KABUPATEN SBB

Bermasalah, RS Pratama SBB Sepi

RAKYATMALUKU.COM – SBB,- Selain pembangun gedungnya bermasalah, hingga kini Rumah Sakit (RS) Pratama Seram Bagian Barat (SBB) di Desa Waisala Kecamatan Huamual Belakang masih sepi dari aktivitas. Belum ada pelayanan kesehatan di rumah sakit yang dianggarkan Rp15,5 miliar itu.


Bagaimana tidak, sejak penetapan Ahmad Taniloton sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Rumah Sakit sampai penetapan Ahamat Lontor Sp sebagai direktur definitif pada 31 Agustus 2020, rumah sakit ini belum juga berfungsi.

Pantauan Rakyat Maluku, Senin 28 September 2020, rumah sakit ini terlihat sangat sepi. Tenaga medis pun tidak terlihat sama sekali.

Selain itu, ada sebagian dinding bangunan yang sudah retak. Jaringan listrik pun belum teraliri, karena selain tidak ada lampu yang menyala, meteran pun belum terpasang. Jaringan air belum berfungsi dan terlihat banyak kotoran yang menumpuk, belum lagi ilalang sudah tumbuh di mana-mana.

Salah satu warga Waisala yang diwawancarai koran ini menyebutkan, sejak selesai dibangun tahun 2018 lalu, sampai saat ini belum ada aktivitas apapun di rumah sakit itu.
”Bagaimana aktivitas mau berjalan, fasilitas saja belum lengkap, belum ada tenaga medis dan dokter yang disediakan untuk lakukan pelayanan. Alat-alat kesehatan juga belum ditata deng baik untuk masing-masing ruangan yang ada. Fasilitas penunjang seperti listrik dan air saja belum ada,” kata warga Waisala yang minta namanya tidak dikorankan itu.

Anehnya, Kepala Dinas Kesehatan SBB, Anis Tapang yang dikonfirmasi melalui saluran telepon mengatakan bahwa aktivitas di rumah sakit yang dikerjakan PT. Beringin Dua pada Agustus 2017 dan baru selesai dikerjakan pada Oktober 2018 itu sudah berjalan. ”Sudah berkantor direkturnya sudah dilantik dan tiap hari ada aktivitas perkantoran. Semua berjalan seperti biasa dan direkturnya selalu stay di sana,” jelas Tapang.

Diduga, amburadulnya pembangunan Rumah Sakit Paratama itu menjadi penyebab rumah sakit itu belum dioperasikan hingga kini.

Saat proyek tersebut dikerjakan, kontraktor PT Beringin Dua yang beralamat di Jl Kapitan Pattimura, Kelurahan Anpera, Masohi, Kabupaten Maluku Tengah, terkesan tidak mampu menyelesaikannya. Agar tidak dirundung masalah, kontraktor lalu mengajukan addendum kontrak. Tercatat ada empat kali addendum yang diusulkan, hingga berakhir 19 Oktober 2018.

Lembaga Informasi Rakyat (LIRA) Maluku, mengungkapkan, waktu yang digunakan untuk pekerjaan proyek ini sejak awal kontrak seluruhannya hanya 430 hari. ”Ini pertanda bahwa kontraktor pelaksana tidak punya keahlian khusus untuk kerjakan proyek senilai miliaran rupiah. Bukan itu saja, panitia lelang juga tidak profesional dalam menentukan pemenang untuk proyek ini. Akibatnya pekerjaan yang terjadi di lapangan amburadul,” kata Direktur LIRA Maluku, Jan Sariwating.

Menurutnya, walaupun proyek ini telah dibayar seratus persen, namun masih ada kekurangan volume pada item-item yang berujung pada berkurangnya mutu dan kualitas dari bangunan. ”Ada 13 item yang dikerjakan tidak sesuai kontrak. Diantaranya pembangunan gedung gawat darurat, ruang operasi, ICU, rawat inap, instalasi farmasi dan lain-lain,” tambah Jan.

Selain itu, kata Jan Sariwating, diduga juga terjadi kekurangan pasir urugan di bawah pondasi, kekurangan pasangan pondasi batu kali serta kekurangan pemasangan batako. ”Pokoknya banyak yang kurang. Ada juga kekurangan volume untuk pekerjaan plafon, rangka plafon, cat plafon serta bagian lain yang diduga bisa mengakibatkan umur bangunan semakin pendek. Apalagi, lokasi dikelilingi hutan serta berdekatan dengan pantai,” ujar Sariwating.

Menurut dia, negara dirugikan milaran rupiah karena kekurangan volume pekerjaan. ”Uang miliaran itu adalah kelebihan yang terlanjur dibayar kepada kontraktor, sehingga harus disetor kembali ke kas daerah,” tegas Jan. (SBB-01/NAM)


======================
--------------------

Berita Populer

To Top