kesibukan dengan makhluk dan hanya sibuk menghadap kepada-Nya. 

Sehingga, berdzikir, kecintaan, dan menghadap kepada-Nya menjadi ganti semua faktor yang mampu memperkeruh hati. 

Begitupula, kesedihan dan kekeruhan hati justru akan akan terhapus dengan mengingat-Nya dan berfikir bagaimana cara untuk meraih ridha-Nya dan bagaimana melakukan amalan yang mampu mendekatkan diri kepada-Nya. 

Berkhalwat dengan-Nya menjadi ganti dari kelembutannya terhadap makhluk, yang menyebabkan dia berbuat demikian adalah karena (mengharapkan) kelembutan-Nya pada hari yang mengerikan di alam kubur, tatkala tidak ada lagi yang mampu berbuat lembut kepadanya dan tidak ada lagi yang mampu menolong (dirinya) selain Allah. Inilah maksud dari i’tikaf yang agung itu.”. Wa allahu a’lam bi shawab… (***)

 

======================
--------------------

Berita Populer

To Top